Sabtu, 22 Nopember 2014 Waktu UTC: 02:53

Berita / Indonesia

Diskusi Irshad Manji di Yogyakarta Dibubarkan

Diskusi yang menghadirkan tokoh feminis Kanada, Irshad Manji di Yogyakarta, dibubarkan paksa setelah ratusan anggota berbagai ormas memprotes penyelenggaraan diskusi tersebut.

Feminis Kanada, Irshad Manji mempertanyakan kebebasan berbicara di Indonesia setelah acara diskusi di UGM Yogyakarta dibubarkan paksa (foto: dok).
Feminis Kanada, Irshad Manji mempertanyakan kebebasan berbicara di Indonesia setelah acara diskusi di UGM Yogyakarta dibubarkan paksa (foto: dok).
Nurhadi Sucahyo
Pembubaran diskusi yang seharusnya diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dipicu oleh surat rektor kampus tersebut, yang meminta diskusi tidak dilanjutkan. Penyebabnya, pada Selasa malam kemarin, ratusan anggota berbagai organisasi kemasyarakatan datang ke kampus, untuk mempertanyakan penyelenggaraan diskusi tersebut.

Hari Rabu pagi, puluhan aktivis dakwah Kampus UGM juga menggelar aksi penolakan ketika diskusi akan dimulai. Rentetan aksi penolakan itulah yang membuat Irshad Manji akhirnya memilih untuk mengalah.

Meskipun begitu, kepada peserta diskusi yang telah datang, sesaat sebelum pembubaran paksa, Irshad Manji berharap Indonesia mestinya bisa merespon kedatangannya dengan lebih terbuka. Dengan ekspresi kekecewaan, dia mengungkapkan keheranannya, karena empat tahun lalu dia datang ke UGM dan disambut dengan baik, tetapi kali ini ditolak dengan keras.

"Empat tahun kemudian saya menulis sebuah buku dengan kata-kata Allah, Kebebasan, dan Cinta sebagai judulnya. Tidak hanya mengalami aksi kekerasan di Jakarta, tetapi kemarin kegiatan kami di Solo digagalkan dan di sini di Universitas yang menerima saya dengan sangat baik empat tahun yang lalu, pimpinan universitas yang sekarang justru menutup kegiatan ini," ungkap Irshad Manji.

Ia menambahkan, "Jika kita tidak memiliki kebebasan berekspresi, kebebasan berbicara dan kebebasan berpikir, maka kita tidak akan memperoleh pendidikan, yang kita dapat adalah indoktrinasi. Dan Indonesia semestinya lebih dari ini, Anda telah menunjukkan bahwa kita bisa lebih baik dari ini."

Sementara itu, puluhan mahasiswa aktivis dakwah kampus yang menggelar aksi penolakan menilai, Irshad Manji adalah penyebar ide kebebasan hubungan sesama jenis.

Menurut koordinator aksi penolakan dari mahasiswa Hizbut Tahrir Indonesia, Yayan, hubungan sesama jenis berbahaya dan tidak sesuai dengan tata nilai masyarakat. Irshad Manji juga dianggap tidak memiliki ijin untuk berbicara dalam forum resmi di Indonesia.

"Mereka datang ke Indonesia itu dalam rangka untuk mengkampanyekan ide perkawinan sejenis, lesbian atau homoseks. Nah ide ini berbahaya, kalau ini berkembang di masyarakat ini akan menjadi senjata bagi mereka, peluru bagi mereka, untuk dibawa ke DPR untuk kemudian disahkan Undang-Undang sesama jenis di Indonesia. Ini akan merusak tatanan kehidupan keluarga di Indonesia yang sampai saat ini masih dijaga oleh rakyat Indonesia," papar Yayan.
 
Dalam keterangan resmi, pihak UGM melalui juru bicaranya, Wijayanti, menegaskan tidak pernah menolak kedatangan Irshad Manji. Permintaan untuk membatalkan acara diskusi disebabkan oleh adanya tekanan ratusan massa pada Selasa malam dan kewajiban UGM untuk menjamin keamanan tamu dan seluruh warga kampus.

UGM tetap berkomitmen untuk menegakkan kebebasan akademik, namun perlu dukungan dari semua pihak dalam pelaksanaannya agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar halaman dari 3
    Berikutnya 
oleh: Anunya dari: Di Mana Saja
18.05.2012 02:30
Budaya kultus kekuasaan laki laki yang melahirkan agama semacam itu membentuk piramida sosial demi membagi kekuasaan. Bagi lembaga agama, piramida tsb dibentuk demi mengusir ketakutan kehilangan kekuasaan yg lebih besar lagi. Piramida sosial semacam itu ada di berbagai tingkatan mulai dari petani dengan tuan tanahnya, suku dengan kepala sukunya, militer dengan jendral perangnya dan kerajaan dengan rajanya. Kultus laki laki spt itu membutuhkan rumah ibadah yg dibangun oleh rakyat jelata atas biaya dan perintah raja. Rumah ibadah yg besar kemudian difungsikan sebagai perpustakaan di mana organisasasi para imam berada di balik penulisan kitab suci agama yg dibiayai oleh raja dan kemudian dikanunkan oleh sang raja sebagai sumber otoritas dan alat pembenar kekuasaan mereka. Maka mengembalikan logika kekuasaan laki laki semacam itu, kebudayaan manusia hari ini mewarisi agama.


