Tautan-tautan Akses

WTO Gagal Sepakati Daftar Produk Ramah Lingkungan


Komisaris perdagangan Eropa, Cecilia Malmstrom (foto: dok).

Komisaris perdagangan Eropa, Cecilia Malmstrom (foto: dok).

46 negara termasuk AS, China, dan negara-negara Uni Eropa hari Minggu (4/12) gagal menyetujui daftar “produk ramah lingkungan” seperti AC bertenaga surya atau bola lampu LED yang bisa menjadi target cukai lebih rendah.

Pertemuan selama dua hari di Organisasi Perdagangan Sedunia (WTO) mencakup upaya untuk menyetujui pengurangan cukai atas 200 barang ramah lingkungan bernilai sekitar satu triliun dolar per tahun, bagian dari proses yang dikatakan komisaris perdagangan Eropa, Cecilia Malmstrom penting “untuk menunjukkan bahwa perdagangan dan lingkungan bisa sejalan”.

Ia dan beberapa pejabat lain mengatakan presentasi China mengenai daftar barang-barang yang terlambat diajukan untuk dimasukkan dalam daftar menjadi penghambat perundingan selama akhir pekan itu.

Perundingan itu hanya merupakan satu langkah dari proses yang lebih luas mengenai Perjanjian Barang-Barang Ramah Lingkungan yang sudah menghadapi ketidakpastian berkaitan dengan sikap pemerintahan presiden terpilih Donald Trump.

Pada detik-detik terakhir China mengajukan daftar yang belum dipelajari dengan seksama, kata Menteri Ekonomi Turki, Nihat Zeybekci kepada Associated Press hari Minggu (4/12).

“Banyak negara merasa keberatan mengenai daftar itu.” ujarnya.

Zeybekci juga menyebut keprihatinan lain mengenai produk kayu berkesinambungan antara Kanada dan Selandia Baru di satu pihak dan Jepang dan Taiwan di pihak lain.

Amerika dan Uni Eropa, yang memimpin perundingan itu, dalam pernyataan bersama mengatakan para utusan akan kembali ke negara masing-masing untuk mempertimbangkan langkah-langkah berikutnya, tanpa memberi batas waktu.

“Kami sudah berusaha dengan keras,” kata Malmstrom dan menambahkan bahwa para peserta meninggalkan perundingan “dengan tekad kuat untuk mencapai kesepakatan ini. Ini penting untuk lingkungan, untuk iklim, untuk kewajiban moral kita untuk menunjukkan bahwa perdagangan bisa menerapkan perjanjian Paris dan Maroko untuk membantu melawan pemanasan global.

Seorang perunding senior mengatakan upaya China pada detik-detik terakhir yang mempengaruhi barang-barang prioritas bagi banyak negara lain itu dilakukan meskipun China sedang berusaha menempatkan diri sebagai pemimpin dalam isu-isu lingkungan.

Pejabat itu, yang tidak mau disebut namanya karena mengungkapkan rincian isi perundingan itu mengatakan daftar baru China itu - yang sangat mengutamakan prioritasnya sendiri - disampaikan pukul 11 pagi hari Minggu ketika negara-negara lainnya sudah menyetujui poin-poin lainnya.

“Semua delegasi sudah menyampaikan daftar yang mereka tidak terima, dimasukkan atau tidak sehingga mustahil membahasnya dalam beberapa jam,” kata Malmstrom merujuk pada proposal China. [my/ds]

XS
SM
MD
LG