Sabtu, 01 Nopember 2014 Waktu UTC: 01:08

Aktivis Lingkungan Surabaya Serukan Batasi Pemakaian Kantong dan Botol Plastik

Para aktivis lingkungan hidup di Surabaya memperingatkan, kantong plastik dan botol air minum kemasan merupakan salah satu penyumbang terbesar pencemaran dan perusakan lingkungan.

Para aktivis pecinta lingkungan di kota Surabaya melakukan aksi teatrikal dengan tema: Selamatkan Bumi dengan Kurangi Sampah Plastik dan Air Minum Kemasan (2/2).
Para aktivis pecinta lingkungan di kota Surabaya melakukan aksi teatrikal dengan tema: Selamatkan Bumi dengan Kurangi Sampah Plastik dan Air Minum Kemasan (2/2).

Multimedia

Audio
  • http://media.voanews.com/audio/20120202-brt-VOA-petrus-surabaya-+campaign+reduce+the+use+of+plastic+bottles.MP3

Petrus Riski

Peringatan Hari Lahan Basah di Surabaya diisi dengan aksi para aktivis lingkungan hidup dengan menyerukan diet penggunaan kantong plastik dan air minum kemasan. Penggunaan kantong plastik dan air minum kemasan, dianggap sebagai penyumbang terbesar pencemaran dan perusakan lingkungan.

Belum adanya solusi dalam menangani masalah sampah menjadi keprihatinan para aktivis pecinta lingkungan, termasuk keberadaan sampah plastik yang tidak dapat terurai di alam, serta menimbulkan bahaya bagi lingkungan dan kesehatan.

Pemerintah dan masyarakat diminta serius memperhatikan dampah limbah plastik bagi kelangsungan hidup manusia dan lingkungan hidup, dengan mengurangi penggunaan plastik dan menggantinya dengan bahan yang ramah lingkungan.

Dosen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Muryono mengatakan, penggunaan botol plastik di kalangan masyarakat harus dikendalikan, agar tidak semakin menambah volume sampah yang menjadi problem perkotaan.

“Yang pertama adalah pengendalian sampah, yang paling utama adalah plastik, plastik itu sumber yang paling utama juga, yang secara signifikan kita sudah teliti di area kampus satu mahasiswa dua botol ukuran 600 ml tiap harinya, belum lagi yang di luar. Itulah yang memberikan arti bahwa konsep demo kita atau aksi kita kali ini adalah meminimalisir sampah terutama sampah botol yang berkaitan dengan plastik,” ujar Muryono.

Koordinator Komunitas Nol Sampah, Wawan Some mengatakan, keberadaan sampah plastik di Surabaya setiap tahunnya mengalami peningkatan seiring bertambahnya produksi air minum dalam kemasan.

Wawan Some mengungkapkan, “Sampah plastik di Surabaya semakin bertambah, data tahun 2006 sampah plastik di Surabaya itu ada 960.000 ton per tahun, itu sangat luar biasa. Ini pasti akan terus meningkat, karena apa, karena kita semakin tergantung sama plastik. Nah salah satu yang berbahaya justru air kemasan, produksi air kemasan, konsumsi air kemasan dari tahun lalu terus meningkat. tahun 2011 itu produk konsumsi air kemasan bisa mencapai 17 milyar liter. Itu akan membutuhkan botol plastik sampai 500.000 ton per tahun. Nah tahun 2012 ini asosiasi produsen air kemasan itu produksinya mereka akan mencapai 19 milyar liter, padahal kita tahu botol plastik air kemasan itu kan botol yang sekali pakai.”

Direktur Eksekutif Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ecoton, Prigi Arisandi mengutarakan, pemerintah harus berani melarang penggunaan botol plastik untuk air minum kemasan, karena sangat berbahaya bagi kesehatan. Selain itu pemerintah harus menyediakan air bersih yang berkualitas bagi warga negaranya, sebagai wujud perlindungan negara terhadap rakyatnya.

“Di hampir semua negara bagian Amerika, di Kanada, di Uni Eropa, di sebagian Australia itu melarang memang, melarang pemakaian air minum dalam kemasan plastik, bahkan pemerintah kota mereka melarang pejabat-pejabat mereka menggunakan air minum dalam kemasan, karena melihat suatu bahaya tadi, bahaya bagi kesehatan manusia. Ada cartinogen dalam plastik itu yang kalau kita konsumsi itu mengancam kita. Kemudian yang kedua kita melihat dari kelalaian pemerintah gitu ya, ini kan sebenarnya air itu kan dikuasai oleh negara dan sebanyak-banyaknya digunakan untuk kemakmuran rakyat, nah ini kan tidak ada gitu, malah pihak ketiga, perusahaan-perusahaan multinasional yang menyediakan air bersih,” kata Prigi Arisandi.

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Nirmala berharap, pemerintah dan masyarakat mau mengurangi penggunaan botol plastik, untuk menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan.

“Harapannya botol plastik ini juga akan semakin berkurang, tidak merusak bumi, tidak mengakibatkan kanker, tidak mencemari lingkungan juga, tetapi kita juga bisa menciptakan lingkungan yang bersih tanpa adanya botol plastik,” demikian harapan Nirmala.

Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda