Tautan-tautan Akses

Sebagian Besar Kematian Bayi yang Baru Lahir Terjadi di Negara Berkembang


Dari sekitar 7.200 bayi yang lahir mati setiap hari, menurut catatan WHO, hampir 98 persennya terjadi di negara berpendatapan rendah hingga sedang.

Dari sekitar 7.200 bayi yang lahir mati setiap hari, menurut catatan WHO, hampir 98 persennya terjadi di negara berpendatapan rendah hingga sedang.

Angka tertinggi, 47 per seribu kematian bayi saat lahir tercatat di Pakistan, diikuti oleh Nigeria, Bangladesh, Djibouti dan Senegal.

WHO melaporkan bahwa setiap hari lebih dari 7.200 bayi lahir mati. Sebagian besar di antaranya, 98 persen, terjadi di negara-negara berpendapatan rendah hingga sedang. Tetapi, WHO mencatat negara kaya tidak luput dari kasus ini, dengan catatan satu bayi mati dari 320 kelahiran. WHO menyatakan angka ini berubah sedikit pada dasawarsa lalu.

Angka lahir mati terendah, dua per seribu kelahiran hidup, ditemukan di Finlandia, diikuti Singapura, Denmark dan Norwegia. Angka tertinggi, 47 per seribu, tercatat di Pakistan, diikuti oleh Nigeria, Bangladesh, Djibouti dan Senegal.

Data menunjukkan sekitar dua pertiga kasus atau 1,8 juta bayi lahir mati ditemukan pada 10 negara saja. Jumlah tertinggi didapati di kawasan sub-Sahara Afrika dan di Asia Tenggara.

Perkiraan terbaru menunjukkan jumlah bayi lahir mati di seluruh dunia turun sekitar satu persen setiap tahun, dari tiga juta pada tahun 1995 menjadi 2,6 juta pada tahun 2009. Penurunan ini lebih lamban daripada pengurangan angka kematian ibu dan bayi pada periode yang sama.

Catherine d’Arcangues dari Departemen Kesehatan Reproduksi dan Riset WHO mengatakan penyebab bayi lahir mati banyak. "Ada penyebab yang sudah pasti semasa kelahiran, seperti persalinan yang sulit. Ada juga yang karena infeksi selama kehamilan. Misalnya, kasus sifilis bawaan yang mencapai dua juta per tahun, ini penyakit yang benar-benar harus diberantas. Infeksi lainnya seperti malaria, HIV, juga menyebabkan bayi lahir mati. Kita juga tahu bahwa pada sebagian besar ibu yang berusia lanjut, bayi cenderung lahir mati, demikian pula pada anak pertama mereka," ujarnya.

D’Arcangues mencatat hampir separuh dari bayi lahir mati terjadi pada proses persalinan. Ia mengatakan 1,2 juta kematian itu terkait langsung dengan kurangnya perawatan para ahli pada masa kritis ini.

Direktur Lembaga Kesehatan Masyarakat Norwegia, Frederik Froen, mengatakan, banyak bayi lahir mati yang tidak tercatat, jadi kasus ini tidak dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang penting.

Ia mengatakan mayoritas bayi yang lahir mati tidak diberi nama. Mereka juga tidak digendong, atau diberi baju oleh ibu mereka. Tidak ada acara pemakaman untuk bayi lahir mati. Froen mengatakan, bayi-bayi lahir mati itu dibuang dengan cara sesederhana mungkin.

WHO menyatakan ada sejumlah intervensi yang sudah dikenal baik, yang jika diterapkan secara global, dapat menghindarkan lebih dari satu juta bayi lahir mati. Beberapa di antaranya adalah perawatan kebidanan darurat yang komprehensif, mendeteksi dan mengobati sifilis, mencegah malaria, serta mendeteksi dan mengatasi hambatan pertumbuhan janin, hipertensi dan diabetes semasa hamil.

WHO menyatakan penguatan layanan Keluarga Berencana juga akan menyelamatkan bayi, dengan cara mengurangi jumlah kehamilan tidak diinginkan.

XS
SM
MD
LG