Tautan-tautan Akses

Virgin Galactic Luncurkan Wahana Roket Pariwisata Luar Angkasa Baru


Pendiri Virgin Galactic, Richard Branson, mengumumkan versi baru wahana angkasa luar di Mojave, California dalam konferensi pers, 1 November 2014 (Foto: dok).

Pendiri Virgin Galactic, Richard Branson, mengumumkan versi baru wahana angkasa luar di Mojave, California dalam konferensi pers, 1 November 2014 (Foto: dok).

Lini luar angkasa yang didirikan oleh Sir Richard Branson akan memamerkan wahana tersebut di Bandar Udara dan Luar Angkasa Gurun Pasir Mojave, California.

Virgin Galactic akan meluncurkan versi baru roket wahana pariwisata luar angkasanya, SpaceShipTwo, hari Jumat (26/2) sementara melaksanakan persiapan untuk kembali melakukan uji penerbangan untuk pertama kalinya sejak terjadinya kecelakaan di tahun 2014 yang menghancurkan wahana asli, yang menewaskan salah satu pilotnya dan menyebabkan kemunduran bagi industri yang baru diperkenalkan tersebut.

Lini luar angkasa yang didirikan oleh Sir Richard Branson akan memamerkan wahana tersebut di Bandar Udara dan Luar Angkasa Gurun Pasir Mojave California, tempat wahana tersebut dirakit.

SpaceShipTwo dirancang untuk diterbangkan oleh dua awak dan membawa hingga enam penumpang pada penerbangan suborbital berkecepatan tinggi hingga ke tepi luar angkasa. Pada ketinggian 62 mil, penumpang wahana tersebut akan merasakan penagalaman kondisi bebas gravitasi selama beberapa menit dan memandang bumi yang ada di bawahnya.

Setelah proses pengembangan yang memakan waktu bertahun-tahun, Virgin Galactic tampak semakin mendekati tujuannya untuk menjadikan warga sipil biasa menjadi astronot ketika SpaceShipTwo pertama hancur berkeping-keping pada tanggal 31 Oktober 2014, selama penerbangan bertenaga roketnya yang keempat. Serpihan-serpihannya berserakan di permukaan Gurun Pasir Mojave.

ARSIP – Reruntuhan berserakan di sekitar tempat di mana roket wahana pariwisata luar angkasa Virgin Galactic, meledak dan menghunjam ke bumi di Mojave, California, 31 Oktober 2014.

ARSIP – Reruntuhan berserakan di sekitar tempat di mana roket wahana pariwisata luar angkasa Virgin Galactic, meledak dan menghunjam ke bumi di Mojave, California, 31 Oktober 2014.

Hasil investigasi mengungkapkan bahwa kopilot Michael Alsbury terlalu dini membuka kunci apa yang dikenal sebagai feathering system yang dimaksudkan untuk memperlambat dan menstabilkan wahana tersebut ketika kembali memasuki atmosfir. Insiden tersebut menewaskan Alsbury, namun pilot Peter Siebold, meskipun terluka parah, berhasil menyelamatkan diri dengan menggunakan parasut.

Feathers, sebuah istilah yang terinspirasi dari rancangan bola kok pada permainan bulu tangkis adalah struktur ekor yang menjulur ke arah belakang dari masing-masing ujung sayap. Mereka dirancang untuk memutar ke arah atas pada sudut tertentu untuk menciptakan hambatan, yang mencegah peningkatan kecepatan dan panas, dan kemudian berotasi kembali ke arah bawah kembali ke posisi penerbangan normal sembari wahana tersebut turun ke dalam atmosfir yang semakin menebal.

Kesalahan Manusia

Investigasi yang dilakukan oleh National Transportation Safety Board menemukan bahwa Scaled Composites, sebuah perusahaan yang mengembangkan SpaceShipTwo bersama dengan Virgin Galactic bertanggung jawab untuk melakukan program pengujian, seharusnya sudah memiliki sistem yang dapat melakukan pencegahan pada saat terjadi kesalahan yang disebabkan oleh manusia.

