Selasa, 21 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 06:06

Berita / AS

Peneliti AS Temukan Pendekatan Baru untuk Obati Kanker Pankreas

Makalah penelitian yang menguraikan pendekatan baru untuk mengobati kanker pankreas ini dimuat dalam jurnal "Cancer Cell."

Para ilmuwan AS di Pusat Penelitian Kanker 'Fred Hutchinson' menemukan terobosan baru dalam pengobatan kanker pankreas.
Para ilmuwan AS di Pusat Penelitian Kanker 'Fred Hutchinson' menemukan terobosan baru dalam pengobatan kanker pankreas.
UKURAN HURUF - +
Sejumlah pengobatan bagi banyak penyakit kanker semakin ampuh setelah bertahun-tahun, kecuali satu yaitu kanker pankreas.

Sunil Hingorani dari Pusat Penelitian Kanker di Seattle mengatakan,  "Kematian akibat kanker pankreas tergolong yang tertinggi dalam satu tahun pertama dan tahun kelima dibandingkan dengan kanker yang manapun juga."

Lebih jauh, ia mengatakan bahwa hal ini merupakan teka-teki bagi para ilmuwan yang meneliti kanker pankreas. Obat-obat kemoterapi berkekuatan tinggi yang membunuh sel kanker pankreas di laboratorium hampir tidak berguna bagi pasien kanker.

Para ilmuwan mengamati bagaimana tumor di dalam pankreas melapisi dirinya dengan bahan kolagen mirip jaringan parut. Lapisan kolagen ini memberi tekanan pada pembuluh darah yang mengalirkan darah ke tumor, menghancurkan banyak pembuluh darah itu dan merintangi bukan hanya aliran darah, tetapi juga penyaluran obat kemoterapi.

"Jadi, dengan cara ini, tumor itu benar-benar mengisolasi diri dari peredaran darah, dan ketika kami hendak menyuntikkan obat-obat ini melalui pembuluh darah, obat-obat itu melewati saja tumor tersebut dan pergi ke tempat lain," papar Hingorani.

Jadi, masalahnya mungkin bukan karena obat kemoterapi itu tidak mempan, tetapi hanya karena obat itu tidak mencapai sasarannya.

Untuk mengetahui jawabannya, Hingorani dan rekan-rekannya menggunakan tikus yang direkayasa secara genetika sebagai pengganti pasien manusia yang mengidap kanker pankreas. Mereka memberi tikus hasil rekayasa itu obat kemoterapi standar,gemcitabine, ditambah enzim PEGPH20 yang dirancang untuk membuka pembuluh darah yang amblas itu yang mengalirkan darah ke tumor tersebut.

Hingorani memaparkan, "Kami mendapati pada setiap hewan yang kami uji coba, tumornya mengecil atau, setidaknya, tidak bertambah besar. Kami mendapati bahwa secara menyeluruh kemungkinan untuk bertahan hidup meningkat sekitar 70 persen , tidak sampai dua kali lipat, tetapi sekitar itu."

Tentu saja, apa yang berhasil pada tikus belum tentu berhasil pada manusia, oleh karena itu tim peneliti tersebut memulai uji coba pada manusia. Hingorani mengatakan optimistik, tetapi memperingatkan, akan diperlukan waktu satu atau dua tahun sebelum hasilnya tersedia dari uji coba pada manusia itu.

Namun, jika semua berjalan sesuai yang diharapkan oleh tim peneliti, kemoterapi ini tidak hanya akan lebih manjur, tetapi mungkin juga lebih kecil efek sampingnya yang buruk itu. Ini karena kalau lebih banyak obat yang mencapai tumor, para dokter mungkin dapat menggunakan obat-obat kemoterapi berkekuatan tinggi itu dalam jumlah kecil.

Makalah penelitian yang menguraikan pendekatan baru untuk mengobati kanker pankreas ini dimuat dalam jurnal "Cancer Cell."
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Respon AS terhadap Konflik Rohingya - Liputan Berita VOA 21 Mei 2013

Seperti di tanah air, aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya juga mendapat perhatian dari pemerintah maupun sebagian rakyat Amerika Serikat. Presiden Barack Obama meminta pemerintah Burma yang juga dikenal sebagai Myanmar serius merespon serangan dan relokasi paksa warga Rohingya. Amerika berharap berbagai konflik etnis di negara yang baru berdemokrasi tersebut bisa segera diatasi. Selengkapnya dilaporkan Nova Poerwadi dan tim VOA dari Washington, D.C
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang wanita mempersiapkan upacara tradisional Gwan-Rye di Seoul, Korea Selatan. Upacara ini diadakan bagi anak laki-laki dan perempuan yang menginjak usia 20 tahun, sebagai individu yang independen.
  • Sebuah balon udara jatuh ke tanah setelah bertabrakan dengan yang lain selama perjalanan di Cappadocia, Turki. Dua wisatawan Brazil tewas dan 23 orang lainnya terluka akibat tabrakan dua balon udara tersebut.
  • Perempuan dan anak-anak antri untuk mengambil air dari keran di sebuah kamp bagi para pengungsi di kota al-Mazraq, provinsi Hajja, Yaman barat laut.
  • Badai tornado (puting beliung) hampir menyentuh tanah di dekat South Haven, di negara bagian Kansas, AS.
  • Para fotografer bekerja selama sesi pemotretan untuk film "Blood Ties" di Festival Film Cannes ke-66 di Cannes, Prancis.
  • Seorang wanita mengenakan gaun dari bunga segar yang dirancang oleh desainer Zita Elze, berpose untuk difoto di sebuah taman pada pameran bunga Chelsea, di London, Inggris.
  • Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (tengah) dan isterinya Ri Sol-ju saat berkunjung ke kamp anak-anak 'Pyongyang Myohyangsan' yang terletak di kaki Gunung Myohyang di Provinsi Phyongan Utara (foto courtesy: KCNA).
  • Pekerja mendorong sebuah rakit bambu besar, sementara yang lain mencoba membongkar bagian-bagian rakit bambu itu di Sittwe, negara bagian Rakhine, Burma.
  • Para pebalap sepeda naik tanjakan dalam etape ke-15 sepanjang 146 km, lomba balap sepeda Giro d'Italia di perbatasan Italia-Perancis.
  • Para anggota kelompok Castellers "Vila de Gracia" mulai membentuk menara manusia yang disebut "castell" di lingkungan Barcelona Gracia, di Catalonia, Spanyol.
Lainnya