Tautan-tautan Akses

WHO: ASI adalah Sumber Gizi Terbaik bagi Bayi

  • Lisa Schlein

Organisasi Kesehatan Sedunia WHO menilai ASI adalah sumber gizi terbaik bagi bayi dan batita atau bayi di bawah usia tiga tahun (foto: ilustrasi).

Organisasi Kesehatan Sedunia WHO menilai ASI adalah sumber gizi terbaik bagi bayi dan batita atau bayi di bawah usia tiga tahun (foto: ilustrasi).

Organisasi Kesehatan Sedunia WHO melaporkan pemberian ASI secara eksklusif hingga usia enam bulan bisa mencegah kematian lebih dari 200 ribu bayi setiap tahun.

Memperingati “Pekan ASI Sedunia” mulai tanggal 1 hingga 7 Agustus ini, sebuah studi baru WHO mendapati bahwa hanya sedikit negara yang menerapkan “International Code of Marketing of Breast-Milk Substitutes” – 32 tahun setelah diadopsi.

Organisasi Kesehatan Sedunia WHO menilai ASI adalah sumber gizi terbaik bagi bayi dan batita atau bayi di bawah usia tiga tahun. WHO mengatakan ASI memberi manfaat kesehatan seumur hidup. Misalnya, menurut WHO – orang yang pernah mendapat ASI sewaktu bayi memiliki kemungkinan lebih kecil menghadapi masalah berat badan atau obesitas dalam hidupnya kelak. Mereka juga kurang rentan terhadap diabetes dan tampil lebih baik dalam uji kecerdasan.

Seorang pakar ASI di Departemen Urusan Gizi bagi Kesehatan & Pembangunan WHO – Carmen Casanovas – mengatakan, hampir semua ibu secara fisik mampu memberi ASI dan akan melakukannya jika mereka memiliki dukungan dan informasi yang akurat. Namun ia mengatakan data menunjukkan hanya sedikit – yaitu 4 dari 10 anak di dunia – yang saat ini memperoleh ASI eksklusif.

Carmen Casanovas mengatakan sekitar 220 ribu nyawa bayi dapat diselamatkan setiap tahun jika anak-anak memperoleh ASI secara penuh.

“Apakah yang dimaksud dengan menyusui yang tepat? Itu berarti mulai memberi ASI pada saat-saat pertama kehidupan, dengan melakukan “skin-to-skin contact” atau sentuhan langsung ibu-dan-bayi. ASI eksklusif berarti pada masa enam bulan pertama, bayi tidak mengkonsumsi apapun selain ASI dan melanjutkan pemberian ASI dengan makanan tambahan yang tepat hingga usia dua tahun atau lebih,” ungkap Dr. Carmen.

Dr. Carmen Casanovas mengatakan banyak perempuan putus asa memberi ASI atau diarahkan agar percaya bahwa anak-anak mereka akan mengalami awal kehidupan yang lebih baik jika diberi susu formula atau pengganti ASI lainnya.

WHO mengadopsi “International Code of Marketing of Breast Milk Substitutes” tahun 1981 untuk menangkis pemasaran agresif produk tersebut kepada para ibu .

WHO mengatakan susu formula tidak mengandung antibodi yang ada pada ASI. WHO menambahkan bayi-bayi di negara berkembang terutama beresiko akibat penggunaan air yang tidak bersih dan barang-barang yang tidak disterilkan untuk membuat susu formula. WHO mengatakan bayi menjadi kurang gizi karena para ibu mungkin mencoba menghemat susu formula dengan mencampur susu formula dengan lebih banyak air.

Meskipun aturan itu diciptakan untuk melindungi para ibu dari kampanye promosi yang tidak jujur, Dr. Carmen Casanova mengakui aturan ini belum berhasil disosialisasikan. Ia mengatakan penelitian WHO menunjukkan hanya 1 dari 5 negara di dunia yang benar-benar menerapkan aturan itu. Ia menambahkan negara perlu mengadopsi dan menerapkan aturan itu sesuai situasi di negara bersangkutan.

WHO mengatakan sangat penting bagi setiap negara untuk mengawasi penerapan aturan ini. WHO mencatat aturan ini memperbolehkan negara-negara anggota untuk memberi sanksi mereka yang tidak mematuhinya. Mereka yang melanggar aturan itu dapat didenda atau dihukum dengan cara lain.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG