Selasa, 21 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 06:13

Berita / AS

Bukti Baru Kaitkan Kehancuran Peradaban Maya dengan Perubahan Iklim

Tim ilmuwan AS mengatakan mereka telah mengidentifikasi sebab kehancuran peradaban kuno Maya, yakni perubahan iklim.

Stalakmit di gua Yok Balum memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari catatan curah hujan. (Foto: Douglas Kennett, Penn State)
Stalakmit di gua Yok Balum memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari catatan curah hujan. (Foto: Douglas Kennett, Penn State)
UKURAN HURUF - +
Peradaban kuno Maya, yang mengembangkan budaya berkelas di tengah hutan hujan Amerika Tengah, menghilang secara misterius seribu tahun yang lampau. Sekarang, sebuah tim internasional beranggotakan antropolog, arkeolog, ahli kimia dan ahli iklim mengatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi sebab kehancuran Maya: Perubahan iklim.

Untuk menciptakan catatan cuaca dalam 2.000 tahun terakhir, para ilmuwan menganalisa formasi mineral alami yang disebut stalakmit dari sebuah gua di Belize, menggunakan penanggalan oksigen-isotop untuk menentukan curah hujan yang jatuh di wilayah itu selama berabad-abad lamanya. Stalakmit dibangun secara bertahap, seperti lingkaran pohon, saat air menetes melalui langit-langit gua, menyimpan catatan iklim yang akurat.


Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)
x
Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)
Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)
Penguasa Maya memerintahkan pembangunan monumen batu untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting seperti naik tahta atau kekuasaan, pertarungan besar, konflik masyarakat dan kerja sama strategis. Profesor antropologi Douglas Kennett dari Universitas Negeri Pennsylvania, yang turut menulis penelitian ini, mengatakan timnya dapat membandingkan perubahan dalam masyarakat yang didokumentasikan dalam monumen-monumen tersebut dengan garis waktu iklim yang mereka buat.

Dalam sebuah siaran podcast untuk jurnal Science, Kennett mengatakan timnya melihat hubungan antara tingkat curah hujan dan stabilitas politik.

“Perkembangan kebudayaan Maya dan pertumbuhan penduduk serta tingkat kemajuan ternyata berkorelasi dengan interval curah hujan yang tinggi yang berlangsung beberapa ratus tahun. Dan kejatuhan Maya ternyata berkaitan dengan penurunan iklim secara umum dan pengeringan iklim,” ujarnya.

Curah hujan yang tinggi mengarah pada panen dan ledakan penduduk, namun pembalikan iklim dan musim paceklik yang mendorong kelaparan, persaingan politik, peningkatan perang dan pada akhirnya, kejatuhan masyarakat.

Para ilmuwan telah lama menduga bahwa perubahan iklim memainkan peran dalam jatuhnya peradaban Maya, namun catatan waktu persis, yang dipublikasikan dalam
Science  - membuat mereka yakin dengan hubungan itu. Kennett mengatakan metodologi yang mereka pakai dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman akan pengaruh iklim terhadap budaya kuno lain yang juga memiliki sistem gua yang serupa.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Respon AS terhadap Konflik Rohingya - Liputan Berita VOA 21 Mei 2013

Seperti di tanah air, aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya juga mendapat perhatian dari pemerintah maupun sebagian rakyat Amerika Serikat. Presiden Barack Obama meminta pemerintah Burma yang juga dikenal sebagai Myanmar serius merespon serangan dan relokasi paksa warga Rohingya. Amerika berharap berbagai konflik etnis di negara yang baru berdemokrasi tersebut bisa segera diatasi. Selengkapnya dilaporkan Nova Poerwadi dan tim VOA dari Washington, D.C
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang wanita mempersiapkan upacara tradisional Gwan-Rye di Seoul, Korea Selatan. Upacara ini diadakan bagi anak laki-laki dan perempuan yang menginjak usia 20 tahun, sebagai individu yang independen.
  • Sebuah balon udara jatuh ke tanah setelah bertabrakan dengan yang lain selama perjalanan di Cappadocia, Turki. Dua wisatawan Brazil tewas dan 23 orang lainnya terluka akibat tabrakan dua balon udara tersebut.
  • Perempuan dan anak-anak antri untuk mengambil air dari keran di sebuah kamp bagi para pengungsi di kota al-Mazraq, provinsi Hajja, Yaman barat laut.
  • Badai tornado (puting beliung) hampir menyentuh tanah di dekat South Haven, di negara bagian Kansas, AS.
  • Para fotografer bekerja selama sesi pemotretan untuk film "Blood Ties" di Festival Film Cannes ke-66 di Cannes, Prancis.
  • Seorang wanita mengenakan gaun dari bunga segar yang dirancang oleh desainer Zita Elze, berpose untuk difoto di sebuah taman pada pameran bunga Chelsea, di London, Inggris.
  • Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (tengah) dan isterinya Ri Sol-ju saat berkunjung ke kamp anak-anak 'Pyongyang Myohyangsan' yang terletak di kaki Gunung Myohyang di Provinsi Phyongan Utara (foto courtesy: KCNA).
  • Pekerja mendorong sebuah rakit bambu besar, sementara yang lain mencoba membongkar bagian-bagian rakit bambu itu di Sittwe, negara bagian Rakhine, Burma.
  • Para pebalap sepeda naik tanjakan dalam etape ke-15 sepanjang 146 km, lomba balap sepeda Giro d'Italia di perbatasan Italia-Perancis.
  • Para anggota kelompok Castellers "Vila de Gracia" mulai membentuk menara manusia yang disebut "castell" di lingkungan Barcelona Gracia, di Catalonia, Spanyol.
Lainnya