Tautan-tautan Akses

Xanana Gusmao: Timor Leste Sudah Lelah Bertengkar


Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao berbicara kepada wartawan di Dili (foto: dok). Gusmao mengunjungi AS untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan menghadiri Sidang Umum PBB.

Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao berbicara kepada wartawan di Dili (foto: dok). Gusmao mengunjungi AS untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan menghadiri Sidang Umum PBB.

Dalam lawatannya ke Amerika Serikat, Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao mengupas rencana pembangunan jangka panjang Timor Leste, pemilu berikut dan hubungannya dengan Indonesia.

Perdana Menteri Timor Leste Kay Rala Xanana Gusmao selama sepuluh hari melawat ke Amerika. Selain menghadiri Sidang Umum PBB di New York, mantan pejuang kemerdekaan Timor Leste ini juga bertemu dengan sejumlah pejabat Amerika, antara lain Menteri Luar Negeri Hillary Clinton. Reporter VOA Eva Mazrieva menemuinya langsung untuk berbincang-bincang seputar rencana masa depannya untuk Timor Leste.

VOA: Terima kasih atas kesempatan wawancara yang diberikan. Bapak kini memiliki satu moto baru untuk Timor Leste, yaitu “Selamat Tinggal Konflik, Selamat Datang Pembangunan." Dapatkah Bapak menjelaskannya lebih jauh?

Gusmao: Kita melihat bahwa rakyat Timor Leste menerima dengan baik karena sudah lelah bertengkar, merusak diri sendiri. Dengan ini waktunya tepat sekali kalau kita membicarakan tentang satu perjalanan pembangunan masa panjang. Oleh karena itu, saya jalan ke luar negeri untuk memberitahu bahwa inilah saat yang benar untuk mulai memikirkan tentang masa depan. Kita pikir bahwa freedom (kebebasan) itu bisa bikin semua bahagia, tapi kita jatuh beberapa kali tapi kita berdiri lagi. Kita berdiri melihat diri sendiri sampai kita ambil keputusan, "Sudah! Kita harus membangun sekarang!” Membangun negara dan membangun diri sendiri.

VOA: Kemiskinan merupakan salah satu akar masalah di Timor Leste. Adakah program khusus yang dibuat untuk menyelesaikan hal ini?

Gusmao: Kemiskinan jangan dilihat sebagai masalah yang berdiri sendiri secara satu arah. Komponennya banyak sekali. Jika kita mau membahas masalah kemiskinan, reaksinya jangan sekedar “Kasih uang supaya tidak miskin lagi!” Yang utama adalah jika kita kasih pekerjaan, sehingga ada income (pendapatan) dan orang hidup lebih baik. Jadi, selama dua tahun terakhir ini, kita mulai program-program di mana kita memfasilitasi pekerjaan sampai ke daerah-daerah terpencil, di mana mereka bisa bekerja di daerahnya sendiri. Ada program untuk pemuda yang sudah punya keahlian, tapi kita perlu juga program untuk masyarakat secara berkelanjutan.

VOA: Tentunya Bapak membutuhkan anggaran yang luar biasa besar untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan mengentaskan kemiskinan. Daripada Bapak mendapatkan sumber anggaran ini? Bagaimana dengan negara-negara yang dulu berjanji akan memberikan bantuan? Apakah mereka benar-benar mewujudkannya atau sekedar janji saja?

Gusmao: Kita beruntung karena punya resources (sumber daya). Karena kita punya resource kita jadi terlalu tergantung pada resource. Memang dari tahun 1999-2000, satu sen pun kita tidak punya! Oleh karena itu, kita berterima kasih sekali atas bantuan dari masyarakat internasional. Tapi mulai tahun 2005 kita menerima sedikit-sedikit uang dari minyak dan oleh karena itu kita kalau harus melihat ke negara-negara lain, penduduk negara lain yang lebih susah dari kita.

VOA: Tahun depan akan ada pemilu di Timor Leste. Bagaimana Bapak mempersiapkan hal ini?

Gusmao: Anda tahu bahwa pada tahun 2007, dua bulan sebelum pemilu, saya membangun suatu partai. Bukan partai tradisional seperti dulu. Partai saya muncul untuk membantu menstabilisasi negara, membantu program agar rakyat merasa bahwa mereka sudah benar-benar merdeka, ada harapan. Bukan sekedar di masa perjuangan dulu, bahwa ada harapan tapi sedikit, hanya mimpi. Tapi dari tahun 2000 hingga 2006 bahkan 2007, harapan itu redup hilang. Kita munculkan kembali untuk merenovasi harapan dan keinginan itu. Partai saya sekarang berkoalisi dengan empat partai lain dan akan terus sampai akhir, hingga 2012. Saya kira pada tahun 2012 partai saya akan berusaha untuk merebut kemenangan.

Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao (depan kanan) saat menghadiri Forum Demokrasi Bali di Nusa Dua, Desember 2010 lalu.

Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao (depan kanan) saat menghadiri Forum Demokrasi Bali di Nusa Dua, Desember 2010 lalu.

VOA: Apakah Bapak akan mencalonkan diri kembali atau ada kandidat-kandidat baru?

