Tautan-tautan Akses

Warga Guatemala Korban Riset Sipilis Tuntut Amerika Bayar Kompensasi

  • Greg Flakus
  • Dewi Sitompul

Mantan Presiden Clinton and Wapres Al Gore bersama Herman Shaw, 94, dalam sebuah konferensi pers 16 Mei 1997, meminta maaf kepada korban riset di Tuskegee.

Mantan Presiden Clinton and Wapres Al Gore bersama Herman Shaw, 94, dalam sebuah konferensi pers 16 Mei 1997, meminta maaf kepada korban riset di Tuskegee.

Para pengacara di Washington dan Guatemala mengupayakan kompensasi hukum bagi korban eksperimen para dokter Amerika di Guatemala pada akhir tahun 40-an, yang dengan sengaja menginfeksi sekitar 700 orang dengan virus sipilis.

Sebuah firma hukum di Washington, AS, mengirim surat kepada Jaksa Agung Amerika, Eric Holder minggu ini, meminta diadakannya sistem yang mengatur kompensasi bagi warga Guatemala yang terinfeksi sipilis lebih dari 50 tahun lampau. Salah satu pengacara yang menangani kasus itu, Piper Hendricks mengatakan ada tenggat waktu bagi Holder untuk merespon.

Bulan Oktober lalu, Menlu Hillary Clinton dan Menkes Kathleen Sebelius menyatakan permintaan maaf atas eksperimen sipilis yang dilakukan Institut Kesehatan Amerika (NIH) di Guatemala tahun 1946-1948, Clinton menyebut tindakan para dokter itu “tercela”. Presiden Barack Obama juga minta maaf atas apa yang terjadi dan menunjuk pakar etika medis untuk menyelidiki studi medis internasional tersebut.

Mantan Presiden Clinton and Wapres Al Gore bersama Herman Shaw, 94, dalam sebuah konferensi pers 16 Mei 1997, meminta maaf kepada korban riset di Tuskegee.

Mantan Presiden Clinton and Wapres Al Gore bersama Herman Shaw, 94, dalam sebuah konferensi pers 16 Mei 1997, meminta maaf kepada korban riset di Tuskegee.

Tetapi, Amerika belum mengambil langkah apapun untuk membayar kompensasi kepada korban. Hendricks mengatakan eksperimen di Guatemala dilakukan oleh kelompok medis termasuk Dr. John Cutler yang terlibat dalam eksperimen serupa di Tuskegee, Alabama, yang melibatkan 600 warga kulit hitam.

Pada beberapa kasus, mereka menjebak narapidana dengan Pekerja Seks Komersial (PSK) yang terinfeksi sipilis. Pada kasus lainnya, tim medis membagikan obat-obatan dan peralatan rumah tangga bagi yang berpartisipasi sukarela. Tetapi, para korban tidak pernah diberi informasi yang sebenarnya. Para dokter tersebut bahkan menyuntik anak berumur enam tahun untuk mempelajari perkembangan penyakit tersebut dalam kurun waktu tertentu.

Di kota Guatemala, pengacara Rudy Zuniga mewakili sekitar 300 korban eksperimen, menyiapkan gugatan di pengadilan negara ini, minggu depan. Melalui wawancara dengan VOA ia membicarakan kesalahan pemerintah Guatemala yang berkuasa saat itu.

Ia mengatakan pemerintah Guatemala akan digugat karena telah mengijinkan hal tersebut terjadi. Dia mengatakan tak hanya narapidana dan tentara yang terinfeksi tetapi juga pasien rumah sakit jiwa yang mencari pengobatan, namun malah dengan sengaja diinfeksi penyakit berbahaya tersebut.

Zuniga mengatakan kliennya termasuk beberapa laki-laki yang saat ini berusia 80 tahun yang dulu terinfeksi serta anak cucu mereka, yang terlahir buta atau menderita infeksi lainnya terkait sipilis.

XS
SM
MD
LG