Tautan-tautan Akses

Usulan Perubahan Peraturan Kepemilikan Senjata di Maine Jadi Isu Pribadi


Maine's Gun Control Initiative a Deeply Personal Issue
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:04 0:00

Pertanyaan dalam pemungutan suara sering merupakan keputusan paling pribadi yang harus dibuat oleh para pemilih Amerika pada bulan November karena pertanyaan mengenai kebijakan lokal memberikan kesempatan bagi warga untuk mengubah suatu undang-undang atau peraturan daerah.

Setelah terjadinya penembakan massal di San Bernardino dan Orlando, undang-undang tentang kepemilikan senjata api diperdebatkan di berbagai negara bagian di Amerika.

Pertanyaan dalam pemungutan suara sering merupakan keputusan paling pribadi yang harus dibuat oleh para pemilih Amerika pada bulan November karena pertanyaan mengenai kebijakan lokal memberikan kesempatan bagi warga untuk mengubah suatu undang-undang atau peraturan daerah.

Kasus ini terjadi di negara bagian Maine, di mana perbedaan pendapat dalam musim pemilihan kali ini tentang perlu tidaknya pengecekan latar belakang pembeli senjata api telah mengakibatkan perbedaan pendapat yang tajam antara orang tua yang anak perempuannya menjadi korban penembakan dengan para pemilik senjata yang merasa cara hidup mereka sedang dirongrong.

“Kami mengenang waktu-waktu yang indah, yang kami rindukan. Semuanya telah sirna,” kata Wayne Richardson.

Demikian ujar Wayne Richardson. Hingga kini telah enam tahun sejak anak perempuannya dibunuh di apartemen mereka di kota Portland, Maine, tapi rasa pilu itu terus hadir dalam hati Wayne Richardson dan istrinya Judi.

“Kasus ini belum terbongkar, sebagian karena tidak ada pengecekan latar belakang mengenai pembeli senjata api,” kata Judi Richardson.

Selain itu tidak ada cara untuk melacak asal usul senjata yang dijual secara pribadi dan digunakan untuk membunuh anak mereka.

“Itulah celah yang kami coba tutup,” imbuhnya.

Keluarga Richardson dan keluarga-keluarga lain yang ikut mensponsori pemungutan suara tentang kepemilikan senjata api itu mengatakan mereka harus bergerak.

“Para politisi dan pemerintah kami telah gagal bertindak atas masalah ini dan memang ada prakarsa warga ini di Maine. Jadi kami akan mengajukannya kepada masyarakat agar mereka ikut menentukan keputusan dalam pemungutan suara nanti,” kata Judi Richardson.

Kampanye untuk peraturan daerah yang dikenal sebagai “Pertanyaan 3” itu telah mengundang kritik karena mendapat sumbangan dana dari Michael Bloomberg, mantan walikota New York dan pendukung kontrol kepemilikan senjata api.

Setelah terjadinya penembakan massal di San Bernardino dan Orlando, undang-undang tentang kepemilikan senjata api diperdebatkan di berbagai negara bagian di Amerika. Tapi, di negara bagian Maine, di mana klub berburu dan menembak seakan telah menjadi bagian hidup warga setempat, pertanyaan mengenai pengecekan latar belakang pembeli senjata api dipandang oleh banyak orang sebagai ancaman.

Kampanye untuk Perda yang dikenal sebagai “Question 3” (“Pertanyaan 3”) itu berusaha meyakinkan para pemburu seperti Hank Snowman.

“Sepanjang mengenai penjualan dalam acara-acara pameran senjata api, menurut saya pengecekan latar belakang pembeli adalah chal yang baik dan perlu dilakukan. Saya tidak punya masalah dengan itu,” kata Hank Snowman.

Namun, bagian-bagian lain usulan peraturan daerah itu membuatnya berfikir, termasuk satu bagian yang akan melarang pinjam meminjam senjata api di antara kawan dan sebagian anggota keluarga, yang merupakan hal yang lazim dilakukan oleh warga. Usulan larangan demikian dipandang sebagai langkah terlalu jauh. [lt/ab]

XS
SM
MD
LG