Tautan-tautan Akses

WHO Canangkan Penemuan Vaksin Malaria sebelum 2030

  • Joe de Capua

Seorang ibu di Afrika dan 2 anaknya tidur dengan kelambu untuk melindungi dari gigitan nyamuk (foto: dok). Malaria masih merupakan ancaman kematian yang tinggi di sub-Sahara Afrika.

Seorang ibu di Afrika dan 2 anaknya tidur dengan kelambu untuk melindungi dari gigitan nyamuk (foto: dok). Malaria masih merupakan ancaman kematian yang tinggi di sub-Sahara Afrika.

Penyakit Malaria masih menginfeksi ratusan juta orang dan menyebabkan lebih dari 660 ribu kematian setiap tahun di seluruh dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mitra-mitranya hari Kamis mengumumkan tujuan baru untuk menemukan vaksin berlisensi sebelum tahun 2030 yang akan mengurangi kasus malaria secara tajam dan pada akhirnya menghilangkan penyakit itu.

Peta Jalan Teknologi Vaksin Malaria 2013 diresmikan di Washington. Peta jalan ini memperluas ruang lingkup riset vaksin, menyerukan vaksin yang dapat mengurangi kasus malaria sampai 75 persen dan yang cocok digunakan di semua daerah endemik. Malaria berdampak di hampir 100 negara dan wilayah, terutama di sub - Sahara Afrika.

Dr. Vasee Moorthy dari Departemen Imunisasi dan Vaksin WHO mengatakan, “Data terbaru WHO memperkirakan ada 660.000 kematian setiap tahun. Atau sekitar 2.000 kematian terjadi setiap hari karena malaria. Sebagian besar kematian itu terjadi pada anak-anak balita di Afrika, tetapi ada juga kematian di beberapa bagian di Amerika, Timur Tengah dan Asia. Dan dalam hal jumlah kasus, kematian tersebut disebabkan oleh sekitar 219 juta kasus malaria.”

Meskipun masih belum ada vaksin malaria yang berlisensi, sejumlah kemajuan telah dicapai dalam mengurangi kasusnya. Kemajuan ini berkat diagnosis yang lebih baik, obat-obatan, kelambu berinsektisida dan pengendalian populasi nyamuk, yang membawa parasit malaria.

“Kami melihat 26 persen pengurangan angka kematian karena malaria secara global dalam satu dasawarsa terakhir. Jika kita bisa berhasil mengembangkan vaksin malaria, itu bisa melengkapi berbagai langkah pengendalian malaria ini,” tambah Moorthy.

Selanjutnya Dr. Moorthy mengatakan Peta Jalan Teknologi Vaksin Malaria 2013 ini merupakan pengembangan dari peta jalan awal yang diungkap tahun 2006.

“Targetnya sekarang lebih ambisius – peta jalan ini sekarang diperluas untuk mencakup Plasmodium vivax serta falciparum. Jadi falciparum adalah bentuk malaria yang menyebabkan sebagian besar kematian, tapi vivax tidak disertakan sebelumnya,” ungkap Moorthy.

Ada 27 kandidat vaksin malaria dalam percobaan klinis. Kandidat yang paling canggih, RTS, S/AS01, sedang dalam uji coba tahap III. Hasilnya akan diketahui pada tahun 2015, lalu akan ditinjau dari segi regulasi.

Peta Jalan Teknologi Vaksin Malaria adalah upaya kolaborasi yang dipimpin oleh WHO, bersama dengan Amerika dan Eropa dan lembaga pemerintah, donor, pengembang dan LSM.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG