Tautan-tautan Akses

Vasektomi Terkendala Budaya Patriarki

  • Nurhadi Sucahyo

Bupati Kulonprogo, DIY, Hasto Wardoyo memberikan hadiah kambing kepada warga yang bersedia memakai metode KB vasektomi (Foto: VOA/Nurhadi)

Bupati Kulonprogo, DIY, Hasto Wardoyo memberikan hadiah kambing kepada warga yang bersedia memakai metode KB vasektomi (Foto: VOA/Nurhadi)

Upaya pengendalian kelahiran dengan metode vasektomi bagi pria terus dikampanyekan. Namun, masih terlalu kecil jumlah pria yang mau memakainya di Indonesia.

Hanya 0,09 persen dari 7,6 juta peserta program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia yang menggunakan metode vasektomi. Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ini menguatkan pesan, bahwa kaum pria di Indonesia belum mau ber-KB.

Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Paulo Ngadi Cahyono mengaku, budaya patriarti masih menjadi kendala besar.

Pemerintah kabupaten setempat dalam tiga tahun terakhir telah membuat terobosan, dengan memberikan seekor kambing untuk setiap pria yang mau divasektomi. Namun, meski mampu meningkatkan jumlah pria ber-KB, program kambing untuk vasektomi ini dirasa belum maksimal. ​

“Kambingnya, sampai sekarang ini, bulan ini, masing ada 37 ekor kambing sebenarnya, belum ada laki-laki yang mengakses kembali program itu. Karena tentu saja, dari tiga tahun program ini berjalan, tidak semua laki-laki satu perspektif mengenai vasektomi. Masih terlalu banyak laki-laki yang berpikir bahwa KB itu adalah urusan perempuan,” kata Paulo Ngadi Cahyono.

Paulo juga menggaris bawahi, yang diperlukan adalah penyadaran dan bukan sekedar memberi penghargaan seperti kambing. Dikhawatirkan, keputusan seseorang untuk vasektomi kemudian, lebih didasari oleh keinginan memperoleh kambing.

Yang lebih penting dari itu, kata Paulo, adalah penyadaran kaum pria bahwa urusan KB bukan hanya kewajiban perempuan.

“Kita harus mendalami, sebenarnya apakah seseorang bervasektomi itu hanya karena mengejar kambingnya, ataukah ini muncul sebagai salah satu perspektif kepedulian terhadap perempuan. Kalau alasannya hanya kambing, itu yang kami belum sepaham, tujuan vasektomi ini sebenarnya adalah kepedulian laki-laki terhadap perempuan,” jelas Paulo.

Kendala budaya ini juga diakui oleh motivator vasektomi nasional dari Sulawesi Utara, Ismail Husein. Ismail, yang memiliki lima anak, awalnya mau vasektomi karena istrinya tidak bisa memakai semua jenis kontrasepsi perempuan. Namun seiring waktu, tumbuh kesadaran pada dirinya mengenai manfaat vasektomi dan kemudian mengajak setiap pria yang dia temui untuk memakai metode KB jenis ini.

Dalam tujuh tahun terakhir, dia telah berbicara di depan ribuan pria se-Indonesia dan mengajak mereka menerima vasektomi. Namun, kata Ismail, latar belakang budaya secara umum di Indonesia masih menjadi kendala dan dia sendiri belum menemukan cara untuk mengatasinya.​

“Di kampung saya sendiri sudah mudah, karena saya sudah tidak perlu berkampanye, mereka datang sendiri. Tetapi ada daerah-daerah tertentu juga yang saya sulit, karena masalah budaya. Ada kendala budaya yang sangat kuat sekali, bahwa ketika ada laki-laki ber-KB itu maka ada mitos bahwa laki-laki itu ada masalah. Ada daerah yang budaya patriarkinya masih sangat kuat. Kita coba pelan-pelan berdiskusi dengan ibu-ibunya dulu, baru dengan bapak-bapaknya,” kata Ismail Husein.

Selain Kulonprogo, ada beberapa daerah di Indonesia yang memberikan penghargaan untuk pria yang mau memakai vasektomi, baik itu berupa uang maupun ternak. Ismail Husein sendiri meyakini, contoh dan edukasi menjadi faktor sangat penting dalam kampanye ini.

Ismail mengaku bisa mengajak banyak pria vasektomi, karena dirinya sendiri memakai metode ini dan tidak pernah lelah berkeliling melakukan upaya penyadaran.

XS
SM
MD
LG