Tautan-tautan Akses

Wawancara dengan Sidney Jones Seputar ISIS dan Ancaman Teror di Indonesia


Aparat Polisi bersenjata lengkap melakukan latihan pengamanan anti teror pembebasan sandera di sebuah gedung pemerintahan di Jakarta. (Foto: dok VOA/Andylala).

Aparat Polisi bersenjata lengkap melakukan latihan pengamanan anti teror pembebasan sandera di sebuah gedung pemerintahan di Jakarta. (Foto: dok VOA/Andylala).

ISIS mengancam akan melakukan serangan teror ke 70 negara, termasuk serangan teror ke Indonesia. Bagaimana sebenarnya peta kekuatan ISIS di Indonesia?

Dunia dikejutkan dengan serangan teror bersenjata di kota Paris Perancis Jumat (13/11), yang menewaskan setidaknya 130 orang. Kelompok militan Negara Islam Irak Suriah (Islamic State of Iraq and Syria-ISIS), mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan itu.

Sebelumnya pada September lalu, ISIS mengancam akan melakukan serangan teror ke 70 negara, termasuk ke Indonesia. Bagaimana sebenarnya peta kekuatan ISIS di Indonesia?

Berikut wawancara eksklusif reporter VOA Andylala dengan Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones. Sidney Jones menyebut ada sel kelompok teroris di Jakarta dan sekitarnya yang lebih berbahaya dari kelompok Santoso di Poso Sulawesi Tengah.

VOA: Pemerintah Indonesia berupaya keras agar serangan teror bersenjata seperti di Paris oleh kelompok ISIS, tidak terjadi di Indonesia. Seberapa besar kekuatan ISIS di Indonesia?

Sidney Jones (SJ): Saya kira ga mungkin ada serangan seperti Paris terjadi di Indonesia. Karena kelompok-kelompok (radikal) di Indonesia tidak seprofesional tim yang ada di Paris. Apalagi, ISIS pusat tidak begitu peduli dengan Asia Tenggara. Dibanding dengan kepedulian mereka terhadap Paris, yang merupakan jantung kekuatan Eropa.

Tetapi saya kira kita harus waspada, karena sekarang ini ada sekitar 200 orang Indonesia yang sudah bergabung dengan tentara ISIS yang ada di Suriah. Ada juga yang lebih dari 100 orang dipulangkan dari perbatasan Turki, karena mereka ingin bergabung. Tetapi setengahnya dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.

Karena banyak orang Indonesia yang datang ke sana dengan keluarga. Ini bisa menjadi ancaman kalau antara orang di sini antara pendukung ISIS yang ingin melakukan kekerasan atas kemauan sendiri. Kecuali ada yang bergabung dari Suriah yang sudah terlatih di sana saya kira kapasitasnya masih rendah sekali. Lihat saja Santoso, apa yang bisa dia perbuat? Tidak banyak. Dia bisa tembak dua atau tiga polisi, tapi untuk pemboman massal, saya kira di luar kapasitas dia. Juga untuk aksi yang terkoordinasi seperti yang terjadi di Paris. Kelompok-kelompok di sini tidak punya orang yang mengorganisir aksi seperti itu.

Artinya kelompok baru ini sangat berbeda dengan kelompok Jamaah Islamiyah semasa Dr Azhari dan Noordin M Top?

Setelah tahun 2009, kelompok-kelompok jihad (radikal) betul-betul tefragmentasi atau terpecah belah. Dan sekarang ini ada banyak sel yang cukup berbahaya dari sisi ideologi, tapi dari kapasitas melakukan aksi jihad (radikal) masih sangat kurang. Sejak tahun 2009 sampai sekarang ini misalnya saja tidak ada 1 bom yang meledak seperti semestinya setelah Noordin Top meninggal.

Apakah mereka terputus dengan dunia luar minimal dengan kelompok radikal di Filipina?

Oh kalau dengan Filipina masih ada hubungan. Malah, pada Kamis pekan lalu ada seorang Indonesia yang meninggal dalam pertempuran antara marinir Filipina dengan satu kelompok pro ISIS di Filipina. Nama kelompoknya AKP Anshar Khilafah Philippines.

Untuk di Asia Tenggara apakah kelompok pro ISIS di Indonesia atau Filipina ada koneksi dengan ISIS pusat?

Ada koneksi melalui individu. Tetapi antara kelompok satu dengaan yang lain keliatannya belum ada. Tetapi ada tekanan baik dari Filipina maupun Indonesia, untuk mendirikan wilayah ISIS Asia Tenggara. Nah, tapi saya masih meragu, apakah bisa mereka bisa membentuk itu. Karena harus ada persetujuan tentang siapa Amir (pemimpin) nya. Dan itu gak begitu gampang.

PPATK beberapa waktu lalu merilis ada dana dari Australia untuk gerakan terorisme di Indonesia.

Iya, tapi kita ga tau dana itu untuk siapa diarahkan. Saya masih ragu bahwa itu memang diarahkan ke kelompok pro ISIS di Indonesia. Kita ga tau kepada siapa atau untuk tujuan apa. Dan kita harus menunggu informasi lebih lengkap.

Polisi janji untuk menangkap Santoso dan kelompoknya akhir tahun ini.

Iya bisa saja menghabisi Santoso, tapi menurut saya dia (Santoso) bukan yang paling penting. Dia memang menamakan diri sebagai ‘komandan junud khilafah ISIS Indonesia,’ tapi jauh lebih besar bahaya nya sel-sel yang ada dekat Jakarta. Bukan yang ada di tengah Poso. Apa yang Santoso bisa perbuat dengan sekian banyak polisi dan TNI yang da di sana? Tetapi sel-sel yang ada di Depok, di Bekasi, di Jakarta, di Surabaya pada akhirnya lebih berbahaya dibanding Santoso sendiri.

Mereka ini terputus dengan Santoso ?

Ada koneksi tapi secara gografis jelas terputus. Dia dulu pada tahun 2013-2014, Santoso yang menyuruh para alumni dia untuk melakukan kekerasan di Jakarta dan di beberapa tempat lain tapi semuanya gagal. Kecuali ada orang yang pulang dari Suriah dengan keterampilan baru.

Saya kira ancaman kekerasan besar di Indonesia masih agak rendah. Tetapi kalau ada orang yang pulang (dari Suriah) dengan keterampilan baru dan dengan ideologi yang kuat dengan hubungan internasional yang luas, memang orang seperti itu yang bisa menghidupkan kembali gerakan teroris di Indonesia. [aw/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG