Tautan-tautan Akses

Paralimpik Menginspirasi Pasien di Negara Asalnya


Para pasien berolahraga dan melakukan terapi fisik di Pusat Cedera Tulang Belakang Nasional, Inggris. (VOA)
Para pasien berolahraga dan melakukan terapi fisik di Pusat Cedera Tulang Belakang Nasional, Inggris. (VOA)

Paralimpik menginspirasi kaum difabel untuk berolahraga dan berlatih untuk bertanding dalam kompetisi selanjutnya di Rio De Janeiro 2016.

Pesta olahraga Paralimpik, yang berakhir Minggu (9/9) di London, merupakan yang terbesar yang pernah diadakan dalam sejarah, melibatkan hampir 4.300 atlet dari 160 negara dalam acara yang berlangsung 12 hari itu. Konsep kompetisi olahraga untuk kaum difabel diawali 60 tahun yang lalu, di rumah sakit di Stoke Mandeville, Inggris, hanya 75 kilometer dari Taman Olimpiade di London.

Pusat Cedera Tulang Belakang Nasional di Rumah Sakit Stoke Mandeville bangga atas hubungannya dengan Paralimpik. Sementara para pasien sekarang belajar hidup dengan trauma yang melumpuhkan, dengan bantuan terus menerus dari terapis fisik, kompetisi olahraga tersebut selalu ada di benak mereka.

“Kami mengenal beberapa orang yang bertanding, dan kami tahu bahwa perjalanan mereka dimulai di sini, jadi kami selalu ada di belakang mereka,” ujar Dott Tussler, kepala terapi fisik. Ia mengatakan rumah sakit tersebu menggunakan olahraga sebagai bagian penting dalam program rehabilitasi.

“Kami menggunakan olahraga sebagai kendaraan untuk meningkatkan keseimbangan, kekuatan, koordinasi, keterampilan di atas kursi roda dan mobilitas kursi roda,” kata Tussler. “Selain atribut fisik tadi, Anda lalu dapat terus membangun elemen menyenangkan dari aktivitas bersama dalam kelompok.”

Aktivitas tersebut berlangsung di fasilitas olahraga sebelah rumah sakit, yang didedikasikan untuk dokter pengungsi yang datang ke Inggris dari Jerman pada periode Nazi, dan dikenalkan pada konsep olahraga untuk kaum difabel.

Dr. Ludwig Guttmann yakin olahraga akan membantu menyembuhkan para pasiennya, baik secara fisik maupun emosional, dan bahwa pertandingan skala internasional untuk kaum difabel akan membantu mengobati luka karena perang.

Saat ini, ide tersebut telah berkembang menjadi acara selama dua minggu yang berlangsung tak lama setelah Olimpiade, dan diikuti di seluruh dunia. Kompetisi tersebut mengirimkan pesan pada para pasien baru di rumah sakit lama Guttman, bahwa mereka dapat kembali menjalani hidup secara penuh meski dengan cedera.

Christopher Haynes, 24, adalah salah satu kisah sukses terbaru di Stoke Mandeville. Setelah mengalami cedera karena menyelam setahun yang lalu, ia melalui operasi dan proses rehabilitasi selama berbulan-bulan, termasuk program olahraga.

“Olahraga yang dilakukan adalah yang sesuai dengan Anda. Karena rumah sakit ini telah melakukan program ini untuk waktu yang lama, mereka benar-benar tahu olahraga seperti apa [yang sesuai]. Karena saya tinggi, dan saya masih muda, maka saya cocok bermain rugby dengan kursi roda,” ujar Haynes, yang dipanggil Chris.

Chris siap keluar dari rumah sakit. Ia mengatakan bahwa olahraga memainkan peran lebih besar dalam hidupnya daripada sebelum ia cedera, berkat program rehabilitasi dan Kompetisi Paralimpik.

“[Paralimpik] sangat inspiratif, memberikan bayangan apa yang bisa dilakukan dalam tiga atau empat tahun. Saya harus mulai berolahraga,” ujar Haynes.

“Tidak ada alasan mengapa saya tidak [berolahraga]. Saya akan kembali bekerja, kembali ke kehidupan sosial, mencari pacar. Dan jika semuanya berjalan lancar, saya mencoba untuk bisa bertanding di Rio.”

Rio adalah Paralimpik berikutnya di Rio de Janeiro, Brazil, pada 2016. Ini adalah target yang tinggi bagi Chris dan para pasien di rumah sakit. Namun Guttman percaya bahwa target yang tinggi atau luhur adalah yang mereka butuhkan.
XS
SM
MD
LG