Tautan-tautan Akses

Wawancara VOA dengan Vikram Nehru

  • Made Yoni

Vikram Nehru, pakar kebijakan pembangunan, politik dan ekonomi untuk kawasan Asia dari lembaga riset global Carnegie Endowment for International Peace (foto: VOA/Made Yoni).

Vikram Nehru, pakar kebijakan pembangunan, politik dan ekonomi untuk kawasan Asia dari lembaga riset global Carnegie Endowment for International Peace (foto: VOA/Made Yoni).

Vikram Nehru adalah pakar kebijakan pembangunan, politik dan ekonomi untuk kawasan Asia dari lembaga riset global Carnegie Endowment for International Peace yang berkantor di Washington DC.

Analisa Vikram Nehru mengenai ekonomi dan politik Indonesia telah banyak menarik perhatian pakar internasional lainnya yang mengamati proses politik di tanah air khususnya pemilu legislatif dab pemilihan Presiden yang akan berlangsung tanggal 9 April dan 9 Juli 2014 mendatang.

Nehru juga menulis artikel mengenai Prioritas Kebijakan bagi Presiden Indonesia berikutnya, ia membagi prioritas tersebut dalam tiga bidang yaitu Ekonomi, Sosial dan kebijakan luar negeri kemudian merincinya masing-masing ke dalam lima sub- prioritas, antara lain dalam prioritas kebijakan ekonomi; Mendukung Pertumbuhan Manufacturing, Pembangunan Infrastruktur, Perlindungan Lingkungan, Mengurangi Kesenjangan sosial, Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Melakukan Reformasi yang berkesinambungan.

Made Yoni (VOA) berbincang-bincang dengan Vikram Nehru (VN) mengenai pemilu serta kajian prioritasnya bagi pemimpin Indonesia yang akan datang. Berikut bagian dari wawancara dengan Vikram Nehru.

VOA: Dari kandidat presiden sekarang, menurut anda siapa yang mampu meningkatkan situasi ekonomi dan politik seperti yang anda paparkan dalam analisa anda sebelumnya?

VN : Saya sama sekali tidak menganjurkan kandidat tertentu tapi penting untuk mengakui bahwa, yang pertama hanya ada dua kandidat yang sudah menyampaikan maksud mereka untuk mencalonkan diri sebagai Presiden yaitu Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie dari Golkar serta kandidat lain yang belum mengajukan nama dan mungkin tidak akan mengumumkannya sendiri karena cara-cara pelaksanaan pemilu di Indonesia bahwa pencalonan pemilu presiden atau pasangan Presiden baru terjadi setelah pemilu legislatif selesai yaitu tanggal 9 April. Jadi menurut jadwal Komisi Pemilu, 21 April akan diketahui siapa yang akan menjadi calon presiden. Agar partai atau koalisi bisa mengajukan calon, partai atau koalisi partai harus memenangkan 25 % suara nasional atau 20 % kursi di parlemen dalam pemilu ini. Jadi kemungkinan ada calon lebih dari tiga sangat kecil. Salah satu yang juga harus diingat adalah sistim pencalonan presiden akan berubah untuk pemilu tahun 2019.
Mahkamah Konstitusi baru saja mengeluarkan keputusan tapi pelaksanaan yang sekarang perlu diubah.

VOA: Dari lima prioritas kebijakan ekonomi yang anda sarankan bagi Presiden baru Indonesia nantinya, yang mana paling penting untuk dicermati oleh para pemilih ?

VN : Ada sejumlah prioritas, prioritas ekonomi, sosial , dan kebijakan luar negeri, masih-masing prioritas ini terbagi lagi menjadi lima sub prioritas, lima kebijakan ekonomi, lima kebijakan sosial dan lima kebijakan luar negeri. Sulit untuk mengatakan yang mana yang palling penting karena semuanya terkait. Dalam bidang Ekonomi misalnya sangat penting bagi Indonesia membangun infrastruktur karena menghubungkan Indonesia. Ada kebijakan sosial yang sangat penting, yaitu melawan korupsi, ini sangat penting bagi prioritas sosial. Salah satu kebijakan yang juga saya anggap penting adalah mengembangkan ASEAN menjadi lembaga yang efektif untuk menghadapi tantangan abad ke 21, yang mencakup keamanan yang sangat berkaitan erat dengan integrasi ASEAN, entitas ekonomi dan integrasi Asia.

