Tautan-tautan Akses

Wilayah Pencarian Pesawat Aviastar Diperluas

  • Associated Press

Kepala Basarnas Henry Bambang Soelistyo (kiri) mengamati peta operasi pencarian bersama Laksamana Muda Udara Sudipo Handoyo di Jayapuar. (Foto: Dok)

Kepala Basarnas Henry Bambang Soelistyo (kiri) mengamati peta operasi pencarian bersama Laksamana Muda Udara Sudipo Handoyo di Jayapuar. (Foto: Dok)

Tiga pesawat militer, sebuah helikopter dan dua pesaawat Twin Otter serupa yang dimiliki maskapai tersebut serta empat kapal patroli bergabung dalam operasi pencarian hari Senin (5/10).

Enam pesawat dan empat kapal laut dikerahkan hari Senin (5/10) dalam pencarian yang diperluas untuk sebuah pesawat berisi 10 orang yang hilang di Indonesia timur tiga hari lalu.

Menurut Henry Bambang Soelistyo, kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), pencarian untuk pesawat bermesin turboprop tersebut, dimiliki oleh maskapai Aviastar Mandiri, fokus di laut dekat Teluk Bone.

Tiga pesawat militer, sebuah helikopter pencarian dan penyelamatan dan dua pesawat Twin Otter serupa yang dimiliki maskapai tersebut serta empat kapal patroli bergabung dalam operasi pencarian hari Senin (5/10).

Pesawat Twin Otter DHC-5 itu hilang kontak dengan menara pengontrol lalu lintas udara 11 menit setelah tinggal landas di tengah cuaca baik Jumat lalu dari Masamba, Sulawesi Selatan. Pesawat itu hendak melakukan penerbangan rutin ke Makassar, membawa tiga awak pesawat dan tujuh penumpang, termasuk tiga anak-anak. Tidak ada sinyal adanya masalah dari pesawat tersebut.

Upaya pencarian selama akhir pekan dihambat cuaca buruk dan medan yang sulit, menurut Henry. Para petugas telah mengecek lokasi-lokasi yang dilaporkan warga setempat, namun mereka tidak menemukan apa pun.

Hari Minggu, dua pesawat dan dua helikopter menyisir wilayah-wilayah di sekitar lokasi tempat pesawat yang hilang itu diyakini membuat kontak terakhir, dan daerah-daerah tempat para warga desa diduga mendengar atau melihat pesawat tersebut sebelum hilang, ujar Ivan Ahmad Titus, direktur operasi Basarnas.

Henry mengatakan pesawa itu mungkin tidak dilengkapi dengan alat transmitor darurat, alat yang menempel pada kotak hitam, yang mengirimkan sinyal untuk mengindikasikan lokasi pesawat. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Suprasetyo mengatakan pihak berwenang sedang menyelidiki kemungkinan itu.

Pesawat buatan Kanada tahun 1981 itu bergabung dengan armada Aviastar bulan Januari 2014 dan menjalani perawatan terakhir 15 September. [hd/eis].

XS
SM
MD
LG