oleh: Faisal dari: Dunia fana
16.05.2012 16:43
Orang sudah jelas-jelas melakukan dosa (lesbian) terus menerus, kenapa kita jadikan narasumber diskusi islam? Go away! Kalau mau memperkenalkan islam silakan di negaranya.


oleh: aldomargo dari: madinah munnawara
14.05.2012 09:31
irshad manji itu generasi perusak dunia,kalau itu di biarin di indonesia maka tatanan kehidupan akan hancur,saya sangat setuju sekali,karna sebelum penyakit itu datang memang harus kita basmi,negara kita negara beragama dan dia orang yg tak beragama,jangankan diskusi pemerintah harus melarang untuk IRSHAD MANJI datang lagi ke indonesia.ALLOHU AKBAR


oleh: alvan fahrur rozi dari: dukuh kuopang
13.05.2012 05:31
perlu kta perhatikan bahwa jalan - jalan liberal sangat halus dan hampir dapat menyusupi kita bila kita tidak memiliki filter yang baik..ayo semangat memberantas liberalisme,dan jng sampai di negara indonesia trdp UUD pernikahan sesama jenis


oleh: bambang dari: jakarta
12.05.2012 13:28
setujuuuuu..... dibubarkan....


oleh: Anunya dari: Di Mana Saja Kenapa Sih
12.05.2012 04:02
Karena pedang adalah simbol kekuasaan laki laki, maka kemudian pedang dijadikan simbol kekuasaan lembaga kekuasaan (negara) dalam bentuk logo resmi kenegaraan di negara negara yg berbasis agama, seperti bendera negara dan dokumen2 kenegaraan. Dasar ideologi agamanya mengatakan, pedang bikinan manusia itu "SEOLAH OLAH NAIK KE SURGA DAN TURUN KE BUMI". Maka kemudian ideologi tsb berdalih bahwa pedang tsb dipahami sebagai "PEDANG TUHAN". Maka atas nama kekuasaan yg ditegakkan oleh agama, ideologi agama spt itu kemudian juga melahirkan "TENTARA TUHAN" utk berperang suci "DI JALAN AGAMA" melawan musuh musuh agama sebagai media penaklukan dan propaganda. Padahal nama TUHAN itu juga nama bikinan manusia...! Jadi dari nafsu kekuasaan manusia spt itu, kelihatan sekali sifat dasarnya kenapa kebudayaan manusia itu melahirkan agama dan nama Tuhan karena keduanya benteng kembar kekuasaan.


oleh: sucepot dari: jakarta
11.05.2012 16:52
jeruk makan jeruk ....... ngga enak x..,


oleh: Anunya dari: Dimana Saja Kenapa Sih
11.05.2012 03:52
Sejarah agama adalah sejarah peraturan laki laki dan kelaki lakiannya, yaitu kelompok penguasa ketika merampas kekuasaan kelompok yang lain. Dan terutama karena sejarah agama adalah sejarah kekuasaan, maka ia dijadikan justifikasi bagi penguasa yang baru yang membutuhkan legitimasi kekuasaannya. Di zaman kemudian, yurisdiksi agama (model kerajaan) bertanding dengan yurisdiksi hukum positif (model negara bangsa) untuk persaingan perebutan kekuasaan. Maka kemudian lahir lembaga kekuasaan agama seperti partai agama, majelis agama dlsb sebagai penyalur arus kekuasaan laki laki semacam itu. Maka dalam alur kekuasaan patriarki laki laki dengan yurisdiksi agama seperti itu wanita dalam posisi tergencet. Sementara cabang kekuasaan sekuler melahirkan partai perekrut pejabat negara dengan yurisdiksi hukum negara. Maka dilihat dari sudut pandang kekuasaan, agama adalah topeng paling menjijikkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan yang didorong utk mendapatkan benda benda - lawan jenis - harga diri pribadi dan kerabat dan handai tolan. Bedanya dengan kekuasaan demokrasi sekuler (partai), sekali agama mendapatkan kekuasaan maka ia tidak mau melepaskan kekuasaan itu. Dan terutama sejarah agama adalah sejarah kultus kekuasaan laki laki, maka agama bertepuk sebelah tangan atau bertolak belakang dengan sistem demokrasi. Pedang adalah simbol kekuasaan laki laki, maka gampang sekali dipahami jika tersinggung harga diri agamanya, laki laki kemudian mengacung acungkan pedangnya.


oleh: Masnal dari: Inonesia
11.05.2012 02:15
Kalo dari info di TV (idalog di salah satu TV swasta & berita di koran maupun elektronuk), cara penolakanny Irshad Manji tuk berdiskusi di UGM tidak menunjukkan bahwa Indonesia Bebas dalam berbicara & berpendapat. Namun ada benar pula klao penolakan atas dasar FAHAM yg membebaskan hubungan sesama jenis. Tapi setidaknya dilihat & didengar dulu apa masalah dan apa TOPIK YANG AKAN DIBICARAKAN, Jika memang menyimpang & tidak sesuai dengan adat & budaya kita, barulah kita menolak. JIKA TIDAK MENYIMPANG MENGAPA DITOLAK.?? KARENA DI INDONESIA BELUM SEPENUHNYA MEMBERIKAN KEBEBASAN "MENGELUARKAN PIKIRAN MAUPUN TULISAN seperti yg tertuang dalam UUD 1945."


oleh: nurdiyanto dari: surabaya
11.05.2012 02:07
pemikiran sesat irshat manji hrus di tumpas hbis.kalo perlu JIL di bubarkan saja...indonesia damai tanpa liberal

Komentar halaman dari 3
    Berikutnya 

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook