Tautan-tautan Akses

Warga Muslim Amerika Galang Suara untuk Pemilihan Bulan November


Warga Muslim Amerika kini semakin condong ke Partai Demokrat, dan mereka diperkirakan akan memberikan suara dalam jumlah tertinggi dibanding sebelumnya untuk calon Demokrat Hillary Clinton dalam pemilihan presiden Amerika bulan November mendatang.

Warga Muslim Amerika umumnya telah dianggap sebagai konstituen “alami” Partai Republik. Namun, mereka kini semakin condong ke Partai Demokrat, dan mereka diperkirakan akan memberikan suara dalam jumlah tertinggi dibanding sebelumnya untuk calon Demokrat Hillary Clinton dalam pemilihan presiden Amerika bulan November mendatang.

Berikut laporan koresponden VOA Masood Farivar tentang pergeseran kesetiaan politik kelompok suara ini.

Umat sebuah masjid di pinggiran kota Washington, DC, jauh dari kubu Partai Demokrat. Setia pada agama dan keluarga, banyak jemaah di masjid Darl al Hijrah di Falls Church, Virginia, dulunya memberikan suara kepada Partai Republik.

Kini, sebagian besar mengatakan mereka akan memilih kandidat Demokrat Hillary Clinton, untuk mencegah saingannya dari Partai Republik memenangkan pemilihan menuju Gedung Putih.

“Kami semua sependapat. Dalam hal cara propaganda yang disebarkan tentang kami, kami tidak bisa diamkan itu,” kata Azmee Rehman, pemilih Muslim.

“Sangatlah penting bahwa kita tidak membawa islamophobia ke Gedung Putih. Oleh karena itu saya kira semua Muslim yang belum terdaftar untuk memilih harus mendaftarkan diri untuk memilih sehingga mereka dapat memberikan suara ke Partai Demokrat,” kata Sarah Severoni, yang juga pemilih Muslim.

Setiap hari Jumat, Fazia Deen, penghubung urusan luar Masjid Dar al-Hijrah, memimpin tim relawan muda untuk mendaftar para perempuan pemilih, yang merupakan bagian dari kampanye akar rumput secara nasional untuk mendaftar sejuta pemilih Muslim.

Alasan yang diberikan oleh Fazia Deen sederhana.

“Ini merupakan tahun yang penting. Kita punya Clinton dan orang gila ini, ya benar, Trump. Ini penting. Jika kita tidak ikut memberikan suara, Trump mungkin akan menang,” kata Fazia.

Seperti Fazia Deen yang lahir di Guyana, kebanyakan warga Muslim Amerika adalah imigran. Jajak pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar dari 3,5 juta warga Muslim Amerika condong ke Partai Demokrat dan berpandangan semakin progresif.

Pada tahun 2000, Muslim Amerika sangat mendukung George W. Bush dari Partai Republik sebagai presiden, tetapi dalam tiga pemilu terakhir, umat Islam telah memilih para calon Demokrat. John Esposito, guru besar di Universitas Georgetown, mengatakan pemilihan tahun 2000 adalah pengecualian.

"Secara historis, Partai Demokrat terlihat lebih sebagai partai rakyat, lebih inklusif daripada Partai Republik, yang masih cenderung dipandang oleh banyak orang sebagai partai kemapanan, partai golongan istimewa dan lain-lain,” kata John Esposito.

Perpindahan ke Partai Demokrat semakin dalam karena retorika Donald Trump dari Partai Republik yang dipandang sebagai anti-Muslim.

Walaupun jumlah warga Muslim Amerika tetap kecil, para aktivis mengatakan komunitas besar warga Muslim di Florida, Ohio, Virginia, Michigan dan Pennsylvania bisa berdampak penting dalam pemilihan ini.

“Bisa jadi warga Muslim di negara-negara bagian yang mengambang atau swing states akan membuat perbedaan. Sekali lagi satu persen itu akan menjadi sangat penting terutama di negara-negara bagian dimana perolehan suara akan sangat ketat,” kata Fazia Deen dari Masjid Dar al-Hijrah.

Tetapi para pakar mengatakan dalam jangka panjang seiring dengan komunitas Muslim Amerika yang semakin beragam secara sosial-ekonomi, demikian pula dengan pilihan politik mereka. Seperti kata profesor John Esposito dari Universitas Georgetown, itu adalah hal yang baik bagi demokrasi dan bagi masyarakat. [lt]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG