Tautan-tautan Akses

Warga Turki Unjuk Rasa, Tuntut Diakhirinya Kekerasan


Seorang polisi tengah mengamankan lokasi pasca ledakan boom bunuh diri yang menarget sebuat pesta pernikahan di Gaziantep, Turki, 21 Agustus 2016 (Foto: REUTERS/Osman Orsal)

Seorang polisi tengah mengamankan lokasi pasca ledakan boom bunuh diri yang menarget sebuat pesta pernikahan di Gaziantep, Turki, 21 Agustus 2016 (Foto: REUTERS/Osman Orsal)

Sebagian dari 51 korban serangan bom bunuh diri pada sebuah pesta pernikahan warga Kurdi, Sabtu (20/8) lalu, telah mulai dimakamkan. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kelompok militan ISIS kemungkinan besar berada di balik serangan tersebut.

Banyak orang menyalahkan pemerintah, yang telah memerangi pemberontak Kurdi selama lebih dari 30 tahun ini. Ratusan orang berdemonstrasi di Istanbul hari Minggu, menuntut diakhirinya kekerasan.

Dua belas korban, termasuk seorang anak-anak, dimakamkan di kota Gaziantep, Turki Tenggara, hari Minggu, sehari setelah serangan itu. Mayat-mayat korban lainnya hancur dan para pejabat menyatakan perlu waktu untuk mengidentifikasi mereka.

“Kematian, apapun penyebabnya, menyedihkan. Tetapi lebih menyedihkan lagi jika kematian itu terjadi dengan disertai embel-embel agama, sewaktu mencampurkan agama dengan politik. Kami berharap terhindar dari kesedihan semacam itu. Mereka yang meninggal itu tidak bersalah,” kata seorang pelayat pada acara pemakanman di Gaziantep.

Lebih dari 50 orang tewas dan 70 lainnya luka-luka dalam serangan bom bunuh diri di sebuah pesta pernikahan warga Kurdi hari Sabtu. Tersangka pelaku berbaur dengan para tamu yang menari-nari di jalan dan kemudian meledakkan bom-bom rakitan. Presiden Erdogan mengatakan pelaku bertindak atas nama ISIS dan berusia antara 12 dan 14 tahun.

“Hasil awal dari kantor polisi dan gubernur menunjukkan ini merupakan serangan ISIS. Baru-baru ini, ISIS telah melakukan sejumlah upaya untuk melakukan reorganisasi atau penggantian anggota di Gaziantep. Banyak operasi yang telah dilancarkan, dan ini masih berlangsung,” kata Presiden Erdogan.

Sebagian wilayah ISIS di Suriah telah direbut pejuang Kurdi. Pemerintah Turki khawatir mengenai kemungkinan adanya hubungan antara pemberontak Kurdi di Turki dengan mereka di Suriah yang berupaya merebut wilayah untuk mendirikan negara merdeka.

Erdogan mengatakan tujuan serangan-serangan seperti yang berlangsung di Gaziantep adalah menimbulkan perpecahan di kalangan berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda di Turki: keturunan Arab, Kurdi, Turkmenisan dan sebagainya. Tetapi banyak warga Turki yang menyalahkan Erdogan karena gagal memelihara perdamaian.

“Tidak diragukan lagi pembantaian dilakukan oleh mereka yang melancarkan serangan-serangan di Suruc dan Ankara - mereka yang mengebom kota-kota Kurdi selama lebih dari setahun. Serangan terbaru ini menunjukkan bahwa satu-satunya cara menghentikan pembunuhan ini adalah perdamaian di antara kelompok masyarakat,” kata Ridvan Ozturk, seorang demonstran di Kabul.

Kudeta militer yang gagal terhadap pemerintah Turki bulan lalu menunjukkan bahwa penyebab kerusuhan yang meningkat di Turki tidak dapat ditimpakan hanya terhadap pemberontak, baik Kurdi maupun ISIS.

Tidak lama setelah pengeboman hari Sabtu, partai politik pro-Kurdi HDP mengecam serangan itu, seraya menyatakan serangan tersebut berlangsung hanya beberapa jam setelah sebuah organisasi militan Kurdi yang memperjuangkan otonomi dari pemerintah Ankara, mengumumkan rencana baru dalam upaya mengakhiri konflik puluhan tahun.

Kelompok Komunitas-Komunitas di Kurdistan, KCK, yang mencakup kelompok terlarang PKK, menyatakan siap memulai kembali pembicaraan perdamaian dengan Ankara, tetapi menyatakan pemerintah harus mengambil langkah pertama. Menurut pernyataan KCK, langkah-langkah itu didukung oleh negara-negara “sahabat” dan berbagai LSM di dalam maupun di luar Turki.

Pernyataan itu juga menyebutkan serangan Gaziantep “menarget mereka yang tegas dan konsisten dalam perdamaian, dan mereka yang memperjuangkan demokrasi, kesetaraan dan kebebasan.”

PKK melancarkan pemberontakan bersenjata pada tahun 1984. Mereka menginginkan otonomi di kawasan yang luas di bagian tenggara yang berbatasan dengan Suriah, Irak dan Iran. Hampir 50 ribu orang telah tewas dalam pertempuran ini.

Tahun lalu, sayap bersenjata PKK membatalkan gencatan senjata tiga tahun dengan Ankara, setelah pesawat-pesawat tempur Turki menyerang markas-markas pelatihan militer kelompok itu di Irak Utara sementara pejuang PKK bertempur melawan militan ISIS. Ankara juga mengebom beberapa markas PKK lainnya.

Gedung Putih mengecam serangan di Gaziantep, dengan menyatakan “pelaku tindakan biadab ini secara pengecut menarget pesta pernikahan.” Pernyataan hari Minggu itu menambahkan bahwa Wakil Presiden Joe Biden akan mengunjungi Ankara hari Rabu guna menegaskan kembali komitmen Amerika untuk bekerjasama dengan Turki memberantas terorisme. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG