Tautan-tautan Akses

Wawancara Eksklusif dengan Mantan Aktivis Jamaah Islamiyah


Ali Fauzi Manzi, mantan aktivis Jamaah Islamiyah. (VOA/Andylala Waluyo)

Ali Fauzi Manzi, mantan aktivis Jamaah Islamiyah. (VOA/Andylala Waluyo)

Ali Fauzi mengatakan Indonesia harus tetap waspada karena selama konflik global masih ada, maka konflik di tingkat lokal, termasuk Indonesia, pasti juga akan ada.

Ali Fauzi Manzi, mantan kepala instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah memprediksi masih akan ada serangan teroris di Indonesia pasca peristiwa pengeboman kafe Starbucks dan pos polisi, yang disertai penembakan oleh kelompok teror di kawasan Sarinah Thamrin, Jakarta, 14 Januari lalu.

Ali, yang juga mantan anggota kelompok teroris Front Pembebasan Islam Moro (MILF) di Filipina, juga mengatakan, peristiwa Sarinah yang menewaskan tujuh orang dan melukai sekitar 30 warga sipil dan anggota polisi itu, adalah bentuk serangan teror yang gagal.

Ali Fauzi Manzi adalah adik kandung terpidana mati Bom Bali, Amrozi, dan terpidana seumur hidup Ali Imron. Pada 1998, Ali ditunjuk sebagai kepala instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah (JI) Wakalah (wilayah) Jawa Timur.

Tahun 2000 Ali keluar dari JI dan bergabung dengan kelompok Kompak (Komite Penanggulangan Krisis) sebagai kepala instruktur pelatihan militer milisi Ambon dan Poso. Ia juga melatih milisi Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera bahkan dari Malaysia dan Singapura.

Tahun 2002, Ali Fauzi berangkat ke Mindanao, Filipina, dan mendirikan kamp pelatihan militer MILF bersama Abdul Matin, Omar Patek, Marwan (dari Malaysia), Mu’awiyah (dari Singapura) dan lainnya. Tahun 2004 Ali ditangkap dan ditahan oleh pihak keamanan PNP (Polis Nasional Philipina) dan dipulangkan ke Indonesia pada 2006.

Sejak tahun 2009 Ali menjadi peneliti bom dan teroris. Sehari-hari Ali aktif menjadi dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiah Lamongan, Jawa Timur, dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Ali mengambil gelar S2 Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya, dan saat ini ia membantu polisi dalam menangani kasus-kasus teroris di Indonesia.

Berikut wawancara eksklusif reporter VOA dengan Ali Fauzi.

VOA: Peristiwa pengeboman kafe Starbucks dan pos polisi yang disertai penembakan oleh kelompok teror di kawasan Sarinah Thamrin, Jakarta adalah peristiwa teror yang cukup besar sejak 2009. Anda melihat apakah gerakan ini dilakukan oleh Bahrunnaim dan Bahrumsyah aktivis ISIS asal Indonesia di Suriah, atau oleh Aman Abdurrahman, terpidana teroris yang juga simpatisan ISIS yang masih mendekam di penjara Nusakambangan Cilacap?

Ali Fauzi: Saya pikir, (peristiwa) Sarinah adalah bagian dari copy paste yang dilakukan oleh kelompok teror global (ISIS) di Paris, Perancis. Pola serangannya hampir sama, cuma kualitasnya jauh berbeda. Kalau di Perancis tingkat profesionalnya jauh lebih bagus, sementara yang di Sarinah lebih kepada operasi bondo nekat. Itu yang saya sebut operasi gagal total. Saya pikir (memang) ada peran-peran orang yang sampeyan sebut tadi, entah itu Bahrunnaim atau mungkin (buron teroris Poso) Santoso atau lainnya.

Polisi membesarkan peran Bahrunnaim dan Bahrumsyah ini dalam peristiwa Sarinah, sementara Aman Abdurrahman yang melakukan deklarasi (ISIS) di dalam penjara, terkesan terlupakan.

Kalau Aman Abdurrahman lebih pada sosok ideolog, bukan sosok operasional di lapangan. Karena memang jejak rekam beliau tidak pernah (aktif dalam dunia teroris). Apalagi dalam peristiwa Ambon, Moro Filipina bahkan Afghanistan. Jejak rekam beliau tidak pernah ikut dalam konflik-konflik itu. Lebih pada figur ideolog daripada kombatan.

Nah, kalau Bahrumsyah kemudian Bahrunnaim, dan Abu Jandal itu kan orang-orang fighter. Orang-orang itu yang mempunyai kapabilitas mengatur serangan besar ini.

Dana itu berasal dari mereka semua?

Sebetulnya kalau bicara tentang dana operasional Sarinah itu tidak mahal. Karena yang dibuat juga bomnya bom mercon. Kemudian mereka tidak menggunakan (bom) mobil, tidak menggunakan apa-apa. Senjata yang digunakan juga senjata rakitan. Tentu biaya yang digunakan sangat murah. Mungkin tidak lebih dari Rp 1 juta.

Anda melihat apakah mereka satu dalam sebuah organ di Indonesia yaitu Majelis Mujahidin Indonesia Timur dan Majelis Mujahidin Barat yang berafiliasi ke ISIS?

Saya pikir..mereka yang tergabung (atau simpastisan) ISIS, merekalah yang bermain di Sarinah.

Untuk ke depannya, seperti apa prediksi anda ?

Ke depannya tetap perlu diwaspadai. Selama konflik global masih ada maka konflik di tingkat lokal (termasuk Indonesia) pasti juga akan ada. Karena biasanya konflik di tingkat global akan selalu mempengaruhi konflik lokal di Indonesia.

Gerakan aksi teror di Indonesia, masih akan berlanjut pasca peristiwa Sarinah?

Iya. Aksi teror di Indonesia masih akan berlanjut (setelah Sarinah) selama konflik global belum selesai. Karena ada efek domino. Tingkat global akan mempengaruhi di tingkat lokal.

XS
SM
MD
LG