Tautan-tautan Akses

Yogyakarta Jadi Tuan Rumah Pertemuan ASEM

  • Munarsih Sahana

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh pada pertemuan menteri kebudayaan Asia dan Eropa di Yogyakarta. (VOA/Munarsih Sahana)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh pada pertemuan menteri kebudayaan Asia dan Eropa di Yogyakarta. (VOA/Munarsih Sahana)

Delegasi dari 35 negara menghadiri pertemuan menteri-menteri kebudayaan kawasan Asia dan Eropa untuk membahas penanganan kota-kota budaya.

Delegasi dari 35 negara menghadiri pertemuan menteri-menteri kebudayaan kawasan Asia dan Eropa (The Fifth ASEM Culture Ministers’ Meeting) di Yogyakarta hingga Kamis (20/9), membahas penanganan kota-kota budaya untuk masa depan yang berkelanjutan (Managing Heritage Cities for a Sustainable Future).

Pertemuan kelima para menteri kebudayaan tersebut merupakan kelanjutan dari pertemuan menteri kebudayaan ASEM ke-4 di Poznan Polandia pada 2010. Pertemuan tersebut juga merupakan forum diskusi untuk memecahkan berbagai masalah warisan budaya serta mengidentifikasi pemanfaatan dari lanskap kota bersejarah (historic urban landscape) dengan manajemen berkelanjutan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Muhamad Nuh, dalam pidato pembukaan mengatakan pelestarian warisan budaya penting untuk pemahaman peradaban dan mencegah konflik atau benturan peradaban, terlebih bagi kawasan Asia bersama Eropa yang mewakili 60 persen dari penduduk seluruh dunia.

“Masa depan berkelanjutan adalah lebih dari masa depan budaya itu sendiri. Hal ini adalah untuk melestarikan peradaban dan dalam banyak hal adalah untuk menghidupkan kembali peradaban yang telah hilang atau memperbaiki peradaban yang terdegradasi”, ujar Nuh.

Menurut Wakil Menteri Kebudayaan Polandia Monika Smolen, warisan budaya bukan hanya menjelaskan identitas suatu bangsa namun juga merupakan sumber pengembangan ekonomi kreatif yang merupakan sumber keuangan bagi pemerintah dan memberikan pekerjaan bagi masyarakat.

“Warisan budaya merupakan sumber identitas masyarakat kita, dan sekarang warisan budaya juga merupakan faktor penting dalam pembangunan sosial dan ekonomi,” ujar Smolen.

Duta Besar Nicos Panayi yang mewakili Uni Eropa mengatakan, kerja sama pengembangan kota budaya di kawasan Asia dan Eropa akan bermanfaat pada usaha menumbuhkan saling pengertian masyarakat dua benua.

“Kita bisa memperdalam saling pengertian yang bisa membantu meningkatkan dialog antar agama atau kepercayaan antara masyarakat Eropa dan Asia,”ujar Panayi.

Pembahasan tentang pengelolaan kota budaya untuk pembangunan masa depan yang berkelanjutan dibagi menjadi empat sub tema, yaitu memperkuat pemerintahan yang baik dalam mengelola kota budaya, melestarikan lanskap urban dan tantangan bencana alam, kota budaya sebagai penggerak ekonomi kreatif, dan meningkatkan pemahaman antar budaya berbeda. Pada delegasi juga berkunjung ke sejumlah situs kebudayaan di Yogyakarta dan sekitarnya termasuk menikmati matahari terbit di candi Borobudur.
XS
SM
MD
LG