Tautan-tautan Akses

Wartawan Iran Dapat 'Peringatan' via SMS


Para wartawan Iran meliput hasil pemilu parlemen di Teheran, Iran, 29 April 2016 lalu (foto: ilustrasi).

Para wartawan Iran meliput hasil pemilu parlemen di Teheran, Iran, 29 April 2016 lalu (foto: ilustrasi).

Ratusan wartawan di Iran mendapat peringatan melalui pesan teks tanpa nama, yang mengingatkan mereka supaya tidak menghubungi apa yang disebut sebagai organisasi-organisasi “jahat” di luar negara itu.

Media Iran mengatakan sekitar 700 wartawan dan tokoh masyarakat menerima pesan teks itu hari Jum’at (1/7). Pesan itu mengatakan “semua kontak dan kolaborasi dengan elemen-elemen jahat yang berkantor di luar negeri – baik lewat surat maupun metode komunikasi lainnya – merupakan kejahatan dan akan dibawa ke muka hukum”. Ditambahkan bahwa pesan ini merupakan “peringatan terakhir”.

Iran melarang warga negaranya melakukan kontak dengan media berbahasa Persia di luar negeri, termasuk VOA Siaran Persia dan BBC Siaran Persia.

Iran memiliki sejarah kelam menangkapi wartawan yang dituding bekerjasama dengan organisasi-organisasi di luar negeri.

April lalu empat wartawan yang ditangkap pada November 2015 dijatuhi hukuman penjara antara 5 – 10 tahun, berdasarkan tuduhan bersekongkol dengan pemerintah asing dan mengancam “keamanan nasional”.

Komite Perlindungan Wartawan (CPJ) memprotes vonis itu dan mengkategorikan tiga dari empat wartawan itu sebagai “wartawan pembaharu”.

Sherif Mansour dari CPJ mengatakan tuduhan-tuduhan semacam itu menggarisbawahi perlunya “perubahan undang-undang yang mendorong pelecehan dan pemenjaraan wartawan”.

Suratkabar reformis Iran “Ghanoon” pada 20 Juni 2016 mengumumkan bahwa jaksa kriminal Iran telah membekukan ijin penerbitan suratkabar tersebut setelah adanya keberatan dari Pasukan Revolusioner Iran. Situs suratkabar itu mengatakan “Ghanoon” telah dituduh “menerbitkan berita bohong untuk mengacaukan opini publik”.

April lalu Iran memenjarakan seorang karyawati Thomson Reuters Foundation yang mendukung wartawan-wartawan internasional. Teheran menuduh Nazanin Zaghari-Ratcliffe – yang memiliki dwi kewarganegaraan Iran dan Inggris – berupaya menggulingkan pemerintah Iran lewat keanggotaannya pada “beberapa perusahaan dan institusi asing”. [em]

XS
SM
MD
LG