Tautan-tautan Akses

Ziarah Makam, Bagian dari Tradisi Ramadan di Indonesia

  • Wulan Martasasmita

Nyekar atau berziarah ke makam keluarga umum dilakukan dalam bulan Ramadan atau saat lebaran di Indonesia (foto: ilustrasi).

Nyekar atau berziarah ke makam keluarga umum dilakukan dalam bulan Ramadan atau saat lebaran di Indonesia (foto: ilustrasi).

Nyekar atau berziarah ke makam keluarga adalah salah satu tradisi Ramadan di Indonesia yang sudah dilakukan turun-temurun sejak dulu.

Jika bulan Ramadan tiba, bisa dipastikan berbagai tempat pemakaman umum (TPU) di Indonesia dipadati oleh para peziarah. Mereka umumnya berziarah ke makam keluarga untuk sekedar mendoakan anggota keluarga mereka yang telah meninggal dunia. Ada pula yang datang berziarah ke makam para wali atau orang yang menyebarkan syiar Islam. Tidak mengherankan, saat Ramadan TPU di Indonesia kerap dipadati ratusan peziarah yang datang dari berbagai daerah.

Suprapto, salah seorang peziarah, mengatakan, "Kami rutin nyekar keluarga besar baik dalam bulan Ramadan maupun pada saat Idul Fitri. Itu dilakukan sesuai dengan tuntunan agama dan tuntunan Rasul”.

Peziarah lainnya, Hadi, juga mengatakan, "Karena mau puasa, saya harus mau bersusah payah, berangkat dari rumah, panas-panas gini jalan kaki mendatangi makam ibu bapak saya. Sebagai bukti bahwa saya itu sungguh-sungguh”.

Jumlah peziarah pada saat hari biasa dan saat bulan Ramadan memang jauh berbeda. Petugas Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, Wiri, mengungkapkan bahwa saat memasuki bulan Ramadan jumlah peziarah meningkat tajam. Hal serupa juga terjadi saat Hari Raya Idul Fitri.

“Ya jumlah yang berziarah meningkat. Karena mau puasa, biasanya sudah tradisi untuk berziarah dulu ke makam orangtua. Lalu pada hari lebaran kita juga berziarah. Jadi, tradisi di Indonesia ya begitu, ya itulah umat Islam”.

Sejarawan Mansjur Suryanegara mengungkapkan, tradisi berziarah di Indonesia kemudian meluas hingga menjadi ziarah ke kampung halaman saat Hari Raya Idul Fitri. Itulah cikal bakal dari tradisi mudik yang kita kenal saat ini.

Mansjur mengatakan, tradisi ziarah di Indonesia telah ada sejak sebelum jaman penjajahan. Seiring perkembangan jaman, tradisi ziarah atau mudik kemudian semakin mudah dilakukan masyarakat saat ini dengan dukungan sarana transportasi.

“Dari dulu tradisi itu sudah ada. Hanya, kuantitasnya tentu berbeda, karena jumlah penduduk pun tidak sebanyak sekarang. Alat transportasinya pun hanya delman. Kalau sekarang kan mobil. Jadi menjadi budaya, orang lalu semua ramai-ramai pergi ke kampungnya lagi, karena menghubungkan silaturahmi yang hidup dan silaturahmi yang sudah pergi (meninggal),” ujar Mansjur Suryanegara.

Mansjur menambahkan bahwa filosofi ziarah berasal dari keterikatan manusia secara batiniah kepada kedua orangtuanya sejak masih berada dalam kandungan. Keterikatan tersebut terus terjalin hingga salah satu di antara anggota keluarga tersebut meninggal dunia. Oleh karena itulah, ziarah akan terus ada hingga akhir jaman. Selain dianjurkan oleh agama, ziarah juga dapat mempererat tali silaturahmi atau kekeluargaan.

XS
SM
MD
LG