Tautan-tautan Akses

Warga Aceh Galang Kampanye Bantu Pengungsi Rohingya dan Bangladesh

  • Budi Nahaba

Migran Rohingya yang tiba di Indonesia dengan perahu, mendapatkan perawatan medis di dalam tempat penampungan sementara di Kuala Langsa, iprovinsi Aceh (16/5).

Migran Rohingya yang tiba di Indonesia dengan perahu, mendapatkan perawatan medis di dalam tempat penampungan sementara di Kuala Langsa, iprovinsi Aceh (16/5).

Puluhan petugas imigrasi lokal dibantu petugas keamanan mendata seluruh imigran pencari suaka yang ditampung di lokasi pengungsian sementara di Langsa, Sabtu (16/5).

Warga Kota Langsa Nurul Qamari dari Komunitas Perempuan Peduli Aceh (KPPA) mengatakan Sabtu (16/5), sejumlah kapal nelayan lokal merapat di pelabuhan Kuala Langsa, Jumat pagi (15/5), para nelayan Aceh kembali menyelamatkan ratusan imigran Rohingya dan Bangladesh yang terdampar bersama kapal mereka di perairan Aceh Timur.

“Ini pengungsi (Rohingya dan Bangladesh) di kawasan pelabuhan Kuala Langsa, di sebuah bangunan gedung yang tidak terpakai dijadikan tempat penampungan sementara. Kondisi kesehatan mereka memprihatinkan, perempuan dan anak-anak lebih menyedihkan kondisinya,” kata Nurul Qamari.

Petugas gabungan, tambah Nurul, mengevakuasi puluhan pengungsi yang kritis kondisi kesehatannya ke rumah sakit Kota Langsa guna mendapat pertolongan medis.

"Ambulan mondar mandir mengevakuasi pengungsi yang terluka dan kritis kesehatannya untuk mendapat pertolongan medis di rumah sakit setempat. Selain bantuan langsung pemerintah lokal, warga datang membawa pakaian bekas , mie instan dan bahan makanan lain termasuk beras,” lanjutnya.

Bantuan warga, yang diinisiasi kaum muda masih berlangsung hingga Sabtu, tambah Nurul. Kaum muda mngumpulkan bantuan berupa bahan makanan dan pakaian layak pakai. Sementara, puluhan petugas imigrasi lokal dibantu petugas keamanan mendata seluruh imigran pencari suaka yang ditampung di lokasi pengungsian sementara di Langsa.

Koordinator Pemuda Peduli Kota Banda Aceh Hendro Saki mengatakan, kaum muda terdiri dari mahasiswa pelajar dan ormas turun ke jalan menggelar kotak amal untuk membantu pengungsi Rohingya dan Bangladesh.

“Ini bentuk reaksi solidaritas warga Aceh dari sisi kemanusiaanya ya, ini refleksi buat Aceh juga, saat konflik dan bencana banyak dibantu banyak negara, termasuk pemberian suaka ke warga Aceh ke berbagai negara saat Aceh dilanda konflik,” kata Hendro Saki.

Gerakan spontan yang diwujudkan pemuda Aceh , tambah Hendro, merupakan bagian dari solidaritas kolektif warga kota , khususnya kalangan muda kota Banda Aceh.

Simpul-simpul organisasi pemuda terkemuka dan warga di sejumlah kota-kota kunci di provinsi Aceh, kepada VOA mengaku mereka tergerak hatinya melakukan gerakan penggalangan bantuan guna meringankan penderitaan warga Rohingya dan Bangladesh yang terdampar di provinsi Aceh.

Salah seorang Koordinator Pemuda Aceh Peduli Kemanusiaan Kawasan Eropa-Turki Azwir Nazar dalam rilis yang diterima VOA mengajak komunitas global terdiri dari Mahasiswa, Santri, Ormas/OKP dan Lembaga, termasuk para nelayan dan Panglima Laot agar membantu warga Rohingya dan Bangladesh yang hanyut dan terdampar di laut. Azwir menekankan bahwa Aceh perlu lebih berperan dalam menggalang solidaritas kemanusiaan.

Aceh, tambah Azwir, juga pernah merasakan konflik dan bencana tsunami. Azwir mendesak pemerintah RI menerima dan menyediakan lahan permanen bagi keberlangsungan kehidupan imigran etnis Rohingya dan Bangladesh.

Kaum muda Aceh yang sedang menempuh pendidikan lanjutan dan bekerja di seluruh dunia teruatama di Eropa, Turki dan AS, Kanada dan sejumlah negara Asia juga ikut menggalang bantuan untuk pengungsi Rohingya dan Bangladesh dengan menggunakan berbagai jenis media sosial (medsos) melakukan kampanye global terutama melalui tweeter dengan meluncurkan hastag #FromAcehtoRohingya #SidroeSiplohRibee (Artinya: aceh; satu orang menyumbang sepuluh ribu rupiah), dan hastag #Pesandariturkey.

Media jaringan lokal terkemuka Aceh Timur melaporkan hari Sabtu (16/5) Otoritas imigrasi Aceh bersama tim khusus badan pengungsi PBB UNHCR dan organisasi kemanusiaan IOM (International Organization for Migration), melakukan pendataan pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang berada di peampungan sementara dengan rincian, di Aceh Utara berjumlah 508 jiwa, sedangkan di pelabuhan Kuala Langsa Aceh Timur berjumlah 790 imigran pencari suaka, yang terdiri dari orang dewasa, anak-anak dan balita.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah DPD RI Fachrul Razi sebelumnya memuji respon cepat petugas pemerintah lokal dan rasa solidaritas untuk kemanusiaan yang diwujudkan oleh rakyat Aceh kepada penderitaan etnis Rohingya dan Bangladesh.

“Kita apresiasi solidaritas warga Aceh ya, kita mendesak dunia Internasional, khususnya Perserikatan Bangsa Bangsa PBB agar bisa memberikan perlindungan hukum dan HAM bagi etnis Rohingya (dan Bangladesh) yang ada di banyak negara , khususnya yang hari ini ada di Aceh,” kata Fachrul Razi.

Analis geopolitik regional mengatakan, peran diplomasi Indonesia belum sepenuhnya mampu merangkul dan mendorong Badan Keamanan PBB , Komunitas Perhimpunan Negara-negara Kawasan Asia Tenggara ASEAN (Association of Southeast Asian Nations), guna melakukan langkah-langkah konkrit mengakhiri pertikaian etnis demi mewujudkan perdamaian di Myanmar dan kawasan Asia.

Aktivis dari berbagai organisasi pro-demokrasi global mendorong negara-negara di dunia agar lebih akomodatif terhadap imigran Rohingya dan Bangladesh pencari suaka. Aktivis mengecam praktik pemerintahan junta militer Myanmar yang dinilai mengabaikan prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia (HAM) karena gagal menghentikan konflik etnis yang mengakibatkan penderitaan berkepanjangan warga minoritas Rohingya selama lebih satu dasa warsa.

Laporan-laporan Badan Pengungsi PBB UNHCR (the United Nations High Commissioner for Refugees) tahun 2014 lalu menyatakan, jumlah pengungsi berikut imigran pencari suaka diseluruh dunia mencapai 51,2 juta jiwa, para pengungsi berada di kamp-kamp penampungan sementara dengan kondisi kesehatan yang cukup minim.

Gelombang pengungsi dunia terbesar dilaporkan berada di kawasan Asia Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah, sebagian besar pengungsi diakibatkan karena konflik antar negara, antar etnis dan berbagai kejahatan kemanusiaan lainnya, krisis ekonomi dan bencana alam.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG