Tautan-tautan Akses

Upaya Penyelamatan Perkebunan Salak di Lereng Merapi

  • Munarsih Sahana

Petani di desa Jeruk Agung, kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang Jawa Tengah melakukan pemangkasan pohon salak (Nglumut).

Petani di desa Jeruk Agung, kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang Jawa Tengah melakukan pemangkasan pohon salak (Nglumut).

Letusan Merapi mengakibatkan sekitar 70-80 persen tanaman salak di Magelang dan Sleman mengalami kerusakan akibat tertutup debu.

Sebagian besar petani di lereng Gunung Merapi menggantungkan hidupnya dari hasil kebun salak. Di wilayah Sleman salak ini dikenal dengan Salak Pondoh dan di Magelang dikenal dengan Salak Nglumut. Salak-salak itu selama ini diekspor ke Malaysia, Singapura dan Tiongkok.

Letusan Merapi belum lama ini mengakibatkan sekitar 80 persen dari dua-ribuan hektar kebun salak di Magelang, Jawa Tengah roboh dan rusak. Di Sleman Yogyakarta data sementara menunjukkan 70 persen dari total tanaman salak atau 1.400 hektar yang terdiri dari 2,8 juta rumpun pohon salak rusak akibat tertutup debu vulkanik Merapi. Kerugian sedikitnya mencapai 1,7 milyar rupiah.

Bupati Magelang Singgih Sanyoto melaporkan kepada Gubernur Jawa Tengah, para petani salak di wilayahnya perlu bantuan untuk memulihkan tanaman salak dengan membersihkannya dari debu vulkanik dan memangkas bagian tanaman yang rusak. Jika penyelamatan ini dilakukan segera setelah satu bulan terkena dampak letusan Merapi, tanaman salak diharapkan bisa berbuah lagi dalam satu atau dua tahun, dan pohon bisa bertahan hingga 12 tahun kedepan.

“Sesuai data terakhir, sekitar dua-ribuan lebih hektar dengan populasi tanaman lebih dari tujuh-setengah juta pohon. Untuk kecamatan Srumbung, kepemilikan salak Nglumut mencapai seribu enam ratus limabelas hektar yang dimiliki oleh sembilan-ribu tujuh-ratus duapuluh-tiga Kepala Keluarga (KK) atau rata-rata kurang dari 0,2 Hektar per-KK,” kata Singgih Sanyoto.

Ibu Sutiyem warga dusun Kresan Jeruk Agung Srumbung Magelang yang memiliki kebun berisi 3.000 pohon salak mengaku harus bekerja keras untuk memulihkan pohon-pohon salak miliknya.

Salak Pondoh Sleman, yang dijual di pasar Kranggan Yogyakarta. Tampak abu vulkanik masih melekat pada kulit salak.

Salak Pondoh Sleman, yang dijual di pasar Kranggan Yogyakarta. Tampak abu vulkanik masih melekat pada kulit salak.

“Gimana ya, ya harus ulang kerja lagi, dipotong dulu, baru ditanam lagi. Suruh tanam sayur-sayuran dulu,” kata Sutiyem.

Mulai akhir pekan lalu pemerintah, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membantu menyelamatkan tanaman salak di Magelang dan Sleman melalui program padat karya yang melibatkan para petani dengan upah minimal 30.000 rupiah per-hari per-orang.

“Paling tidak petani salaknya tertolong, karena mereka bisa diperbaiki, kemudian juga mereka mendapat uang setiap hari. Karena kita bayarkan setiap hari. Diharapkan, diantara hari itu pun mereka masih tetap juga bisa menjalankan kegiatan sehari-hari misalnya membersihkan rumah sendiri atau menengok kebun sayurnya, jam kerjanya relative singkat, enam atau delapan jam,” ungkap Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Sutrisno.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Slamet Riyadi Martoyo berharap, padat karya penyelamatan pohon salak pondoh akan mempertahankan kejayaan salak pondoh.

“Nanti kita akan melakukan gerakan pemangkasan (pohon salak pondoh) itu bersama-sama mereka (para petani salak), kira-kira kita kerahkan 250 orang bersama-sama kami. Yang ini kami anggap merupakan peng-awal-an untuk kita bangkit mengembalikan keragaan dari salak Sleman itu agar segera bisa trubus (tumbuh) kembali,” kata Slamet Riyadi Martoyo.

Bulan November hingga Februari biasanya merupakan saat panen raya salak pondoh Sleman.

XS
SM
MD
LG