Rabu, 30 Juli 2014 Waktu UTC: 11:07

REAKSI TERHADAP PENYIKSAAN TAHANAN IRAK <br> Oleh Leon Howell - 2004-05-18

Itu penyiksaan, kata Menlu Indonesia, Hassan Wirayuda, pekan ini. Kami sangat menyesalkan tindakan tindakan itu, katanya.

Dengan menyerbu Irak, dan melecehkan tahanan, Amerika dipandang sebagai negara yang sok jago, kata Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian dari Iran, Shirin Ebadi dalam ceramahnya di Amerika pekan lalu.

Rakyat Amerika sendiri menanggapinya dengan rasa kaget, tidak percaya, dan malu. Begitu hebatnya dampak foto foto itu terhadap rakyat Amerika sehingga untuk pertama kalinya sejak memegang jabatan, Presiden Bush dan Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld minta maaf.

Pernyataan kedua pejabat tampaknya ditujukan kepada rakyat Amerika dan seluruh dunia. Dapat dikatakan bahwa warga Amerika pada umumnya berpendapat, tentara Amerika tidak akan pernah menggunakan penyiksaan. Keyakinan itu tetap kokoh meskipun tersebar luas laporan mengenai penyiksaan tawanan dalam perang Korea dan Vietnam.

Banyak warga Amerika merasa sangat resah karena pelecehan tahanan Irak ini. Jajak pendapat pekan lalu menunjukkan bahwa hampir 70 persen rakyat Amerika menganggapnya sebagai hal yang sangat serius.

Kita menghadapi resiko mengalami kekalahan, yang jauh lebih penting daripada perang itu sendiri, tulis Thomas Friedman dalam harian New York Times. Amerika, katanya, kehilangan kredibilitas sebagai otoritas moral dan inspirasi di dunia.

Tidak semua orang berpendapat seperti itu. Pengasuh acara talk-radio Rush Limbaugh menyamakan perlakuan terhadap tahanan di Irak itu dengan kelakar mahasiswa.

Yang lain tahu bahwa pelecehan itu buruk. Mereka menyaksikan di layar televisi pekan lalu, ketika Mayor Jenderal Antonio Taguba, orang keturunan Filipina kedua yang mencapai pangkat jenderal dalam kemiliteran Amerika, melaporkan penyidikan yang mengukuhkan terjadinya penyiksaan tahanan Irak.

Hasil angket menunjukkan, 60 persen responden berpendapat, ini adalah kejadian terisolir yang dilakukan segelintir oknum, bukan pelanggaran sistematis yang bertentangan dengan idealisme Amerika.

Kota kecil tempat beradanya kantor satuan Polisi Militer yang beberapa orang anggotanya dituduh melakukan pelecehan tahanan, dapat menjadi contoh berbeda bedanya reaksi orang terhadap insiden itu. Ada penduduk kota itu yang marah karena perbuatan anggota satuan itu menodai reputasi kota tersebut.

Ada yang berpendapat, semua itu dibuat buat. Ada juga yang mengemukakan bahwa ada anggota satuan itu yang tewas di Irak, sehingga ia tidak peduli dengan perlakuan terhadap tahanan Irak. Video pemenggalan sandera Amerika di Irak pekan lalu, diduga akan memperkuat perasaan ini. ada juga yang mengatakan, penyiksaan itu salah, dan tentara Amerika harus segera ditarik dari Irak, karena keadaan di sana semakin tidak terkendali.

Apakah ini hal baru? Ternyata tidak. Buku pedoman interogasi Badan Intelijen Pusat CIA pada tahun 1960an dan 1980an menggambarkan 'teknik pemaksaan' seperti yang digunakan terhadap tahanan Irak di penjara Abu Ghraib. Sebuah laporan tahun 1992 yang ditulis untuk Menteri Pertahanan Richard Cheney memperingatkan bahwa pedoman teknik teknik interogasi intelijens Amerika mencakup 'materi ofensif, yang dapat merusak kredibilitas Amerika, dan dapat membuat malu besar'.

Setelah penyidikan Kongres tahun 1980an, buku pedoman Eksploitasi Sumberdaya Manusia CIA disunting menjadi: Penggunaan kekerasan, siksaan mental, ancaman, penghinaan atau perlakuan tidak manusiawi sebagai alat interogasi dilarang undang undang, baik domestik maupun internasional; ini tidak dianjurkan atau diperbolehkan. Jelas bahwa pihak berwajib tahu benar bahwa praktek praktek ini ilegal dan tidak bermoral, meskipun kadang kadang tetap digunakan.

Laporan televisi Al Jazeera sering mengecam Amerika karena kultur kekerasannya. Dalam laporan tahunan hak asasi Cina mengenai Amerika ditulis: Rasio populasi penjara Amerika tetap paling tinggi di dunia. Di Amerika ada 2,2 juta orang narapidana, angka tertinggi di seluruh dunia. Di Cina yang jumlah penduduknya empat kali lipat, ada 1,5 juta narapidana.

Banyak organisasi menyatakan bahwa suasana kebrutalan terasa di banyak penjara Amerika. Profesor Universitas Yale James Whitman mengemukakan, dua dari para tertuduh pelaku penyiksaan tahanan di Irak itu pernah bekerja lama di penjara Amerika.

Akan ada hikmahnya, kata Profesor Whitman, kalau kita menjadi tahu kejamnya sistem hukuman, di dalam maupun di luar negeri, yang merendahkan martabat manusia.

Adaptasi oleh Djoko Santoso

Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda