Tautan-tautan Akses

Walikota Surabaya Terbaik Ketiga di Dunia

  • Petrus Riski

Walikota Surabaya Tri Rismaharini. (Foto: Dok)

Walikota Surabaya Tri Rismaharini. (Foto: Dok)

Nama Tri Rismaharini berada di bawah nama Walikota Calgary, Kanada, Naheed Nenshi di urutan pertama, serta Walikota Ghent, Belgia, Daniel Termont pada posisi kedua.

Nama kota Surabaya kembali menjadi perhatian dunia, setelah Walikota Surabaya Tri Rismaharini menduduki peringkat ketiga atau second runner-up, dalam daftar sepuluh teratas walikota paling berprestasi versi World Mayor Prize (WMP).

Dilansir dari website www.worldmayor.com, nama Tri Rismaharini berada di bawah nama Walikota Calgary, Kanada, Naheed Nenshi di urutan pertama, serta Walikota Ghent, Belgia, Daniel Termont pada posisi kedua.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengaku bersyukur dengan diberikannya penghargaan walikota terbaik ketiga di dunia pada dirinya oleh World Mayor Prize, meski dirinya merasa tidak memiliki kehebatan untuk menjadi Walikota terbaik.

“Itu aku loh gak daftar, aku ya gak ada target. Targetnya itu tujuannya adalah warga Surabaya sejahtera, gak ada (target menjadi walikota terbaik), wong aku gak daftar, gak tau yang masukin siapa," ujarnya.

Pakar tata kota asal Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Profesor Johan Silas, mengapresiasi pencapaian keberhasilan yang diraih Kota Surabaya, yang tidak lepas dari kesadaran warga kota untuk mau melakukan yang terbaik bagi Kota Surabaya.

“Jadi memang Surabaya itu kaya dengan inovasi hampir di segala bidang, dan yang menarik itu adalah bahwa inovasi itu tidak menunggu bantuan dari mana pun. Jadi kalau kita lihat prestasi Surabaya ini adalah hasil dari upaya orang Surabaya, dengan sumber daya Surabaya," ujarnya.

Selain meraih berbagai penghargaan, baru-baru ini Kota Surabaya menempati urutan keempat kota di dunia dengan lalu lintas terburuk, yang dikeluarkan oleh salah satu perusahaan pelumas mobil terkemuka di dunia.

]Tri Rismaharini menanggapi hal itu sebagai suatu hal yang wajar, sebagai konsekuensi sebuah kota besar. Namun Tri juga mempertanyakan parameter yang digunakan oleh perusahaan itu, untuk mengukur tingkat kepadatan lalu lintas di suatu kota.

“Menurut saya melihatnya itu parameternya apa, saya harus melihat dulu parameternya. Kalau misalkan dalam 24 jam dia macetnya sekian jam, itu menurut saya gak apa-apa, ya masih bisa ditoleransi. Kalau kemudian kita harus nunggu sampai perjalanannya, sampai berhenti berapa jam, itu sudah masalah. Setiap kota besar pasti seperti itu, pasti seperti itu," ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintahannya hingga kini terus mengupayakan perbaikan infrastruktur jalan serta sistem transportasi yang baik di Surabaya, untuk mengatasi masalah kepadatan lalu lintas yang selalu menjadi dampak kemajuan sebuah kota besar.

“Cara ngatasinya makanya kita membuat transportasi massal, kemudian pembangunan infrastruktur jalan baru untuk menghubungkan akses-akses itu," ujarnya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG