Tautan-tautan Akses

Warga AS Keturunan Asia Alami Pengangguran Terparah


Para pencari kerja Amerika memadati kantor informasi lapangan kerja di Nevada, AS (foto: dok). Warga AS keturunan Asia rata-rata menganggur lebih lama dari etnis lainnya di Amerika.

Para pencari kerja Amerika memadati kantor informasi lapangan kerja di Nevada, AS (foto: dok). Warga AS keturunan Asia rata-rata menganggur lebih lama dari etnis lainnya di Amerika.

Warga Amerika keturunan Asia dilanda pengangguran jangka panjang yang paling parah dibandingkan dengan warga AS lainnya dari golongan etnis manapun.

Walaupun tingkat pengangguran di kalangan warga Amerika keturunan Asia berada pada tingkat 7,1 persen, lebih rendah dari tingkat rata-rata nasional yaitu 8,1 persen, data terbaru menunjukkan lebih dari 50 persen warga keturunan Asia itu tidak memiliki pekerjaan selama lebih dari enam bulan.

Angka tersebut naik dari 48,7 persen pada tahun 2010. Di antara warga kulit putih yang menganggur, 42,4 persen menganggur untuk jangka panjang, di kalangan warga kulit hitam 49,9 persen, dan di antara warga Hispanik, 39,8 percent.

Orang Amerika keturunan Asia acapkali ditampilkan dalam media atau film-film sebagai orang yang sukses dan berpendidikan tinggi. Tetapi, kenyataannya, menurut penelitian yang dilakukan Lembaga Kebijakan Ekonomi di Washington, DC, bahkan mereka yang paling berpendidikan pun, kehilangan peluang pekerjaan juga.

Pengangguran di kalangan warga keturunan Asia yang bergelar sarjana mencapai 6,4 persen tahun 2011, sementara di kalangan penduduk kulit putih dengan tingkat pendidikan setara, tingkat pengangguran mencapai 4,3 persen.

Peneliti Dr. Marlene Kim mengungkapkan, beberapa faktor mendorong fenomena tersebut. Pertama, ujarnya, geografi berperan dalam penyebab pengangguran tersebut, karena hampir sepertiga keturunan Asia itu tinggal di California, yang memiliki tingkat pengangguran 10,9 persen. Bagi warga yang lahir di luar negeri, banyak yang menghadapi rintangan bahasa, dan perusahaan-perusahaan Amerika lebih suka mempekerjakan warga negara atau penduduk tetap Amerika. Faktor akhir bisa jadi karena ras, tambah Kim pula.

"Terdapat bukti adanya prasangka terhadap warga Asia yang berpendidikan tinggi karena mereka dianggap lahir di luar Amerika, tidak pandai berbahasa Inggris, kelihatan lain dan tidak pandai bergaul," ujar Kim, dosen ekonomi di Universitas Massachusetts, Boston.

"Inilah kemungkinan penyebab tingginya tingkat pengangguran dalam pasar tenaga kerja yang lemah, ketika majikan dapat memilih siapa yang akan mereka pekerjakan. Tampaknya bekerja sebagai pelayan restoran mudah didapat dan cocok bagi golongan imigran, tetapi sulit untuk mendapatkan jenis pekerjaan yang bergaji lebih tinggi."

Kim mengatakan tidak pasti tentang bobot setiap faktor yang dapat menjelaskan mengapa terjadi tingkat pengangguran jangka panjang yang tinggi di kalangan penduduk asal Asia, tetapi berencana untuk meneliti hal itu pada tahap selanjutnya.

Apa yang jelas dari penelitian tersebut adalah bahwa warga Amerika keturunan Asia menderita dalam resesi ekonomi ini, kata Tuyet Le, Direktur Eksekutif Lembaga Asia-Amerika di Chicago.

"Keadaan ini menantang para pembuat kebijakan untuk memikirkan kembali stereotip golongan minoritas yang dijadikan model, dan mulai meninjau rintangan yang benar-benar nyata dan berlatang belakang ras, yang menghalangi warga Asia berhasil secara ekonomi.
XS
SM
MD
LG