Tautan-tautan Akses

Vietnam Ingin Identitas Baru sebagai Pemain Global


Seorang petugas mengawasi truk-truk yang melintasi gerbang perbatasan Tan Thanh antara Vietnam dan China.

Seorang petugas mengawasi truk-truk yang melintasi gerbang perbatasan Tan Thanh antara Vietnam dan China.

Vietnam ingin bergerak lebih jauh dari hubungan ekonomi dengan China dan memegang peranan lebih besar dalam pasar global.

Jika Anda membeli air mineral atau lipstik di Vietnam, kemungkinan besar kemasannya dibuat oleh Duy Tan, sebuah perusahaan yang memasok plastik untuk usaha-usaha lain.

Dinh Dai Ky, seorang representatif penjualan dalam divisi ekspor Duy Tan mengatakan, perusahaannya memproduksi begitu banyak plastik sampai kehabisan pembeli.

"Pasar Vietnam sudah jenuh, tidak ada ruang lagi untuk kita di sini," ujar Ky. "Kita harus berekspansi."

Duy Tan membidik pasar-pasar baru, dari Myanmar sampai Swedia, serta mempersiapkan ekspansi ke Amerika Serikat.

"Ada aturan yang jelas, aman, sehingga bagus untuk melakukan usaha di AS," ujar Ky.

Pemerintah di Hanoi berharap lebih banyak perusahaan memiliki ambisi seperti Ky karena hal itu sesuai dengan ambisi Vietnam. Negara itu berupaya meningkatkan bagiannya di perdagangan global, meski tidak hanya atas alasan ekonomi semata.

"Integrasi" telah menjadi kata yang populer baru-baru ini di antara para pejabat, yang ingin melihat Vietnam bertransformasi menjadi pemain terhormat di komunitas global. Selain meningkatkan perdagangan, Vietnam telah mendorong kerjasama dengan sebanyak mungkin negara dalam hal keamanan, diplomatik dan kemanusiaan.

Perang, Dulu dan Sekarang

Menariknya, salah satu yang mendorong kampanye global tersebut adalah konflik bersenjata, baik di masa lalu maupun di masa depan.

Meski empat dekade telah berlalu sejak Perang Vietnam, negara komunis ini terus diidentifikasi di dunia internasional sebagai bekas medan Perang Dingin. Vietnam ingin menciptakan citra baru dan hal itu memerlukan integrasi.

"Negara itu ingin memberi tahu dunia, 'Kami sudah tumbuh. Lihat, kami tidak lagi berperang, kami sebuah negara'," ujar Dennis McCornac, seorang ekonom di Loyola University Maryland.

Ia telah memberi masukan pada pemerintah Vietnam dalam transisi dari ekonomi berorientasi sosialis menjadi ekonomi berbasis pasar bebas.

Orang-orang Vietnam tidak hanya lelah dengan perang, namun juga khawatir perang dapat pecah kembali di Laut China Selatan. Hubungan dengan China telah menyentuh titik nadir baru beberapa waktu yang lalu, ketika negara komunis lebih besar itu memasang kilang minyak di perairan yang diklaim oleh kedua belah pihak.

Hal tersebut mendorong Vietnam ke arena internasional, membuatnya mengajukan petisi ke PBB untuk membantu menyelesaikan sengketa itu secara multilateral. McCornac mengatakan provokasi itu membantu mempercepat jangkauan Vietnam ke para sahabat negara asing.

Warga melintas di depan Bursa Saham Hanoi, Vietnam.

Warga melintas di depan Bursa Saham Hanoi, Vietnam.

Peningkatan Perdagangan

Banyak orang Vietnam khawatir ada terlalu banyak masalah dengan China. Vietnam telah menghadapi defisit perdagangan dengan China yang mencapai $17,8 miliar pada Agustus, menurut Kantor Statistik Umum. Jika konflik pecah di lautan, hal itu kemungkinan besar akan memukul bursa saham dan ekonomi.

