Tautan-tautan Akses

AS

Warga Ferguson Berpawai Peringati Penembakan Mike Brown


Warga kota Ferguson, Missouri mengheningkan cipta untuk mengenang kematian Michael Brown, dalam pawai hari Minggu (9/8).

Warga kota Ferguson, Missouri mengheningkan cipta untuk mengenang kematian Michael Brown, dalam pawai hari Minggu (9/8).

Ayah remaja yang ditembak mati polisi di Ferguson, Missouri, Michael Brown Sr, meminta peserta pawai untuk mengheningkan cipta selama 4,5 menit hari Minggu (9/8).

Warga kota Ferguson di negara bagian Missouri hari Minggu (9/8) berpawai dan mengheningkan cipta untuk mengenang Michael Brown, remaja usia 18 tahun, yang ditembak mati oleh polisi kulit putih dalam konfrontasi di jalanan tahun lalu.

Pawai hari Minggu dimulai dari tempat remaja kulit hitam tak bersenjata itu ditembak 9 Agustus 2014 oleh petugas polisi Ferguson, Darren Wilson, yang sejak itu mundur dari kepolisian. Demonstrasi menyusul kematian Brown telah membuat daerah pinggiran St Louis itu menjadi sorotan nasional dan memicu tuntutan perlakuan lebih baik terhadap kaum minoritas oleh polisi.

Ayah remaja tersebut, Michael Brown Sr, meminta peserta pawai untuk mengheningkan cipta selama 4,5 menit, untuk mengingatkan bahwa mayat anaknya tergeletak dijalanan 4,5 jam setelah ditembak polisi. Para peserta melanjutkan pawai damai yang ditujukan untuk menghormati orang-orang yang tewas di tangan para petugas polisi.

Michael Brown Sr. mengatakan keluarganya masih berduka, tapi ia yakin pesan yang dapat diambil dari kematian anaknya terlihat pada peningkatan kesadaran atas penembakan-penembakan yang dilakukan oleh polisi.

Meskipun dewan juri membebaskan Darren Wilson dari tuduhan pembunuhan Michael Brown November lalu, sebuah penyelidikan Departemen Kehakiman AS menemukan warga kulit hitam secara tidak adil menjadi sasaran polisi yang mayoritas berkulit putih di kota itu.

Laporan itu mengatakan warga kulit hitam merupakan 67 persen penduduk kota Ferguson yang berjumlah 21 ribu orang, dan 93 persen orang yang ditangkap adalah warga kulit hitam. Laporan itu mengatakan 85 persen dari semua pemeriksaan rutin di jalan-jalan, pengemudinya berkulit hitam, dan 90 persen tiket pelanggaran lalu lintas diberikan kepada pengemudi berkulit hitam.

Penyelidikan itu menyebut penyebabnya adalah gabungan bias rasial para polisi dan ketergantungan pendanaan kota itu dari uang denda dan biaya urusan hukum. Ini secara tidak proporsional merugikan warga kulit hitam, semakin menipiskan kepercayaan mereka terhadap para penegak hukum dan sistem peradilan. (zb/ii)

XS
SM
MD
LG