Selasa, 21 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 15:21

Berita / Politik

Astronot AS Bisa Ikut Memilih dari Stasiun Antariksa

Astronot Amerika yang berada di Stasiun Antariksa Internasional punya pilihan untuk memberi suara dalam pemilihan presiden 6 November dari orbit, ratusan mil di atas TPS terdekat.

Astronot AS Sunita Williams (kanan) saat melakukan perbaikan stasiun antariksa internasional (foto: dok).
Astronot AS Sunita Williams (kanan) saat melakukan perbaikan stasiun antariksa internasional (foto: dok).
UKURAN HURUF - +
Astronot dalam laboratorium yang mengorbit itu menerima surat suara versi digital, yang dikirim Pengendali Misi NASA di Johnson Space Center (JSC) di Houston. Surat suara yang sudah diisi akan dikirim kembali ke Bumi dengan cara sama.

Sistem tersebut dimungkinkan oleh Undang-Undang tahun 1997 yang disahkan Kongres Texas karena hampir semua astronot NASA tinggal di Houston atau sekitarnya. Ini pertama kali undang-undang itu digunakan pada tahun sama oleh David Wolf, yang ketika itu berada di stasiun antariksa Rusia, Mir.

Warga Amerika pertama yang memberi suara dalam pemilihan Presiden dari antariksa adalah Leroy Chiao, ketika ia menjadi komandan misi Ekspedisi 10 Stasiun Antariksa Internasional tahun 2004.

Sekarang ini, dua di antara ke enam awak Ekspedisi 33, adalah warga Amerika - komandan Sunita Williams dan insinyur penerbangan Kevin Ford. Tetapi keduanya sudah memberi suara dalam pemilihan presiden, ketika mereka masih berada di Bumi.
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: Rana Pratama dari: Bobotsari
06.11.2012 08:16
wowwwwwww amazing..... kapan indonesia punya astronot& stasiun antariksa?????????????

 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Respon AS terhadap Konflik Rohingya - Liputan Berita VOA

Seperti di tanah air, aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya juga mendapat perhatian dari pemerintah maupun sebagian rakyat Amerika Serikat. Presiden Barack Obama meminta pemerintah Burma yang juga dikenal sebagai Myanmar serius merespon serangan dan relokasi paksa warga Rohingya. Amerika berharap berbagai konflik etnis di negara yang baru berdemokrasi tersebut bisa segera diatasi. Selengkapnya dilaporkan Nova Poerwadi dan tim VOA dari Washington, D.C
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang nelayan Palestina melemparkan jaringnya di sebuah pantai di kota Gaza, Palestina.
  • Gedung Parlemen Eropa saat para anggota parlemen menghadiri sesi voting di Strasbourg, Prancis.
  • Mobil-mobil yang rusak terlihat di tempat parkir sebuah Rumah Sakit setelah tornado menghantam kota Moore, negara bagian Oklahoma, 20 Mei 2013.
  • Mantan Presiden AS Bill Clinton mendengarkan Menteri Federal Jerman untuk Tenaga Kerja dan Sosial Ursula von der Leyen, kedua dari kanan, dalam sebuah forum yang membahas solusi bagi masalah pengangguran kaum muda Eropa di Universitas Madrid, Spanyol.
  • Seorang anggota geng jalanan Mara 18 yang dipenjarakan, berpose untuk foto di penjara Izalco, sekitar 65 km dari San Salvador, El Salvador.
  • Seorang pekerja berjalan di sebuah jalan kereta api baru di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China.
  • Penyelam mendekati Leopard Ray pada sebuah pameran di Marine Life Park, Resorts World, salah satu atraksi wisata terbaru di Singapura.
  • Dua mahasiswa pegulat sumo membawa bayi yang menangis di samping wasit (tengah) dalam acara Kompetisi 'Bayi Menangis' di kuil Sensoji di Tokyo, Jepang.
  • Seorang anak laki-laki duduk di bawah kereta sambil menunggu koin jatuh dari kereta selama festival kereta 'Rato Machhindranath' di kota Lalitpur, Nepal.
Lainnya