Tautan-tautan Akses

Wartawan Sains AS Selidiki Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan

  • Darren Taylor

Menurut penyelidikan Dan Ferber, suhu udara yang lebih panas di Afrika menyebabkan wabah penyakit lebih fatal (foto: dok).

Menurut penyelidikan Dan Ferber, suhu udara yang lebih panas di Afrika menyebabkan wabah penyakit lebih fatal (foto: dok).

Empat tahun ini, seorang wartawan sains Amerika menyelidiki hubungan antara perubahan iklim terhadap penurunan kesehatan manusia, yang dimuat dalam Science, salah satu jurnal ilmiah terkemuka di dunia.

Empat tahun ini, Dan Ferber, wartawan sains dan sekaligus ahli biologi, menyelidiki hubungan antara perubahan iklim dan penurunan kesehatan manusia. Hasil penyelidikannya itu dimuat dalam Science, salah satu jurnal ilmiah terkemuka di dunia.

Ferber mengatakan hasil penyelidikan mengejutkannya. "Saya tentu saja tahu bahwa perubahan iklim adalah kabar buruk, tapi saya tidak menyadari dampaknya begitu luas," ujarnya.

Para ilmuwan mengatakan suhu udara yang lebih tinggi menimbulkan dampak cuaca yang lebih ekstrim, seperti banjir, di seluruh Afrika. Menurut Ferber, hal itu akan mengakibatkan penderitaan besar di seluruh benua itu.

“Banjir bisa menyebabkan wabah penyakit menular, diare, penyakit pernapasan, serta penyakit-penyakit yang ditularkan melalui nyamuk maupun tikus,” paparnya.

Ia berpendapat, sistem kesehatan Afrika tidak mampu mengatasi beban penyakit yang ada sekarang. Jadi, tambahan besar apapun dalam epidemi karena suhu yang lebih tinggi akan mengakibatkan kematian dalam skala besar.

Ia mengatakan, “Kenaikan suhu udara hanya beberapa derajat Celcius, cukup bisa menyebarluaskan penyakit menular.”

Ferber mengingatkan, Afrika sebaiknya mulai bersiap menghadapi kenaikan besar kasus penyakit malaria. Ia mengatakan, suhu udara yang lebih hangat akan memungkinkan nyamuk pembawa penyakit hidup dan berkembang biak di beberapa bagian Afrika walaupun sekarang ini belum ada. Menurutnya, hal ini sudah terjadi.

Ilmuwan juga mengaitkan samudera yang lebih hangat akibat cuaca panas dengan epidemi kolera. Bakteri kolera hidup di laut, dalam hewan-hewan kecil yang disebut zooplankton. Semakin hangat air laut, zooplankton semakin berkembang biak. Semakin banyak zooplankton, kata Ferber, semakin banyak pula bakteri kolera.

Ahli biologi dan penulis itu mengatakan suhu yang lebih tinggi juga akan memicu peningkatan penyakit pernapasan.

Ferber menambahkan, asap adalah penyebab utama penyakit pernapasan. Di seluruh dunia, ia menunjukkan, cuaca panas dan kurangnya curah hujan mengeringkan hutan, dan menyebabkan kebakaran-kebakaran besar.

“Asap rokok berpengaruh besar bagi kesehatan dan menyebabkan peningkatan risiko serangan jantung serta masalah pernapasan, sama seperti masalah yang dihadapi petugas pemadam kebakaran yang terpapar asap,” tambahnya.

Untuk menuju Bumi yang sehat, kata Ferber, dunia harus segera menerapkan energi terbarukan dan bersih. Tidak ada pilihan lain.

XS
SM
MD
LG