Itulah sebabnya mengapa pemerintah mendorong pengusaha seperti Ky untuk berekspansi lebih jauh. Ky mengatakan ia mendapat manfaat jika Kemitraan Trans-Pasifik, perjanjian perdagangan 12 negara yang termasuk AS, ditandatangani.

Para ahli negosiasi ada di Hanoi untuk putaran pembicaraan terbaru, hanya beberapa hari setelah Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso mengunjungi Vietnam untuk mendorong kesepakatan perdagangan bebas dengan Uni Eropa.

"Dalam hal integrasi, Vietnam tidak pernah begitu terbuka sebelumnya," ujar Wakil Menteri Industri dan Perdagangan, Tran Tuan Anh.

"Fakta bahwa Vietnam secara proaktif mengorganisir integrasi ke dalam pasar-pasar seperti ini bukan hanya perlu, tapi sangat penting."

Musim panas ini, Vietnam telah mempromosikan hubungan yang lebih baik dengan beragam negara seperti India, Jepang, Skotlandia dan Sri Lanka. Tempat penting lainnya bagi Vietnam adalah ASEAN, yang merencanakan wilayah perdagangan bebas mulai 2015. Le Luong Minh, seorang diplomat Vietnam, adalah sekretaris jenderal ASEAN.

Pemain Global

Dengan memperkuat hubungan dengan begitu banyak pihak yang berbeda-beda, Vietnam tidak hanya memagari diri dengan China, namun juga membuat sarana untuk membuktikan diri.

Setelah puluhan tahun mengalami kerugian akibat perang dan keterpurukan ekonomi, Vietnam sekarang terlihat ingin menunjukkan bahwa ia bukan lagi korban yang bergantung pada bantuan pembangunan.

Negara itu ingin menjadi anggota yang berkontribusi dalam komunitas bangsa-bangsa beradab. Selain menunjukkan kepemimpinan dalam ASEAN, Vietnam meningkatkan keterlibatan dalam penjagaan perdamaian global, termasuk di Sudan Selatan.

Kepala staf militer gabungan AS, Jenderal Martin Dempsey, dan Kepala Staf Angkatan Darat Vietnam, Letjen Do Ba Ty, menginspeksi pasukan di Hanoi (14/8).

Kepala staf militer gabungan AS, Jenderal Martin Dempsey, dan Kepala Staf Angkatan Darat Vietnam, Letjen Do Ba Ty, menginspeksi pasukan di Hanoi (14/8).

Jenderal Martin Dempsey dari Amerika Serikat, kepala staf militer gabungan, mengatakan topik ini muncul saat bertemu para pejabat di Hanoi.

"Pemerintah Vietnam telah memutuskan untuk mulai mencari jalan-jalan untuk berpartisipasi dalam operasi-operasi penjagaan perdamaian, dan kami membahas bagaimana kami dapat membantu mereka melakukannya," ujar Dempsey bulan lalu di Ho Chi Minh City.

"Saya kira itu momen penting dalam pembangunan militer Vietnam karena hal itu mulai memberi mereka pandangan global yang saya kira sangat membantu dalam perkembangan mereka."

Bagi Vietnam, yang merupakan negara berpenduduk terpadat nomor 14 di dunia, ketertarikan dalam kerjasama global juga telah berkembang ke bantuan bencana alam dan kemanusiaan, perubahan iklim dan terorisme.

Lewis Stern, mantan direktur Asia Tenggara untuk Kantor Menteri Pertahanan, yakin bahwa hal ini merupakan "road map" yang disengaja untuk meningkatkan integrasi pada 2020.

Dalam esai yang ditulisnya untuk lembaga East-West Center pada 18 Mei, ia mengatakan bahwa strategi Vietnam termasuk konsultasi dengan analis Barat, dialog jujur dengan orang asing, dan pelatihan bagi perwira muda militer dan pejabat kebijakan luar negeri di negara lain.

"Para pejabat muda dan berpendidikan ini mewakili modal manusia untuk birokrat kebijakan luar negeri dan pertahanan/keamanan tingkat menengah, dengan bakat-bakat strategis dan kemampuan analitis yang handal," tulisnya. (VOA)

XS
SM
MD
LG