Tautan-tautan Akses

Walikota Osaka Minta Maaf Soal Komentar Terkait Tentara AS


Wakil pemimpin Partai Restorasi Jepang dan Walikota Osaka Toru Hashimoto menghadiri sebuah konferensi pers di Tokyo. (Foto: Dok)

Wakil pemimpin Partai Restorasi Jepang dan Walikota Osaka Toru Hashimoto menghadiri sebuah konferensi pers di Tokyo. (Foto: Dok)

Walikota Osaka meminta maaf atas pernyataannya bahwa tentara AS di Jepang seharusnya memanfaatkan industri seks legal.

Seorang politisi Jepang yang blak-blakan meminta maaf Senin (27/5) atas pernyataannya bahwa tentara Amerika seharusnya berlangganan prostitusi sebagai cara mengurangi pemerkosaan, namun membela diri terkait komentar kontroversial lain mengenai praktik budak seks oleh tentara Jepang selama Perang Dunia II.

Walikota Osaka Toru Hashimoto, yang turut mengepalai partai nasionalis di Jepang, mengatakan pernyataannya dua minggu lalu muncul dari “rasa krisis” atas kasus-kasus penyerangan sekssual oleh personel militer AS terhadap warga sipil Jepang di Okinawa, basis militer berisikan sejumlah besar tentara AS.

“Saya paham bahwa pernyataan saya dapat dianggap menghina tentara AS dan orang Amerika” serta tidak pantas, ujarnya pada sebuah jumpa pers di Tokyo.

Dua minggu lalu, Hashimoto menimbulkan kehebohan karena komentar-komentarnya pada wartawan terkait layanan seksual Jepang zaman perang dan modern.

Pernyataannya itu menambah kemarahan negara-negara tetangga yang menderita karena serangan Jepang saat perang dan mengeluhkan kurangnya kompensasi atas kekejaman yang dilakukan saat itu.

Pada kunjungan ke Okinawa pada 13 Mei, Hashimoto menyarankan komandan AS agar pasukan mereka “memanfaatkan” industri seks legal dengan lebih baik.

“Jika tidak, Anda tidak dapat mengontrol energi seksual pria-pria tangguh itu,” ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa praktik yang dilakukan Jepang pada masa perang yang memaksa perempuan Asia, terutama Korea Selatan dan China, untuk bekerja di rumah-rumah bordil merupakan hal yang diperlukan untuk mempertahankan disiplin dan memberikan relaksasi bagi para tentara.

Ia tidak meminta maaf atas pernyataan-pernyataan itu, namun menyebut praktik itu “tindakan yang tidak termaafkan karena melanggar harga diri dan hak asasi perempuan.” (AP/Mari Yamaguchi dan Malcolm Foster)
XS
SM
MD
LG