Tautan-tautan Akses

Wabah Flu Burung Rugikan China $6,5M


Seorang petugas menyemprotkan disinfektan di pasar unggas di Banchiao, Taipei (29/4). (AP/Chiang Ying-ying)

Seorang petugas menyemprotkan disinfektan di pasar unggas di Banchiao, Taipei (29/4). (AP/Chiang Ying-ying)

Penyebaran virus H7N9 telah berhasil dikendalikan di China, namun negara itu menanggung kerugian ekonomi yang besar.

China telah berhasil mengendalikan penyebaran H7N9 berkat pembatasan-pembatasan di pasar-pasar unggas, namun mengalami kerugian ekonomi US$6,5 miliar, menurut para ahli PBB, Selasa (21/5).

Pihak berwenang di seluruh dunia harus waspada untuk mendeteksi virus tersebut, ujar para ahli tersebut, karena virus itu masih mungkin menyebar secara mudah antara manusia dan menyebabkan pandemi influenza yang mematikan.

Virus flu burung baru diketahui telah menginfeksi 130 orang di daratan China sejak muncul pada Maret, 36 diantaranya tewas, namun tidak ada kasus baru yang terdeteksi sejak awal Mei, Menteri Kesehatan Li Bin mengatakan dalam pertemuan dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Satu kasus ditemukan di Taiwan pada April, membuat jumlah total korban sebanyak 131.

Li mengatakan pihak berwenang di China telah menutup pasar unggas hidup secara sementara atau permanen manakala dibutuhkan untuk mengontrol sumber wabah di 10 provinsi.

Pemerintah China telah menghabiskan $97 juta untuk mendukung pengembangan industri unggas yang sehat, ujar Li.

"Lebih dari $6,5 miliar telah hilang pada sektor pertanian karena harga, kepercayaan konsumen dan perdagangan,” ujar Juan Lubroth, kepala dokter hewan pada Organisasi PBB untuk Pangan dan Pertanian (FAO).

"Dampak ekonomi H7N9 telah mengejutkan," ujarnya. (Reuters/Stephanie Nebehay)
XS
SM
MD
LG