Selasa, 23 September 2014 Waktu UTC: 16:22

Menteri Lingkungan 6 Negara Asia Bahas Kerjasama Wilayah Sungai Mekong

Para menteri lingkungan dari enam negara Asia bertemu di Phnom Penh untuk memfinalisasi bagaimana mereka akan bekerja sama untuk menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan perlindungan lingkungan di kawasan yang punya salah satu sungai terpanjang di dunia dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia.

Dengan perahu-perahu kayu warga Kamboja memancing di Sungai Mekong, yang merupakan salah satu sumber perikanan air tawar terkaya di dunia.
Dengan perahu-perahu kayu warga Kamboja memancing di Sungai Mekong, yang merupakan salah satu sumber perikanan air tawar terkaya di dunia.
Robert Carmichael

Tahun 2005 negara-negara yang dialiri Sungai Mekong yang panjangnya 4.800 kilometer membentuk rencana lima tahun pertama untuk mengupayakan bersama penyeimbangan perlindungan lingkungan dengan pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

Program 30 juta dolar itu, yang bernama Program Perlindungan Lingkungan Inti dan Prakarsa Perlindungan Keanekaragaman Hayati, akan berakhir bulan Desember. Keenam negara di sub-kawasan Mekong Besar itu adalah Tiongkok, Birma, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Para menteri lingkungan negara-negara itu pada prinsipnya mendukung perpanjangan program itu sampai 2016.

Persetujuan resmi rencana itu diperkirakan akan diumumkan bulan Desember.

Pakar sumber-sumber alam utama pada Bank Pembangunan Asia (ADB) yang mengatur program itu, Sanath Ranawana, menjelaskan bagaimana pentingnya perundingan seperti itu bagi puluhan juta orang.

Ia mengatakan, “Sub-kawasan Mekong Besar adalah wilayah yang sangat cepat berkembang. Potensi pertumbuhan di sini luar biasa besar, negara-negara seperti Tiongkok, negara-negara tetangga, seprti Indonesia atau India, yang punya permintaan besar akan sumber-sumber dan produk-produk dari kawasan ini. Jadi program ini benar-benar penting dan mendesak bagi penyeimbangan apa yang mungkin dilakukan kawasan ini pada masa depan dengan bagaimana program itu bisa mengelola sumber-sumber dalam cara yang berkesinambungan.”

Sungai Mekong dan anak-anak sungainya adalah salah satu sumber perikanan air tawar terkaya di dunia, tetapi para pakar lingkungan mengingatkan wilayah itu terancam oleh polusi dan bendungan-bendungan air yang baru.

Arti penting Sungai Mekong bagi Kamboja disoroti oleh Perdana Menteri Hun Sen yang dalam pertemuan hari Kamis itu mengatakan bahwa mengelola sumber-sumber air sungai itu adalah “masalah hidup dan mati” bagi warga yang tergantung pada sungai itu.

Laos juga memandang sungai itu sebagai kunci untuk mendukung perekonomian negaranya dengan menghasilkan listerik dari bendungan tenaga air di kawasan yang sangat kekuarangan energi itu.

Sanath Ranawana mengatakan bahwa mengaitkan program-program energi dengan lingkungan hidup merupakan bagian penting tahap kedua program itu. Program itu juga mengaitkan lingkungan dengan keputusan-keputusan investasi di bidang-bidang penting lainnya, seperti pertanian, pariwisata dan perhubungan.

Di Bali minggu lalu Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengatakan dalam forum Regional ASEAN bahwa Amerika bekerjasama dengan ADB dan Uni Eropa untuk perbaikan infrastruktur dan lingkungan di Hulu Mekong. Ia juga menghimbau ditundanya pembangunan semua bendungan baru sampai penghitungan dampak lingkungan sepenuhnya selesai.

Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda