Tautan-tautan Akses

Yaman yang Dikoyak Perang Hadapi Ancaman Wabah Kolera

  • Lisa Schlein

Warga Yaman memeriksa bekas serangan udara koalisi pimpinan Saudi yang menghantam warga yang menghadiri upacara pemakaman di Sanaa, Yemen (8/10). Yaman yang dikoyak perang sedang menghadapi ancaman wabah kolera.

Warga Yaman memeriksa bekas serangan udara koalisi pimpinan Saudi yang menghantam warga yang menghadiri upacara pemakaman di Sanaa, Yemen (8/10). Yaman yang dikoyak perang sedang menghadapi ancaman wabah kolera.

Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) mengingatkan bahwa Yaman yang dikoyak perang sedang menghadapi ancaman wabah kolera. WHO membutuhkan dana lebih dari 22,3 juta dolar untuk mencegah kolera menyebar ke seluruh negeri.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sudah ada 340 kasus yang diduga penyakit Diare gawat. 18 di antaranya sudah dikukuhkan adalah kolera. Juru bicara WHO Fadela Chaib mengatakan mujur tidak seorangpun yang meninggal dunia.

"Berkat tenaga setempat kami dan LSM yang bertugas di lapangan, kami dapat mengetahui kasus pertama dan menanggapi sebagian daripadanya. Tetapi, tanpa kemurahan hati lebih lanjut dari masyarakat internasional, kasus kolera itu bisa menjalar ke seluru bagian negara yang sistem layanan kesehatannya benar-benar dalam keadaan sangat buruk," ujar Fadela Chaib.

WHO melaporkan lebih dari 7,6 juta penduduk Yaman tinggal di daerah-daerah yang terkena wabah Diare dan Kolera. WHO mengingatkan yang terutama rentan adalah lebih dari tiga juta penduduk yang mengungsi akibat perang .

Chaib mengatakan kemampuan rakyat untuk melawan penyakit ini rendah karena kekurangan makanan serta malnutrisi telah menguras daya tahan tubuh mereka.

"Akibat konflik yang sedang berlangsung, dua pertiga warga Yaman tidak mendapatkan layanan air bersih dan sanitasi, terutama di kota-kota, sehingga memperbesar risiko diserang kolera. Ini diperparah oleh menurunnya kemampuan sistem kesehatan nasional untuk menanggulangi wabah kolera karena sangat kekurangan sumber daya," tambahnya.

WHO melaporkan kurang dari setengah dari rumahsakit di Yaman yang berfungsi karena kekurangan tenaga kesehatan, obat-obatan dan perlengkapan medis.

Gencatan senjata 72 jam yang diperantarai PBB dijadwalkan mulai berlaku di Yaman hari Rabu (19/10), dan dapat diperpanjang.

Organisasi Kesehatan Sedunia dan badan-badan bantuan lainnya berharap gencatan senjata bisa memberi kesempatasn kepada mereka mendatangkan bahan pangan, obat-obatan, bahan bakar dan kebutuhan pokok lain ke Yaman. [sp/al]

XS
SM
MD
LG