Tautan-tautan Akses

WHO Lancarkan Kampanye untuk Kurangi Tingkat Kematian Bayi Baru Lahir

  • Vidushi Sinha

Menurut WHO dan Save the Children, Tiongkok merupakan salah satu dari lima negara di dunia dengan peluang rendah untuk bertahan hidup bagi bayi-bayi yang baru lahir.

Menurut WHO dan Save the Children, Tiongkok merupakan salah satu dari lima negara di dunia dengan peluang rendah untuk bertahan hidup bagi bayi-bayi yang baru lahir.

Suatu kajian baru yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia WHO dan LSM Save the Children menyerukan tindakan internasional lebih banyak lagi untuk menghindari kematian bayi baru lahir yang dapat dicegah setiap tahun di seluruh dunia, yang kebanyakan terjadi di negara-negara berkembang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Save the Children menyatakan setiap tahun, 3,3 juta bayi baru lahir meninggal dalam empat minggu pertama usia mereka.

Peluang bertahan hidup bagi bayi-bayi baru lahir sangat buruk di lima negara: India, Nigeria, Pakistan, Tiongkok dan Republik Demokratik Kongo. Satu dari empat kematian bayi terjadi di India.

Dokter anak Joy Lawn adalah salah seorang penyusun laporan ini. Ia mengatakan beberapa strategi kesehatan sederhana dapat mengurangi tingkat kematian bayi baru lahir.

“Tidak melahirkan bayi di permukaan yang kotor, mengeringkan bayi, membuat bayi tetap hangat dan langsung menyusui bayi, mengurangi hampir setengah kematian bayi baru lahir di desa-desa terpencil di India. Ini hal yang mudah dilakukan,” ujarnya.

Berbagai penelitian lapangan menunjukkan langkah-langkah sederhana ini dapat mencegah paling sedikit dua pertiga kematian bayi baru lahir setiap tahun.

Faktor penting lainnya adalah kehadiran tenaga kesehatan terlatih. “Jika ada petugas kesehatan dengan peralatan dan obat-obat yang tepat di tempat melahirkan, maka kematian ibu dan bayi baru lahir dapat dikurangi,” ujarnya lagi.

Teknologi kesehatan sederhana juga dapat membantu. Alat bantu pernafasan murah yang disebut “infantAIR," misalnya, dapat menyelamatkan nyawa bayi-bayi baru lahir yang mengalami kesulitan bernafas yang akut.

Rebecca Richards-Kortum, guru besar bioteknik di Universitas Rice, di mana peralatan dibuat oleh satu tim mahasiswa peneliti, mengatakan, “Rencana kami adalah pertama-tama melakukan uji klinis secara cermat di sebuah rumah sakit besar di Malawi guna memastikan peralatan tersebut dimanfaatkan untuk memberikan layanan terbaik, dan kemudian membuat program-program pelatihan untuk perawat dan teknisi rumah sakit.”

Profesor Richard-Kortum dan tim mahasiswa Universitas Rice adalah satu dari 19 pemenang dalam kontes yang disponsori Badan Pembangunan Internasional Amerika (USAID), Bill and Melinda Gates Foundation, dan lain-lain, yang memperlihatkan cara-cara pencegahan inovatif dan perawatan bagi ibu hamil dan bayi baru lahir di pedesaan.

Administrator USAID Rajiv Shah mengatakan teknologi berperan penting dalam mengurangi kematian di kalangan bayi baru lahir. “Penting sekali bagi kita untuk memproduksi alat bantu pernafasan yang murah, meningkatkan sistem perawatan bayi kuning, pemantauan darah dengan alat elektronik dan telepon seluler sehingga kita dapat memantau kehilangan darah, obat-obat baru dan diagnostik agar masyarakat dapat melindungi diri mereka sendiri di desa-desa ketika mereka tidak memiliki akses ke rumah sakit,” ujarnya.

Ada bukti bahwa program-program untuk mengurangi kematian bayi baru lahir mulai mencapai kemajuan, terutama di beberapa bagian Asia Selatan.

Tetapi di Afrika, grafik kemajuan masih relatif datar. Laporan WHO/Save the Children memperkirakan perlu waktu lebih dari 150 tahun bagi Afrika untuk mencapai tingkat bertahan hidup bayi baru lahir seperti di Amerika atau di Inggris sekarang ini.

XS
SM
MD
LG