Minggu, 21 Desember 2014 Waktu: 07:25

Berita / Indonesia

Demonstran Sambut Presiden Yudhoyono di Inggris

Para demonstran berunjuk rasa di Inggris, mengatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kejahatan kemanusiaan di Papua.

Seorang demonstran memegang gambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama unjuk rasa di depan tempat tinggal Perdana Menteri Inggris David Cameron, London. (AP/Lefteris Pitarakis)
Seorang demonstran memegang gambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama unjuk rasa di depan tempat tinggal Perdana Menteri Inggris David Cameron, London. (AP/Lefteris Pitarakis)
Sekitar 50 orang melakukan unjuk rasa terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di luar tempat tinggal Perdana Menteri Inggris David Cameron, di Downing Street No. 10, London, pada Rabu (31/10).

Para pendemo tersebut mengklaim Presiden Yudhoyono telah melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap warga suku asli di Papua Barat. Mereka juga menuduh Inggris mendahulukan kepentingan komersil di atas hak asasi manusia.

"Warga Papua Barat ditangkap, disiksa dan dibunuh, dan Inggris serta Uni Eropa malah mendukung [Yudhoyono] demi uang,” ujar seorang demonstran bernama Nal Pattinama sambil menangis.

Para demonstran, beberapa menggunakan topeng Halloween dan cat muka, melambai-lambaikan poster yang bertuliskan seruan untuk pembebasan tahanan politik Papua, yang ditangkap karena mendorong gerakan separasi.

Pendemo yang lain, termasuk para wakil dari Amnesty International dan lembaga swadaya masyarakat Indonesia, melambaikan bendera Papua, sebuah aksi yang dapat dikenakan hukuman 15 tahun penjara di Indonesia.

Dua aktivis hak asasi manusia kemudian mencoba menggapai mobil Presiden namun dihentikan oleh polisi. Scotland Yard mengatakan mereka telah menangkap seorang pria karena mencoba menganggu kunjungan Presiden.

Kelompok hak asasi manusia termasuk Human Rights Watch yang berbasis di New York mengatakan militer Indonesia bertanggung jawab terhadap beberapa tindakan kekerasan di Papua, di mana gerakan separasi terus berlangsung selama puluhan tahun.

Presiden Yudhoyono mengakui bahwa pihak keamanan Indonesia terkadang bereaksi berlebihan, namun ia mengatakan serangan-serangan tersebut “berskala kecil dengan jumlah korban yang terbatas.”

Presiden dan Ibu Negara Ani Yudhoyono sedang berada dalam kunjungan tiga hari ke Inggris. Keduanya disambut oleh Ratu Elizabeth II dan suaminya Pangeran Philip dalam sebuah upcara di Parade Penjaga Berkuda di London. Acara berlanjut dengan prosesi menggunakan kereta kuda ke Istana Buckingham, di mana Presiden dan Ibu Ani tinggal selama kunjungan kenegaraan tersebut.

Ratu Elizabeth, yang berkunjung ke Indonesia beserta suaminya 33 tahun yang lalu, juga menggelar jamuan makan malam mewah untuk Presiden Yudhoyono dan rombongan.

Inggris memang bersemangat memperkuat hubungan komersil dengan Indonesia, dan telah mendorong sumber daya dari kedutaannya di Uni Eropa untuk meningkatkan posisi diplomatiknya di Indonesia dan di Asia. (AP/Reuters)
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: miguel dari: jayapura
09.11.2012 21:29
Alasan indonesia tdk mau melepaskan papua, karena papua sangat luas dan kaya.

Kalau papua dilepas pulau jawa dan pulau2 lainnya di indonesia akan tenggelam oleh karena kepadatan penduduk dan kemiskinan.


oleh: Papuanes dari: Papua
07.11.2012 07:40
Dari RAS jelas Orang papua dan Indonesia BEDA... jadi sudah sepantasnya Papua itu Medeka dan berdiri Sendiri...Kenapa Indonesia Tidak Bisa selesaikan Masalah HAM di Tanah PAPUA...Karena Indonesia Negara MISKIN..dan Masih bergantung pada SDA Papua...


oleh: Arief dari: Indonesia
01.11.2012 19:07
Tidak ada tempat untuk para pemberontak !!
Pemberontak adalah sama dengan teroris !!
hanya ada dua pilihan ,kembali pada NKRI atau Terpaksa kami harus melakukan apa yang harus di lakukan demi persatuan NKRI !!
Negara adalah Anarchy tertinggi yang berhak melakukan apapun demi survive negara tersebut !!


oleh: pengamat
01.11.2012 17:17
Inggris stop menganexsasi PNG ! Biarlah PNG merdeka sepenuhnya tanpa campur tangan kerajaan Inggris.


oleh: teuku asri dari: Indonesia
01.11.2012 12:39
SBY, di Negerinya sendiri mendapat kecaman. Di negeri orang pun tetap mendapat perlakuan yang sama. Ini merupakan suatu peringatan kepada calon-calon penguasa Indonesia selanjutnya yang sedang sibuk merebut kursi kepresidenan.

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook