Tautan-tautan Akses

Utang Mahasiswa Amerika Sampai 1 Triliun Dolar


Para mahasiswa bersorak saat Presiden Obama berpidato mengenai naiknya pinjaman untuk mahasiswa di Universitas Colorado (24/4).

Para mahasiswa bersorak saat Presiden Obama berpidato mengenai naiknya pinjaman untuk mahasiswa di Universitas Colorado (24/4).

Utang mahasiswa Amerika mencapai rekor tertinggi satu triliun dolar hari Rabu, 25 April 2012.

Utang mahasiswa Amerika mencapai rekor tertinggi satu triliun dolar hari Rabu, 25 April 2012. Demonstrasi akan diadakan di kampus-kampus di seluruh Amerika untuk menandai apa yang disebut para mahasiswa “Hari Satu Triliun Dolar” (1TDay) dan untuk menarik perhatian atas pengaruh keuangan sosial dan jangka panjang pada para mahasiswa dan keluarga mereka.

Dengan tingkat pengangguran di atas delapan persen, para mahasiswa yang diwisuda meninggalkan kenyamanan kehidupan kampus dan dihadapkan pada ketidakpastian masa depan mereka.

“Rasanya gembira campur sedih. Menggelisahkan, karena harus meninggalkan kenyamanan bersekolah di sini dan semua teman dalam empat tahun ini dan harus menghadapi dunia nyata,” demikian ungkap Kate Duffi, mahasiswa jurusan tari dan drama di Universitas Amerika yang akan diwisuda kurang dari sebulan lagi. Kate Duffy mengatakan ia berencana tetap tinggal di Washington setelah lulus, dan berharap mendapat pekerjaan yang disukainya.

Teman Duffi, Angela Miller, juga akan diwisuda. Keduanya berharap bisa berkarir di dunia musik dan drama. Namun, prioritas pertama mereka adalah mencari pekerjaan apa saja. Mereka membayar uang kuliah dengan uang pinjaman untuk belajar di salah satu universitas termahal di Amerika. Setelah lulus jumlah hutang masing-masing hampir 200.000 dolar.

“Pikiran gila karena saya tidak sepenuhnya mengerti apa artinya itu. Saya tidak akan mengerti sampai saya mendapatkan beberapa tagihan pertama,” ujar Miller.

Fakultas bisnis universitas itu mengadakan simulasi wawancara melamar pekerjaan dan acara-acara membentuk jaringan kerja bagi para mahasiswanya, untuk membantu mereka mempertajam keterampilan mencari kerja.

Tetapi Wakil Dekan fakultas itu, Lawrence Ward, mengatakan program S-1 tidak hanya dirancang untuk membuat mahasiswa bisa segera mendapatkan pekerjaan.

“Saya berupaya mempersiapkan mahasiswa kami bisa bekerja untuk jangka waktu lama. Jadi ini merupakan investasi yang mungkin tidak akan menghasilkan sebuah pekerjaaan begitu seorang mahasiswa selesai diwisuda. Tetapi mereka akan dipersiapkan dengan keterampilan yang tepat, supaya terbiasa dengan bekerja untuk waktu lama,” papar Ward.

Mahasiswa jurusan bisnis Alexandra Golomb sependapat dengan pandangan itu.

“Dalam pandangan saya, salah satu nilai saya adalah pendidikan dan saya tidak melihat pendidikan saya secara langsung terkait dengan suatu pekerjaan. Pengalaman saya di Universitas Amerika lebih dari sekadar mendapatkan pekerjaan,” tutur Golomb.

Di lain sisi, Paul Oehler, direktur program teknologi audio universitas itu, punya pendekatan berbeda. Ia ingin semua lulusan bisa bekerja.“Saya berusaha mencarikan pekerjaan untuk semua lulusan kami dan saya tidak akan berhenti sampai mereka mendapat pekerjaaan. Mereka membayar banyak untuk kuliah di sini dan saya merasa sebagian tanggung jawab saya adalah memastikanmereka berada di jalur pekerjaan yang baik,” kata Paul Oehler.
XS
SM
MD
LG