Tautan-tautan Akses

Yogyakarta Selenggarakan Festival Musik Jazz ‘Ngayogjazz’ ke-5

  • Munarsih Sahana

Salah satu panggung pada Festival Musik Jazz ‘Ngayogjazz’ ke-5 di komplek pasar rakyat Kotagede, Yogyakarta (12/11).

Salah satu panggung pada Festival Musik Jazz ‘Ngayogjazz’ ke-5 di komplek pasar rakyat Kotagede, Yogyakarta (12/11).

Untuk tahun ini, Ngayogjazz diselenggarakan Sabtu (12/11) sore hingga tengah malam di 6 panggung berbeda di komplek pasar rakyat Kotagede, satu di antaranya bersebelahan dengan kuburan.

Festival musik jazz tahunan di Yogyakarta, Ngayogjazz ke-5 tahun 2011 kembali diselenggarakan di tempat yang tidak lazim untuk pertunjukan musik jazz. Tujuannya adalah mengembalikan posisi musik jazz sebagai musik rakyat sebagaimana dikembangkan di tempat asalnya New Orleans Amerika Serikat.

Rieke Roslan, penyanyi asal Bandung bersemangat menyanyikan beberapa lagu bersama penonton karena lagu-lagu yang ia bawakan pernah populer bersama kelompok band The Groove. Tahun ini ia tampil pertama-kali di Ngayogjazz. Sebelum naik panggung ia menyatakan kegembiraannya bisa tampil pada festival jazz yang merakyat ini.

Rika Roselan mengatakan, “Ngayogjazz ini suatu event yang mengembalikan jazz pada tempatnya. Satu, tidak ditarik bayaran buat yang nonton, dua, mainnya di tempat yang sangat umum jadi kita bisa langsung menyentuh masyarakat karena jazz itu kan musik masyarakat. Gak usah mereka bayar 500-ribu tapi kita yang datangi mereka karena kita harus menyebarkan musik ini sebanyak musik yang lain misalnya dangdut, rock yang ada di mana-mana. Kita itu jadi sempit karena kitanya aja yang selalu di gedung.”

Direktur Ngayogjazz, musisi Djaduk Ferianto mengatakan, musik jazz memberikan keleluasaan musisi untuk berkreasi dan berimprovisasi. Pada Ngayogjazz tahun ini mulai tampil sejumlah kelompok jazz baru.

“Tema kita kali ini memang menanam, Nandur Jazzing Pakarti, kita menanam pada 80 persen yang tampil adalah wajah-wajah baru tapi itu kita disain supaya mereka mendapat posisi penting dikemudian hari. Karena mereka tidak kalah secara teknis. Saya kira ini investasi, bahwa jazz menjadi suatu media untuk kita bisa bersama-sama membangun jaringan, bukan hanya nonton jazz-nya atau pemain sekedar memainkan jazz tetapi ini membangun kebersamaan, membangun solidaritas, berbagi pengelaman,” ujar Djaduk Ferianto.

Tampil pada Ngayogjazz kali ini adalah berbagai komunitas musik jazz dari sejumlah kota seperti Pekalongan, Semarang, Solo, Pekanbaru, Balikpapan dan tuan rumah Yogyakarta, Bandung, dan musisi Idang Rasyidi. Mereka antara lain membawakan music jazz dengan unsur music etnik bahkan keroncong. Penyanyi senior Trie Utami kali ini tampil ketiga kali. Ia menilai, Ngayogjazz sudah bisa mendorong musik jazz makin berkembang dan dinikmati oleh semua kalangan masyarakat.

“Ngayogjazz itu selalu antik selalu memasuki ruang-ruang yang dianggap orang nggak mungkin. Artinya, kita sudah bisa membuktikan bahwa pencairan sekat-sekat itu harus dilakukan. Jazz itu kan tidak harus duduk di dalam hotel dengan AC, dengan (memakai) jas tapi musik yang disebut jazz itu tentu saja harus bisa dinikmati oleh siapapun,” papar Trie Utami.

Ikut memeriahkan Ngayogjazz adalah kesenian rakyat dari warga Kotagede, musik keroncong serta kelompok yang suka membawakan lagu-lagu band yang terkenal tahun 1970-an Kelompok Koes Plus. Hampir seluruh warga Kotagede ikut berdesakan menyaksikan perlegaran musik jazz kali ini, termasuk Agus Sutanto.

“Sangat antusias sekali. Sebenarnya orang Kotagede itu haus musik ya, untuk pertunjukkan jazz ini sangat luar biasa dibanding keroncong, dangdut, ini lebih luar biasa (jumlah) penontonnya,” demikian komentar Agus Sutanto.

XS
SM
MD
LG