Tautan-tautan Akses

WWF Lakukan Kampanye Cinta Lingkungan Lewat Lukisan

  • Petrus Riski

Atas undangan lembaga WWF, mahasiswa Univeristas Kristen Petra sedang mengerjakan lukisan cat pada badan Kapal Gurano Bintang di Kendari.

Atas undangan lembaga WWF, mahasiswa Univeristas Kristen Petra sedang mengerjakan lukisan cat pada badan Kapal Gurano Bintang di Kendari.

Kampanye cinta lingkungan dapat dilakukan melalui ajakan dan imbauan secara tidak langsung, berupa goresan lukisan pada kapal edukasi milik lembaga swadaya Masyarakat (LSM) penyelamatan lingkungan dan satwa, World Wildlife Fund (WWF). Tiga mahasiswa asal Universitas Kristen Petra Surabaya, mendapat kesempatan menyumbangkan keahliannya untuk mendukung upaya pelestarian alam dan penyelamatan satwa.

Mengecat dan melukis merupakan hal yang biasa dilakukan tiga mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Kristen Petra Surabaya, yaitu Celcea Tifani, Debby Natalia, dan Elang Cakra. Namun mengecat kapal yang sedang sandar di dermaga Kendari dengan menggunakan sebuah sekoci atau perahu kecil, merupakan hal baru serta tantangan tersendiri bagi ketiga mahasiswa ini.

Celcea Tifani, salah satu mahasiswa pelukis kapal milik WWF, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dengan mengecat kapal yang berada di perairan Kendari yang memiliki ombak cukup keras.

Pengenalan mengenai satwa yang dilindungi serta pemahaman mengenai konservasi lingkungan hidup, menjadikan pekerjaan melukis dan mengecat kapal berhasil diselesaikan dengan baik.

“Untuk gambarnya awalnya WWF itu kasi kita breaf, gambar apa saja yang harus terkandung di dalam kapal itu karena berhubungan dengan konservasi alam, konservasi hewan-hewan lautan gitu kan. Jadi kita sudah tahu tentang penyu hijau, terus hiu paus dan segala macamnya, dan gambar itu kita rangkai, kita desain sedemikian rupa, lalu kita acc-kan ke WWF, dan ada beberapa perubahan dari WWF, dan kita revisi lagi, setelah itu kita berangkat,” ujar Celcea Tifani.

Kapal Gurano Bintang yang dalam bahasa Papua berari Hiu Paus, merupakan kapal milik WWF yang akan digunakan sebagai media edukasi bagi anak-anak di kampung pesisir, di Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Papua Barat.

Aktivis World Wildlife Fund (WWF), Aulia Rahman mengatakan, dipilihnya Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra Surabaya untuk melukis dan mengecat kapal edukasi milik WWF, diharapkan mampu menyampaikan pesan mengenai pelestarian alam dan perlindungan satwa kepada masyarakat.

Para mahasiswa sedang mengerjakan lukisan cat pada badan Kapal Gurano Bintang di atas kapal sekoci.

Para mahasiswa sedang mengerjakan lukisan cat pada badan Kapal Gurano Bintang di atas kapal sekoci.

Aulia Rahman menjelaskan, “Kita menggandeng teman-teman dari Diskomvis (Desain Komunikasi Visual) Petra ini adalah untuk meminta bantuan mereka, menyuarakan lebih kencang persoalan lingkungan malelui keahliannya mereka. Menuangkan isu-isu atau tema-tema tertentu melalui media grafis, salah satunya adalah mengecat kapal. Kapal WWF ini akan digunakan untuk sarana edukasi lingkungan ke masyarakat pesisir. Jadi kita meminta bantuan mereka untuk menghias kapal ini agar lebih menarik diterima masyarakat di lingkungan pesisir, di papua tepatnya, karena kapal ini akan berkeliling di Teluk Cendrawasih, di Papua Barat.”

Sementara itu, Dosen Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra Surabaya, Obed Bima Wicandra menjelaskan, desain lukisan dan pewarnaan pada kapal Gurano Bintang milik WWF telah memenuhi unsur komunikasi visual, yang dapat menarik perhatian masyarakat khususnya anak-anak yang akan memanfaatkan kapal Gurano Bintang.

“Pertama dari sisi warna, itu cukup menarik perhatian ya, jadi memang dari awal mereka ingin warnanya, warna-warna yang segar, warna-warna yang menyita perhatian tinggi. Makanya kemudian warna-warna yang dipakai adalah warna-warna yang cerah, warna-warna anak, karena ini memang kapal edukasi. Kemudian dari sisi komunikasi visual, simbol-simbol yang dipakai itu simbol-simbol yang universal, jadinya siapa saja bisa memahami bahwa ini kapal untuk pelestarian lingkungan hidup satwa laut. Jadi memang ini bahasa-bahasa yang universal yang gampang dimengerti,” demikian menurut Obed Bima Wicandra.

XS
SM
MD
LG