Gusmao: Masalahnya, partai saya partai baru, yang baru berjalan empat tahun. Kita akan mengadakan kongres bulan April atau Mei mendatang, untuk melihat dan berdiskusi, apa yang perlu kita koreksi atau bahas atau memperbaiki. Dari situ kita akan lihat. Masalahnya bukan sekedar pintar atau tidak. Pintar semua orang itu! Kita hanya perlu waktu untuk mempersiapkan tokoh-tokoh baru yang pintar. Inilah yang kita sedang persiapkan.

VOA: Tapi, tidak berarti di Timor Leste sedang terjadi krisis kepemimpinan bukan, Pak? Soalnya tokoh yang muncul masih saja Bapak, Ramos Horta atau Alkatiri.

Gusmao: Bulan September lalu, karena kita memang khawatir tentang partai-partai ini, kita punya suatu perkumpulan orang-orang intelektual dan profesional dari partai. Tahun ini, minimal tiga kali kita akan melaksanakan tiga konferensi untuk brainstorming, free-debate, untuk melihat dari sana agar muncul pemimpin-pemimpin baru. Ini yang kita akan persiapkan.

VOA: Selagi Indonesia menjadi Ketua ASEAN sekarang ini, apakah Bapak juga akan kembali mendorong Timor Leste untuk diterima menjadi anggota ASEAN?

Gusmao: Kita selalu mempersiapkan diri. Dalam berbagai forum saya sudah menyatakan kita akan meminta kesempatan menjadi anggota. Dari sana, dikatakan mereka bersedia. Kita sedang mempersiapkan formulasi untuk menjadi anggota.

VOA: Adakah masalah dengan Indonesia yang belum terselesaikan? Sengketa perbatasan, asimilasi antar warga, dll?

Gusmao: Kadangkala kita ingin menyelesaikan semua hal dalam waktu yang singkat. Kita lupa Indonesia juga adalah negara yang besar sekali dengan jumlah penduduk yang besar sekali. Kita juga lupa bahwa kita negara kecil, penduduk kecil tapi masalah dan tantangannya besar sekali. Yang terpenting adalah hubungan dan mekanisme untuk berkomunikasi. Masalah perbatasan bukannya tidak penting, tapi di perbatasan mana pun jika komunikasi tidak bagus maka ada masalah. Akan terus ada tembakan-tembakan. Biarpun sudah digaris demarkasi, tetap saja ada masalah. Jadi, masih ada isu-isu yang belum selesai dan berat. Tapi yang penting, pikiran untuk menyelesaikan dengan metode solusi yang baik untuk semua.

VOA: Saya memberi contoh pada kasus desakan sejumlah LSM di Timor Timur untuk tetap menyeret para tokoh militer Indonesia yang dinilai bertanggungjawab atas pembantaian di Timor Timur. Masalah ini sesungguhnya sudah selesai lewat “rekonsiliasi” dengan CAVR (Commission for Reception, Truth and Reconciliation) di Timor Leste. Tapi, tetap saja muncul bukan?

Gusmao: Di dalam negeri saya kira tidak begitu ada masalah. Di luar negeri, iya. Di dalam negeri hanya organisasi kecil-kecilan yang tidak mengerti, tidak mau tahu sejarah. Seperti organisasi-organisasi dari masyarakat internasional juga punya prinsip bahwa, "Putih ya, putih. Merah ya, merah!”. Saya mengerti hal ini dan harus bersabar.

VOA: Let’s talk about you and Indonesia now. Bapak tentu tidak lagi menganggap Indonesia sebagai musuh. Tapi, bagaimana Bapak melihat Indonesia sekarang? Have you ever missed Indonesia?

Gusmao: Yang saya paling ingat tentang Indonesia adalah kawan-kawan. Masih banyak. Bahkan bertambah karena kita sudah free, kita jadi teman, kita jadi saudara. Karenanya, yang paling membuat kita sedih adalah kita tidak punya kesempatan untuk berterima kasih kepada mereka satu per satu. Susah kita. Susah dalam arti, perbedaan waktu dan kesempatan. Tapi, seringkali kita bicara dan dari negara seharusnya yang membantu untuk memberi kehormatan. Waktu sulit mereka bantu kita, tapi sekarang ini kita susah ketemu. Bukan berarti kita melupakan mereka.

VOA: How do you see yourself? Dari seorang pejuang, tokoh gerilyawan, pemimpin hingga perdana menteri...

Gusmao: Wah, wartawan berani tanya begini… Dalam kehidupan jangan sampai seseorang mengevaluasi sendiri waktu masih hidup, kalau pun sudah mati biarlah orang lain yang mengevaluasi. Lebih baik tiap orang mengevaluasi apa yang dibikin dan dirusak orang lain. Sebagai manusia jangan kita mengangkat diri sendiri. Kalau sudah terbiasa mengangkat diri sendiri, jadi bisa jadi Tuhan kecil. Saya masih belum melakukan apa-apa.

Selepas lawatan ke AS, Xanana Gusmao melanjutkan lawatannya ke Panama, Brazil dan Inggris.

XS
SM
MD
LG