Tautan-tautan Akses

Warga AS Lestarikan Bahasa Bali Lewat Perangkat Lunak

  • Muliarta

Alissa Stern, akademisi asal AS yang meluncurkan perangkat lunak pengajaran Bahasa Bali. (VOA/Muliarta)

Alissa Stern, akademisi asal AS yang meluncurkan perangkat lunak pengajaran Bahasa Bali. (VOA/Muliarta)

Karena kecintaanya terhadap bahasa lokal, seorang akademisi AS telah ikut melestarikan Bahasa Bali lewat perangkat lunak pengajaran bahasa itu.

Seorang akademisi asal Amerika Serikat, Alissa Stern, telah ikut melestarikan Bahasa Bali melalui pembuatan software (perangkat lunak) pengajaran bahasa itu. Pembuatan perangkat yang berupa modul interaktif belajar Bahasa Bali tersebut berawal dari kecintaannya terhadap Bahasa Bali dan sebagai upaya memperkenalkan Bahasa Bali ke seluruh dunia.

Dalam keterangannya di Denpasar, Senin (8/7), Stern mengatakan kecintaanya pada Bahasa Bali berawal dari keinginan untuk mempelajari kebudayaan Bali lebih mendalam dan bahasa merupakan sarana untuk mempelajari kebudayaan suatu bangsa.

Stern, akademisi lulusan Harvard Law School dan Cornell University itu, mengatakan Bahasa Bali memiliki keunikan tersendiri, antara lain karena pemilihan kata dalam percakapan Bahasa Bali menunjukkan kedekatan dan etika penggunanya.

Selain itu kata-kata dalam Bahasa Bali memiliki nilai filosofi, sejarah, kebudayan dan kearifan lokal, ujarnya. Menurut Stern, dengan keunikan yang dimiliki oleh Bahasa Bali sudah selayaknya Bahasa Bali dimasukkan sebagai bagian dari warisan budaya dunia.

“Bahasa Bali itu penting untuk seluruh dunia dan itu dinilai seluruh dunia dan dinilai semacam heritage (warisan). Bahasa Bali semacam permata asli dan itu dinilai orang di seluruh dunia karena ada banyak keahlian dan ilmu,” ujar Stern, yang belajar Bahasa Indonesia di IKIP Malang dan pernah mengajar di fakultas hukum Universitas Indonesia.

Pada kenyataanya penutur Bahasa Bali cenderung terus berkurang, terbukti saat ini hanya terdapat sekitar satu juta penutur aktif Bahasa Bali dari sekitar 3,5 juta penduduk Bali.

Alissa, yang turut mengurus yayasan nirlaba basabali.org, menyebutkan modul interaktif belajar Bahasa Bali hanya sebuah cara dengan memanfaatkan teknologi untuk menarik minat generasi muda untuk belajar Bahasa Bali.

Modul interaktif belajar Bahasa Bali tidak saja memuat tata bahasa dan catatan yang fokus pada percakapan bahasa Bali tetapi juga memuat pembelajaran penulisan dengan menggunakan huruf Bali. Materi pelajaran tersebut telah diluncurkan pada 5 Februari 2013, serta akan dibagikan secara gratis, untuk organisasi nirlaba dan kelompok masyarakat.

Akademisi dari fakultas sastra Universitas Udayana, Windhu Sancaya mengatakan, sudah saatnya metode pembelajaran Bahasa Bali menggunakan multimedia agar generasi muda lebih tertarik.

“Saya kira inovasi-inovasi ini yang diperlukan, kemudian sekarang kita menggunakan multimedia pengembangan Bahasa Bali dengan melibatkan teknologi dan sebagainya. Saya kira ini satu cara yang sangat penting, kita tidak bisa lagi hanya menggunakan cara-cara tradisional,” ujarnya.

Sementara itu, Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan, perlu suatu terobosan dalam pembelajaran Bahasa Bali yang selama ini menjadi bahasa ibu bagi penduduk Bali. Pemerintah Kota Denpasar kini juga sedang merancang pembangunan laboratorium Bahasa Bali di sekolah-sekolah di Denpasar, ujarnya.

“Kita ingin mengembangkan Bahasa Bali ini berinteraksi dengan teknologi, artinya kita menjaga-jaga istilahnya orang itu tidak tertarik dengan Bahasa Bali kalau mereka itu tidak masuk dalam teknologi. Kami mencoba berupaya menginteraksikan Bahasa Bali ini dengan teknologi melalui komputerisasi,” tambahnya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG