Tautan-tautan Akses

AS

Seniman Grafiti Ikuti Program Mempercantik Kota Washington

  • Julie Taboh

Sebuah lukisan mural oleh seniman Aniekan Udofia di sebuah sudut kota Washington DC (foto: J. Taboh, VOA).

Sebuah lukisan mural oleh seniman Aniekan Udofia di sebuah sudut kota Washington DC (foto: J. Taboh, VOA).

Para pejabat di Washington DC menggagas program inovatif yang memanfaatkan bakat seniman lokal untuk mempercantik wajah kota.

Seperti banyak kota-kota lain, Washington DC juga punya masalah grafiti. Banyak bangunan dan rumah, terutama di lingkungan berpenghasilan rendah, sering menjadi target seni yang ilegal ini.

Para pejabat di ibukota AS menggagas program inovatif yang memanfaatkan bakat seniman lokal untuk mempercantik wajah kota.

Sejumlah peserta di lokakarya MuralsDC belajar menggunakan cat semprot untuk membuat grafiti yang membuat tampilan lebih indah dan bukannya mengganggu.

Mereka latihan di tembok-tembok berukuran kecil bersama laki-laki asal Liberia, Eric Ricks, seniman grafiti yang dulunya sering mengecat tembok secara ilegal, tetapi kini dibayar oleh pemerintah kota untuk membagikan ilmunya kepada para seniman muda.

“Saya senang berbagi ketrampilan mengecat dan melihat anak-anak muda menggelutinya dengan semangat yang sama ketika saya masih muda,” ujar Eric.

Lokakarya ini adalah bagian dari program MuralsDC yang digagas para pejabat kota untuk mengatasi masalah grafiti.

Seniman Eric Ricks melukis mural di kawasan Takoma, Washington DC (foto: J. Taboh, VOA).

Seniman Eric Ricks melukis mural di kawasan Takoma, Washington DC (foto: J. Taboh, VOA).

Setelah pelatihan 10 minggu, para peserta bekerja sama untuk menciptakan mural yang unik di sebuah tembok yang dulunya dipenuhi grafiti yang menyakitkan mata.

Eric menambahkan, “Sebagai imigran, saya merasa sedang mewujudkan impian di AS, karena ini satu-satunya tempat di mana saya bisa membuat grafiti dan menjadikannya sebagai mata pencaharian.”

Setelah Ricks membuat sketsa awal, murid-muridnya membantu mengecat latarnya, mewarnai bentuk-bentuk dan huruf-hurufnya, lalu mengecat gambarnya.

Nancee Lyons, juru bicara Departemen Pekerjaan Umum yang mendanai program itu, menjelaskan, “MuralsDC adalah program yang efektif, yang menghemat banyak uang pebisnis, terutama pengusaha kecil dan menengah.”

Pengusaha yang dimaksud seperti Sarbjit Singh Kochhar yang menghargai mural yang dibuat Ricks di bagian belakang tokonya.

“Ini adalah kontribusi yang indah dari anggota masyarakat – bangunan bersih, karya seni indah, dan semuanya senang,” kata Sarbjit.

Sementara, Ernesto Zelaya, seorang seniman grafiti yang, seperti Ricks, dulunya membuat graffiti secara ilegal, tetapi sekarang menciptakan mural dengan bayaran.

“Saya senang kerja di luar ruangan, mengekspresikan diri, menunjukkan emosi dan menjadi diri sendiri,” katanya.

Ricks berencana membawa seninya itu keliling AS di mana dia berharap bisa mengecat mural di tiap negara bagian.

XS
SM
MD
LG