Tautan-tautan Akses

Wawancara VOA dengan JRX 'Superman Is Dead'


JRX dan SID menolak reklamasi Teluk Benoa di Bali (courtesy: SID).

JRX dan SID menolak reklamasi Teluk Benoa di Bali (courtesy: SID).

"Kami tak ingin menjadi generasi lalai, yang mewarisi ketimpangan ekonomi dan kerusakan ekologi," tutur  SID dalam wawancara dengan VOA.

Gara-gara mendukung penolakan reklamasi Teluk Benoa di pulau Bali, Band Indonesia beraliran punk rock 'Superman Is Dead' (SID) seringkali ditolak untuk tampil di berbagai pertunjukan.

Band beranggotakan tiga musisi, Bobby Kool (Gitar, Vocal) Eko Rock (Bass) dan Jerinx (Drum) ini dikenal sangat gigih menyuarakan penolakan atas rencana pemerintah untuk melakukan reklamasi di Teluk Benoa dengan membuat pulau-pulau baru seluas 700 hektar. Pro dan kontra ini telah berlangsung sejak akhir tahun 2012, seiring dengan keluarnya izin reklamasi dari pemerintah.

SID yang pernah meraih Double Platinum di album Kuta Rock City (2003), The best new Artist MTV Award (2003),dan menjadi band Asia kedua yang terpilih dan diundang tampil dalam Vans Wrap Tour Concert, West Hollywood California ini, pernah melakukan tour 16 kota di Amerika Serikat.

Ditemui Produser VOA, Naratama di sebuah kafe di kota Denpasar, Bali, baru-baru ini, vokalis Bobby Kool bercerita tentang SID dan Reklamasi Bali.

VOA: Apa kabar SID? Apakah kegiatan akhir-akhir ini?

SID: Kabar baik, terima kasih. Saat ini kami sedang dalam proses persiapan menuju album baru. Tapi proses yg masih dalam tahap yg sangat jauh dari masuk studio rekaman. Lebih ke mempersiapkan fisik, mental dan spiritual kami guna membangun energi yg akan menjadi kerangka album baru kami.

JRX: Saya pribadi sudah menulis puluhan lagu baru namun masih terhadang di kendala lirik.

Bobby Kool, vokalis SID dengan Naratama Rukmananda (VOA) di Denpasar, Bali (VOA/Naratama).

Bobby Kool, vokalis SID dengan Naratama Rukmananda (VOA) di Denpasar, Bali (VOA/Naratama).

​VOA: Sebagai Band beraliran Punk Rock, menurut SID bagaimana perkembangan musik Punk di Indonesia saat ini?

SID: Kalau dilihat dari kacamata nasional, punk rock masih cenderung baik-baik saja. Masih bisa survive. Masih ada peminatnya meski tidak semasif metal, pop, atau EDM (bisa dilihat dari banyaknya festival metal, EDM atau pop berkelas internasional diadakan di Indonesia). Pelaku skena punk rock masih cenderung asik di dunia bawah tanahnya, jadi ada semacam hambatan regenerasi, dan hasilnya, band-band berlabel 'punk' yg menguasai panggung-panggung besar hanya band yg itu-itu saja. Indonesia perlu lebih banyak pelaku skena punk rock yg punya passion besar untuk membuat punk rock kembali menjadi ancaman dan diperhitungkan. Mungkin sudah saatnya merancang sebuah festival punk rock bertaraf internasional atau hal-hal besar seperti itu.

VOA: Sejak tahun 2014, SID menyuarakan menolak Reklamasi Teluk Benoa. Mengapa?

SID: Karena kami lahir, tumbuh dan kemungkinan besar akan mati di Bali. SDA dan SDM Bali sudah terlalu lama dieksploitasi oleh pusat atas nama 'pariwisata' tanpa memikirkan impact jangka panjangnya terhadap warga lokal. Kami tak ingin menjadi generasi lalai yg mewarisi ketimpangan ekonomi, kerusakan ekologi dan problem sosial yang destruktif kepada generasi setelah kami. Ini rumah kami. Kami tidak mau diperalat. Kami punya 'senjata (musik)' untuk melakukan perlawanan, ya kami lawan.

VOA: Apakah hal ini berpengaruh pada kebebasan SID untuk tampil dalam konser di Indonesia?

SID: Sangat. Banyak event organizer yang jadi berpikir dua kali untuk mengundang SID. Mereka sering dipersulit ijinnya, atau ditekan oleh orang-orang tertentu. Seiring memanasnya tensi penolakan terhadap reklamasi, makin banyak pula tekanan yang diterima oleh organizer-organizer yang mengundang SID. Intinya, mereka (pro reklamasi) khawatir gerakan penolakan menjadi semakin besar karena terus-terusan kami gemakan.

VOA: Apakah lagu 'Sunset di Tanah Anarki' diinspirasi oleh gerakan menolak Reklamasi?

JRX: Saat saya menulis liriknya, kasus reklamasi Teluk Benoa belum terjadi. Saat itu saya meresonansikan alur cerita berdasarkan kisah nyata kawan saya Wayan Gendo - yg kebetulan sekarang adalah komandan ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi). Gendo adalah seorang aktivis yg menurut saya 'murni' dalam berjuang. Tanpa pamrih. Penjara dan premanisme ia hadapi dengan berani. Saya juga terinspirasi kisah (Alm.) Munir, Wiji Thukul, Marsinah dan individu-individu progresif yg mengorbankan hidupnya demi cinta yg lebih besar.

VOA: Apakah SID akan meluncurkan album baru?.

Tentu saja. Tapi masih terlalu jauh untuk dibicarakan saat ini.

VOA: Apakah SID akan kembali Tour di Amerika? atau rekaman dengan musisi Amerika?

Kemarin ada tawaran konser di Inggris, tapi tidak jadi karena waktunya terlalu mepet. Kami tak punya cukup waktu mengurus administrasinya. Saat ini ada tawaran konser di Amerika, tapi masih dalam proses nego dan sebagainya. Nanti kalau sudah ada kepastian, pasti akan kami kabari. Semoga semua lancar ya. [nr]

Aksi panggung grup band SID dalam salah satu penampilannya (courtesy: SID).

Aksi panggung grup band SID dalam salah satu penampilannya (courtesy: SID).

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG