Tautan-tautan Akses

Wakil Perdana Menteri Tiongkok Adakan Kunjungan Resmi ke Hong Kong

  • Ivan Broadhead

Wakil Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang (kedua dari kiri) berfoto dengan pimpinan Bursa Saham Hong Kong Ronald Arculli (kiri), pimpinan eksekutif Bursa Saham Hong Kong Charles Li (kanan) and pimpinan eksekutif Dewan Pemerintah Hong Kong Donald Tsang da

Wakil Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang (kedua dari kiri) berfoto dengan pimpinan Bursa Saham Hong Kong Ronald Arculli (kiri), pimpinan eksekutif Bursa Saham Hong Kong Charles Li (kanan) and pimpinan eksekutif Dewan Pemerintah Hong Kong Donald Tsang da

Wakil Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang mengadakan kunjungan resmi tiga hari ke Hong Kong, di mana ia akan menghadiri pertemuan tentang peran yang akan dimainkan Kawasan Administrasi Khusus Tiongkok di Hong Kong dalam masa depan Tiongkok daratan.

Kedatangan resmi Li Keqiang merupakan salah satu indikasi bahwa pria berusia 56 tahun yang hampir tidak dikenal itu akan menggantikan Perdana Menteri Wen Jiabao setelah Kongres Partai Komunis ke-18, Oktober mendatang.

Willy Lam, guru besar sejarah pada Universitas Hong Kong, mengatakan, “Kongres ini penting, khususnya karena Presiden Hu Jintao dan Perdana Menteri Wen Jiabao menduduki jabatan lima tahun ini sebanyak dua kali. Dari sembilan anggota Komite Politbiro, dewan penguasa tertinggi Tiongkok, tujuh di antaranya akan pensiun. Jadi, akan ada perubahan besar dalam dewan itu.”

Hari Rabu Li mengumumkan beberapa prakarsa untuk mendukung ekonomi Hong Kong, yang pertumbuhannya menurun dalam beberapa kuartal berturut-turut.

Prakarsa itu termasuk pemberian kuota tiga milyar dolar bagi perusahaan-perusahaan Hong Kong yang membeli surat-surat berhargaTiongkok daratan dan proyek-proyek percobaan untuk bank-bank asing yang melengkapi modal mereka dengan mata uang yuan. Upaya itu dipandang bisa meningkatkan posisi global mata uang Tiongkok sebagai alternatif terhadap dolar.

Namun, Hong Kong terus menghadapi kesenjangan kekayaan karena inflasi mencapai yang tertinggi dalam tiga tahun. Kelas menengah bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka. Pimpinan eksekutif Dewan Pemerintah Hong Kong, Donald Tsang, mengatakan popularitasnya jatuh lagi bulan lalu. Emily Lau, wakil ketua Partai Demokrasi Hong Kong, mengatakan, “Jika kita bandingkan kesulitan-kesulitan hutang yang dialami Amerika, Eropa, dan Jepang, Hong Kong mengalami surplus besar. Tetapi, uang itu tidak digunakan untuk menghilangkan kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin.”

Analis politik Willy Lam mengatakan bahwa dalam pertemuan-pertemuan pribadi, Li diperkirakan akan mengingatkan Tsang mengenai pentingnya terus mempertahankan kohesi sosial di bekas jajahan Inggeris itu, yang mempertahankan otonomi politik yang besar.

Ia mengatakan, “Ada hubungan erat antara perkembangan politik di Hong Kong dan Tiongkok daratan. Karena kesenjangan yang besar dalam perekonomian Hong Kong, mungkin bisa terjadi ketidakstabilan, kerusuhan. Sebagian mungkin karena pengaruh luar.”

Meskipun reputasinya yang liberal, Lam mengatakan mempertahankan kestabilan tetap merupakan tugas berat Li, dan mungkin akan menentukan posisinya sebagai perdana menteri apabila naiknya ia ke posisi itu ditegaskan tahun depan.



XS
SM
MD
LG