Tautan-tautan Akses

AS

Warga AS Keturunan Arab Cari Jodoh Lewat Internet


Warga AS keturunan Arab yang berkampanye supaya orang-orang memberikan suaranya dalam pemilu. (Foto: Ilustrasi)

Warga AS keturunan Arab yang berkampanye supaya orang-orang memberikan suaranya dalam pemilu. (Foto: Ilustrasi)

Warga AS keturunan Arab mencari jodoh di Internet karena ingin mendapatkan pasangan dari latar belakang etnis dan agama serupa.

Ketika warga AS keturunan Arab, Hania Masri (bukan nama sebenarnya), ingin bertemu dan menikah dengan seseorang dari latar belakang budaya yang mirip, ia meminta pertolongan layanan perjodohan di Internet. Setelah menikah dan memiliki dua anak, ia senang ia telah melakukannya.

Hania -- perempuan periang, cantik dan ramah, dengan gelar tinggi dari universitas bergengsi -- berusia 20an ketika ia mencari jodoh di Internet. Meski ia tidak kekurangan perhatian dari lawan jenis, ia tidak menemukan apa yang dicarinya dari pria.

"Saya ingin mencari sesama Arab dan Muslim," ujarnya. "Saya kesulitan bertemu Muslim Arab di luar komunitas saya dan mencari cara lain untuk bertemu orang baru."

Hania juga mencari orang yang berpikiran terbuka dan liberal.

Sementara itu, Zaid Abadi (juga bukan nama sebenarnya) menghadapi kendala yang sama. Ketika ia mencari di Internet, orang pertama yang ia temui adalah Hania, yang akhirnya menjadi istrinya.

"Saya kira saya tidak akan bertemu perempuan yang saya nikahi dengan cara lain," ujarnya.

Mereka 'bertemu' lewat ArabLounge, situs perjodohan dengan lebih dari 1,3 juta anggota, sebagian besar di Amerika Serikat. Sekitar 600.000 adalah peserta aktif, menurut Darren Romeo, COO World Singles, yang mengelola Arab Lounge.

"Kami membantu orang bertemu," ujar Romeo. "Ini hanya tempat yang lain saja, seperti pasar swalayan atau Starbucks, untuk bertemu orang-orang yang berbeda."

Arab Amerika dan komunitas Muslim tidak sendiri dalam hal mencari jodoh. World Singles memiliki lebih dari 100 situs yang ditujukan untuk beragam kelompok etnis dan agama, termasuk IranianPersonals, PakistaniLounge, EthiopianPersonals, EligibleGreeks dan VietVibe.

“Penghasilan kami dari komunitas-komunitas yang berbeda-beda ini," ujar Romeo. "Yang kami temukan adalah, diantara orang-orang tertentu, biasanya generasi pertama atau kedua, bukan hal yang aneh untuk orangtua atau keluarga agar anak-anak mereka bertemu orang dari kelompok etnis atau agama yang serupa, terutama masalah budaya dan bahasa."

ArabLounge, saat ini tersedia dalam Bahasa Inggris, Arab, Perancis dan Jerman, merupakan situs World Singles terbesar. Perusahaan ini mengatakan 65 persen dari para anggotanya mengidentifikasi diri sebagai Muslim, sementara sekitar 20 persen adalah Kristen Arab.

Para pelanggan yang paling aktif adalah berusia awal sampai pertengahan 30 tahun. Sebagian besar adalah perempuan yang tidak menggunakan kerudung atau jilbab dalam foto profil mereka, meski banyak juga yang memakainya.

"Ada yang berjilbab, ada juga yang terlihat sedang ada di klub dengan minuman di tangan. Sebagian besar mencari pasangan untuk menikah dan hubungan serius," ujar Romeo.

Tidak jelas berapa banyak yang akhirnya menikah seperti Hania dan Zaid. Dan meski keduanya bahagia dengan hasil perjodohan mereka di Internet, mereka jarang berbagi kisah sebenarnya mengenai bagaimana mereka bertemu.

"Beberapa orang menghakimi jika tahu kami bertemu di Internet. Saya kira itu stigma negatif dari perjodohan Internet. Beberapa orang berasumsi bahwa pengguna jasa daring adalah orang-orang yang putus asa," ujar Hania.

Meski tidak terbuka mengenai kisah pertemuan mereka, mereka merekomendasikan perjodohan di Internet bagi para lajang yang mencari pasangan dari kelompok etnis atau agama tertentu.

“Ini kesempatan untuk bertemu orang yang sepikiran, kesempatan untuk bertemu seseorang dengan kualitas dan nilai-nilai yang diinginkan dari pasangan," ujar Zaid. (VOA/Dora Hasan Mekouar)

XS
SM
MD
LG