Ini merupakan tantangan yang dihadapi Indonesia. Presiden Indonesia berikutnya harus menghadapi semua itu, Saya rasa penting untuk menekankan bahwa setelah 10 tahun sebagai presiden, SBY telah memposisikan Indonesia dengan baik, mulai dari sudut ekonomi, perdagangan global sangat mengesankan. Indonesia telah menempatkan diri dengan baik di tingkat global. Jadi ia meninggalkan kepada penggantinya kondisi negara yang sangat baik di dalam dan luar negeri. Ini memungkinkan pemimpin yang akan memerintah selama lima atau 10 tahun mampu menghadapi tantangan-tantangan yang sulit, tapi fakta mengatakan Indonesia adalah negara terbesar ke empat di dunia, demokrasi terbesar ke tiga di dunia, populasi yang besar di dunia, serta negara Muslim terbesar di dunia, jadi Indonesia mempunyai tantangan-tantangan yang unik.

VOA: Mengenai prioritas regional bagaimana pendapat anda dengan ketegangan belum lama ini antara Indonesia dengan Singapura dan Australia.

VN : Sebenarnya akan selalu ada isu antar negara tapi isu-isu ini saya anggap masalah sandungan kecil dalam hubungan antar negara, dibandingkan dengan persamaan dan nilai-nilai yang dianut ketiga negara, yaitu demokrasi, pasar bebas dan mengenai perubahan lingkungan. Jadi ada lebih banyak persamaan, negara-negara Asia bekerja sama dalam bidang yang luas sehingga ini adalah sandungan kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan dan harus dipandang sebagai masalah yang muncul sekarang namun esok akan dilupakan, yang akan bertahan adalah kepentingan yang lebih besar mengenai demokrasi, HAM dan pasar bebas.

VOA: Dari sekitar 190 juta pemilih sekitar 67 juta adalah memilih untuk pertama kali bagaimana dampak pemilih muda ini nantinya pada pemilu?

VN : Memiliki jumlah pemilih baru yang besar akan berdampak penting. Saya rasa kita akan menyaksikan, para pemilih muda mencari para calon baik di untuk Parlemen maupun Presiden dengan pandangan yang benar-benar baru, mereka tidak dibebani dengan masa lalu dan berwawasan ke depan, mereka menginginkan lapangan kerja, akses kesehatan, layanan, pekerjaan yang lebih baik dan akan mengamati para calon apakah mereka bisa memenuhi persyaratan ini, apakah para calon ini mendukung pertumbuhan dan kesempatan di masa yang akan datang. Dimensi lainnya yang sudah umum diketahui di Indonesia, mengingat fakta bahwa ada sejumlah besar pemilih muda yang memilih untuk pertama kalinya, media sosial dan komunikasi digital akan menjadi sangat penting dimana para calon bisa menggunakan sosial media, facebook, twitter dan lain sebagainya secara cerdik, yang bisa merangkul kelompok pemilih ini. Tren ini sudah terjadi, semua partai sangat canggih dengan media komunikasi yang tersedia di Indonesia, seperti juga diketahui Indonesia adalah salah satu pengguna sosial media terbesar sehingga bisa menjadi cara partai politik dan calon presiden menyampaikan pesan-pesan mereka secara teratur dan membangun citra mereka dengan pemilih baru ini.

VOA : Jadi dua calon ini menurut anda sudah melakukan strategi ini?

VN : Tentu mereka melakukannya, kita akan melihat kandidat lain yang diumumkan setelah tanggal 9 April. Kita akan melihat peningkatan tajam aktivitas di sosial media juga penyampaian pesan dengan kampanye gaya lama. Salah satu faktor penting dalam kampanye calon presiden di masal lalu bahkan juga kampanye sekarang adalah ada pola dimana para pemilih bisa saja memilih berdasarkan program partai tapi memilih presiden berdasarkan kepribadiannya, apakah mereka menarik, memikat. apakah mereka berkharisma. Seperti yang kita ketahui tahun 2004 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak dikenal dan muncul sebagai calon kuat karena ia punya daya tarik dan hal yang sama tampaknya akan terjadi dalam pemilu ini. Sekarang semua jajak pendapat mendapati Gubernur Jokowi meskipun belum mengumumkan dirinya sebagai calon/ PDIP belum mengumumkan kandidatnya, dimana saja namanya tercantum dalam 16 dari 17 jajak pendapat ia muncul sebagai yang pertama karena jelas ia punya daya tarik bagi kalangan luas, dia memiliki reputasi yang tidak tercela dalam hal pemerintahan yang baik, gaya pemerintahan yang langsung, dan berorientasi pada rakyat, tidak tampak elit tapi sangat terlibat dengan rakyat, menampilkan dirinya sebagai pemecah masalah dan salah satu masalah yang menjadi keprihatinan bagi para pemilih Indonesia adalah meskipun Indonesia pertumbuhannya pesat selama 10 tahun terakhir ada perasaan diantara rakyat yang lebih miskin bahwa sebagian rakyat tidak diuntungkan sebagaimana mereka yang kaya. Jadi mereka mengharapkan para calon ini akan menyelesaikan masalah mereka, untuk mendapat air bersih, jalan-jalan, sekolah, klinik kesehatan yang baik dan pada saat ini tampaknya Gubernur Jokowi mampu meraih pemilih potensial ini meskipun ia belum diumumkan sebagai calon. Jadi kita sedang menyaksikan fenomena yang menarik di Indonesia.