Kepala NTSB, Christopher Hart, mengatakan bukan masalah adanya jalan pintas, namun tidak mempertimbangkan kemungkinan kesalahan yang dibuat oleh awak wahana seperti kesalahan yang terjadi pada insiden tersebut.

Virgin Galactic pada akhirnya mengambil tanggung jawab penuh untuk menuntaskan program pengujian.

ARSIP – Kombinasi foto ini menunjukkan roket Virgin Galactic SpaceShipTwo terpisah dari pesawat induk yang membawanya, kiri, sebelum wahana tersebut meledak di angkasa, kanan, selama pelaksanaan uji penerbangan di atas Gurun Pasir Mojave, 31 Oktober 2014.

ARSIP – Kombinasi foto ini menunjukkan roket Virgin Galactic SpaceShipTwo terpisah dari pesawat induk yang membawanya, kiri, sebelum wahana tersebut meledak di angkasa, kanan, selama pelaksanaan uji penerbangan di atas Gurun Pasir Mojave, 31 Oktober 2014.

Perusahaan menekankan dalam sebuah pertanyaan hari Kamis tentang komitmennya untuk melakukan pengujian mulai dari tingkat masing-masing bagian terpisah wahana tersebut hingga pada saat wahana tersebut sudah selesai dibangun secara utuh.

“Tugas tim kami tidak hanya merencanakan berbagai uji coba yang sudah pasti namun juga pelaksanaan uji coba yang tidak biasa dan bersifat inventif, untuk melakukan berbagai uji coba tersebut, dan menggunakan data yang diperoleh dari beragam uji coba tersebut untuk kembali menguji segalanya yang berkaitan dengan wahana kami untuk memastikan bahwa kita dapat melangkah ke tahap berikutnya,” demikian pernyataan dari perusahaan tersebut.

Perusahaan tidak memproyeksikan garis waktu di mana wahana tersebut akan benar-benar membawa wisatawan ruang angkasa, dengan menambahkan catatan bahwa “wahana baru kami akan tetap berada di darat untuk sementara waktu setelah penampilannya, sembari kami melakukan uji coba wahana secara lengkap untuk menguji sistem kelistrikan dari wahan tersebut dan keseluruhan dari bagian bergerak dari wahana tersebut."

Wahana Ruang Angkasa yang Dapat Digunakan Kembali

SpaceShipTwo adalah pengganti wahana SpaceShipOne, wahana roket bersayap yang memenangkan Hadiah Ansari X senilai $10 juta pada tahun 2004 dengan mendemonstrasikan pesawat angkasa luar yang dapat digunakan kembali yang mampu mengangkut tiga penumpang yang mampu melakukan dua penerbangan dalam rentang waktu dua minggu minimal pada ketinggian 62 mil.

Hadiah yang diumumkan pada tahun 1996 bertujuan untuk mendorong pengembangan penerbangan luar angkasa pribadi berawak serupa dengan Orteig Prize yang ditawarkan pada tahun 1919 untuk mendorong penerbangan trans-Atlantik. Charles Lindbergh memenangkan hadiah tersebut dengan penerbangan nonstop dari New York ke Paris pada tahun 1927.

Serupa dengan SpaceShipOne, SpaceShipTwo juga diangkut dengan digantungkan di bawah sayap pesawat induk, sebuah pesawat jet khusus yang melepaskannya pada ketinggian sekitar 45.000 kaki. Setelah melayang beberapa saat, kedua pilot SpaceShipTwo menyalakan mesin roket yang mendorongnya dengan kecepatan tinggi ke arah luar angkasa.

Setelah mencapai puncak garis lengkung suborbitalnya, wahana angkasa luar tersebut mulai menurunkan ketinggiannya kembali ke arah bumi dan melayang untuk mendarat di sebuah landas pacu. [ww/es]

XS
SM
MD
LG