Tautan-tautan Akses

Popularitas Merosot, Putin Mungkin Tak Bisa Menang Pilpres Satu Putaran


PM Vladimir Putin diperkirakan tidak akan memenangkan pilpres Rusia bulan Maret dalam satu putaran, karena popularitasnya yang turun.

PM Vladimir Putin diperkirakan tidak akan memenangkan pilpres Rusia bulan Maret dalam satu putaran, karena popularitasnya yang turun.

Turunnya popularitas Vladimir Putin sampai pada tingkat di mana ia mungkin tidak memperoleh 50 persen suara dalam pemilihan presiden tanggal 4 Maret, memaksanya melakukan pemilihan tambahan yang pertama kalinya tiga minggu kemudian.

Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin, yang mencalonkan diri ketiga kalinya untuk jabatan di istana Kremlin dalam pemilihan presiden tanggal 4 Maret setelah menjabat empat tahun sebagai perdana menteri, sebelumnya tidak pernah membutuhkan pemilihan tambahan, tetapi sekarang ia ditantang dengan meningkatnya protes rakyat.

“Saya paham bahwa pemilihan tambahan mungkin harus dilakukan, menurut peraturan yang sekarang berlaku,” menurut kantor berita Rusia yang mengutip pernyataan Putin itu pada pertemuan dengan para pengacara muda dan pengamat pemilu mendatang.

“Saya juga paham, dan saya rasa kita semua juga paham, bahwa pemilihan ronde kedua tidak dapat dielakkan akan terkait dengan kelangsungan perjuangan dan kegoncangan situasi politik,” ujar Putin menurut kantor berita AFP.

“Tetapi tidak ada yang perlu dikhwatirkan. Saya siap melakukan pemilihan tambahan itu, jika diperlukan,” tambah Putin.

Putin bergulat dengan krisis legitimasi yang paling gawat dalam 12 tahun kekuasaannya setelah ia mengumumkan bulan September rencananya untuk mencalonkan diri ketiga kalinya sebagai presiden, bertukar jabatan dengan Dmitry Medvedev, Presiden Rusia yang sekarang masih menjabat.

Popularitas Putin turun sampai pada tingkat di mana ia mungkin tidak memperoleh 50 persen suara dalam pemilihan presiden tanggal 4 Maret, memaksanya melakukan pemilihan tambahan yang pertama kalinya tiga minggu kemudian, situasi yang memalukan bagi seorang pemimpin yang tingkat popularitasnya biasanya tinggi.

Dalam pemilihan tambahan itu, Putin mungkin harus berhadapan dengan mantan pemimpin Komunis Gennady Zyuganov, saingan utama dalam pemilihan presiden itu.

Tahun 1996 Zyuganov membuat Boris Yeltsin, presiden Rusia ketika itu, terpaksa melakukan pemilihan ronde kedua, dan menimbulkan kekhawatiran di seluruh negeri, Rusia mungkin kembali ke masa Komunisme yang silam.

Para analis mengatakan Putin tidak senang dengan kemungkinan pemilihan tambahan itu dan komentar-komentarnya nampaknya untuk meyakinkan warga Rusia bahwa pemilihan-pemilihan itu sah sambil menakut-nakuti rakyat dengan isu ketidakstabilan.

“Ia sama sekali tidak membutuhkan pemilihan tambahan dan menurut saya itu tidak akan terjadi. Tetapi ia ingin rakyat yakin bahwa hasil pemilihan itu tidak ditetapkan sebelumnya,” ujar Nikolai Petrov, analis pada Badan Carnegie di Moskow.

XS
SM
MD
LG