VOA: Dari pemilu sebelumnya tampaknya partai-partai agama kehilangan kursi cukup banyak di DPR, menurut anda apakah mereka masih memiliki daya tarik bagi pemilih muda?

VN : Saya rasa pada pemilu 2014 ini kita akan melihat tren yang muncul pada tahun 2009, mungkin akan berlanjut, bahwa bagian partai agama akan makin menciut dan alasannya tidak terkait sikap agama atau sekular. Namun faktanya partai-partai keagamaan ini dilanda skandal korupsi khususnya PKS. Saya rasa ini akan merugikan partai terhadap pemilih. Alasan lainnya jika kita mengamati sikap partai sekular mereka lebih sensitif akan masalah-masalah agama sampai-sampai mereka mengadopsi banyak program kerja partai agama, oleh karenanya partai agama akan makin kehilangan pamor dalam pemilu mendatang.

VOA: Demokrasi Indonesia masih terbilang muda, dan kita tahu kematangan demokrasi tergantung pada masyarakat dan rakyatnya sendiri. Menurut anda apakah pemilih Indonesia sudah cukup matang untuk memilih pemimpin yang tepat?

VN : Salah satu hal yang paling luar biasa dari pemilu Indonesia adalah tidak pernah ada pertanyaan apapun mengenai pemilu bebas dan adil dalam empat pemilu terakhir. Jika semuanya bebas dan adil, tanpa kontroversi. Oleh karenanya harus ada yang memberi selamat kepada Indonesia, meskipun demokrasinya masih muda dibandingkan dengan demokrasi di dunia, pemilu ini adalah yang keempat yang diadakan secara terbuka sejak Presiden Suharto mundur. Pemilu telah dilangsungkan sangat baik dengan sedikit sekali kontroversi. Ada penerimaan atas hasil pemilu, dan kita menyaksikan kematangan sistim politik. Jumlah partai secara bertahap menurun, karena sistim yang berlaku hanya dua atau tiga calon presiden yang muncul jadi ada pilihan yang sangat jelas yang diajukan kepada rakyat Indonesia. Pada pemilu 2004 dan 2009 rakyat Indonesia jelas memilih kestabilan dan kepemimpinan, seseorang yang memposisikan dirinya sendiri, dan yang akan membawa kestabilan bagi Indonesia, dan sebagai yang pertama menjabat kedua masa jabatannya secara penuh, sebagai Presiden selama 10 tahun SBY telah membawa kestabilan bagi Indonesia. Indonesia matang dibawah kepemimpinannya sehingga saya sangat yakin pilihan tersebut, pilihan serupa disampaikan kepada rakyat Indonesia dalam pemilu ini bahwa pemilih akan memberikan pilihannya demikian pula demokrasi akan lebih matang. Saya yakin akan menjadi pilihan yang bijaksana.

VOA: Apakah ada kemungkinan terjadi pemilu putaran kedua?

VN : Sangat sulit untuk diramalkan, menurut saya semuanya akan tergantung pada apakah Jokowi akan mencalonkan diri atau tidak berdasarkan informasi sekarang, ia yang paling populer. Bisa saja antara sekarang sampai bulan April calon-calon lainnya akan muncul khususnya dari konvensi Partai Demokrat, persaingan bisa saja akan berubah, tapi pada saat ini Jokowi masih memimpin dan jika mencalonkan diri sangat besar kemungkinannya tidak ada pemilu putaran kedua, ia bisa menjadi pemenang. Yang menjadi pertanyaan di benak semua orang adalah apakah ia akan mencalonkan diri atas nama PDIP atau tidak, apakah ia akan memutuskan untuk meninggalkan PDIP dan mencalonkan diri sebagai presiden dari partai lain. Ini semua menjadi spekulasi tidak ada yang mengetahui keputusan Ibu Megawati dalam hal siapa yang akan menjadi calon PDIP. Kita harus menunggu.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG