Tautan-tautan Akses

Warga Manila Angkat Suara Soal Perang Narkoba Duterte


Presiden Filipina Rodrigo Duterte mendemonstrasikan bagaimana pecandu narkoba mengirup zat tersebut dalam konferensi pers di Beijing, Oktober 2016. (AP/Ng Han Guan)

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mendemonstrasikan bagaimana pecandu narkoba mengirup zat tersebut dalam konferensi pers di Beijing, Oktober 2016. (AP/Ng Han Guan)

Di jalan-jalan Manila, warga dari berbagai profesi memberikan pendapatnya soal perang terhadap narkoba yang digalakkan Duterte.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte resmi menjabat selama enam bulan hari Jumat (30/12), tanpa ada tanda-tanda penurunan jumlah orang yang tewas dalam perang melawan narkoba yang digalakkannya.

Lebih dari 6.000 orang telah dibunuh dalam aksi anti-narkotika tersebut sejak ia berkuasa, sekitar sepertiganya dalam operasi-operasi polisi sementara sisanya masih diselidiki. Banyak di antaranya diyakini sebagai pembunuhan main hakim sendiri, yang tidak pernah dikutuk Duterte.

Mantan walikota Davao di selatan negara itu telah mengatakan perang atas narkoba akan tuntas dalam enam bulan, tapi ia kemudian memperpanjang tenggat. Bulan lalu ia menyatakan akan terus "sampai pengedar terakhir mati."

Langkahnya yang keras telah dikritik banyak pihak, termasuk Amerika Serikat dan PBB, namun Duterte mempertahankan status "sangat baik" dalam jajak pendapat dalam negeri, menurut kelompok survei Philippine Social Weather Stations bulan ini.

Jennelyn Olaires, 26, menangis di atas jenazah pasangannya, yang dibunuh di jalanan oleh kelompok main hakim sendiri, menurut polisi, dalam perang terhadap narkoba di kota Pasay, Metro Manila, Filipina, Juli 2016.

Jennelyn Olaires, 26, menangis di atas jenazah pasangannya, yang dibunuh di jalanan oleh kelompok main hakim sendiri, menurut polisi, dalam perang terhadap narkoba di kota Pasay, Metro Manila, Filipina, Juli 2016.

Di jalan-jalan Manila, warga dari berbagai profesi memberikan pendapatnya sebagai berikut.

"Usaha kami sangat menderita. Orang-orang takut keluar rumah. Pada saat fajar kami hanya punya beberapa pelanggan. Setidaknya jumlah pecandu dan pengedar narkoba telah berkurang." - Felicidad Magdayao, 59, pemilik sebuah restoran makanan siap saji.

"Beban saya dalam pengarsipan kasus di kantor telah berkurang. Saya sekarang lebih fokus pada pendidikan publik dan pencegahan." - Ronaldo David, 49, polisi.

"Mungkin ada cara lain agar orang-orang tidak perlu mati," ujarnya, menambahkan bahwa ia merasa lebih aman berjalan di jalan pada malam hari. - Cristine Angelie Garcia, 24, agen call center.

"Saya ada di pihak Duterte. Mungkin ia salah dimengerti karena ia tumbuh di jalanan." - Rosalina Perez, 41, dari distrik Tondo. Perez adalah saudara perempuan Benjamin Visda, yang dibunuh polisi dalam penyelidikan narkoba.

"Pada awalnya kami suka dengan apa yang ia (Duterte) perbuat. Tapi semakin lama saya mulai mempertanyakan apa yang ia lakukan. Semua yang ingin berubah dibunuh begitu saja. Mereka bahkan tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan pada pihak berwenang." - Weng Ruda, 36, ibu tiga anak. Tinggal di perumahan kumuh di tempat pembuangan sampah Payatas di Quezon City.

"Saya suka ia sangat tegas. Tidak ada anak-anak yang berkeliaran sekarang. Mereka juga menghindari perilaku buruk." - Zainab Omar, 41, guru, dari kota Taguig.

"Anak-anak lebih aman sekarang. Orang-orangtua dulu mendampingi anak-anak mereka ke sekolah sebelum Duterte menjadi presiden. Sekarang mereka membiarkan anak-anak pergi ke sekolah sendiri." Graciano De Leon, 19, tukang parkir, dari kota Paranaque.

Seorang petugas rumah pemakaman, yang tangannya terkena darah orang-orang yang dibunuh dalam perang narkoba, bersandar di sebuah rumah di Manila, Filipina, November 2016.

Seorang petugas rumah pemakaman, yang tangannya terkena darah orang-orang yang dibunuh dalam perang narkoba, bersandar di sebuah rumah di Manila, Filipina, November 2016.

"Apa yang ia lakukan bagus. Ia memberikan pekerjaan pada banyak orang dan banyak yang senang dengannya. Tapi saya tidak tahu dengan keluarga-keluarga (yang dibunuh) apakah itu baik untuk mereka." - Marianito Navarra, 54, petugas pengawas desa di kota Pasay.

"Saya kasihan dengan keluarga-keluarga mereka yang dibunuh, terutama mereka yang tidak tersangkut kejahatan sama sekali. Banyak orang yang dibunuh tidak terlalu terlibat narkoba. Mereka seharusnya ditangkap saja." -Bobby Dela Cruz, 54, pastor Katolik dan bekas pecandu narkoba.

"Orang-orang ini (pecandu narkoba) sedang berjuang untuk hidup mereka. Mereka butuh pertolongan kita. Kita harus membantu orang-orang ini." - Jose Cecilia Jr., 51, pemilik perusahaan truk, dari kota Santa Rosa di provinsi Laguna.

"Saya memberikan 100 persen untuk Duterte. Ia satu-satunya presiden yang melawan bandar narkoba dan sindikat lain di negara kita." - Kimee Enciso, 21, mahasiswi dari kota Quezon.

"Soal ia terlalu keras, saya kira pas. Ia pemimpin kita dan hanya melakukannya demi rakyat." - Orly Fernandez, 64, manajer operasional di layanan pemakaman Eusebio Funeral Services di kota Navotas.

"Sebelumnya kita mengambil satu mayat per hari, sekarang kita mengambil sekitar dua atau tiga per hari." - Sandro Gabriel Jr, 34, penggali kuburan di Taman Pemakaman Umum Pasay.

"Banyak orang yang ditembak dikuburkan di sini. Lebih dari 40 orang telah dikubur di sini baru-baru ini," ujarnya.

"...Saya tidak bilang Duterte harus terus membunuh orang. Tapi untuk kami, kami akan terus bekerja sepanjang ada pekerjaan."​ [hd]

XS
SM
MD
LG