Tautan-tautan Akses

Universitas Online Gratis Hidupkan Kembali Mimpi Banyak Orang


Emmanuel yang berasal dari Meksiko, bermimpi kuliah di Amerika. Namun kenyataan tidak seindah mimpinya.

“Pertama, saya harus belajar bahasa Inggris dan menyadari bahwa hanya ada sedikit kesempatan bagi saya untuk mengecap pendidikan formal di Amerika," ujarnya.

Ini terjadi karena ia tidak mempunyai surat-surat resmi. Emmanuel, yang tidak mau menyebutkan nama lengkapnya dalam wawancara ini, mengatakan ia tidak mampu membayar biaya kuliah.

”Ketika saya menyadari bahwa saya tidak bisa mendapatkan bantuan, baik beasiswa maupun bantuan keuangan di Amerika, saya kemudian menutup diri," ujarnya.

Lalu Emmanuel membaca tentang University of the People, sebuah universitas online yang bebas biaya yang kedengarannya seperti mimpi. Karena tidak ada pilihan lain, ia mendaftar dan yakin bahwa universitas ini akan memberikannya masa depan di bidang ilmu komputer.

Universitas tersebut menggunakan bahan pelajaran yang bisa ditemukan online dengan gratis, dan gurunya mengajar secara sukarela.

“Kami membuat universitas ini sebagai contoh untuk menunjukkan pada pemerintah bahwa masalah yang dihadapi di bidang pendidikan tinggi bisa diatasi," kata Shai Reshef, presiden University of the People. "Semua orang bisa mengenyam pendidikan tinggi, pendidikan tinggi bisa murah, bisa berkualitas tinggi.”

Beberapa biaya tetap dibutuhkan

University of the People saat ini hanya menawarkan gelar ilmu komputer dan administrasi niaga. Walaupun tidak ada iuran, siswa harus membayar biaya pendaftaran $50 dan $100 untuk ujian akhir. Bantuan keuangan juga tersedia.

Siswa diharuskan bisa berbahasa Inggris, sudah selesai SMA dan usianya di atas 18 tahun.

“Kami menawarkan alternatif dan mereka menyambar kesempatan ini dan berusaha sekuat tenaga agar berhasil," kata Reshef.

Para pengungsi dan imigran yang tidak mempunyai dokumen resmi juga menjadi siswa universitas ini. Untuk membantu mereka, universitas bermitra dengan institusi-institusi akademis seperti Yale University dan perusahaan-perusahaan seperti Microsoft dan Hewlett-Packard. Beberapa di antaranya menawarkan bantuan keuangan dan bahkan kesempatan magang bagi para siswa.

Emmanuel mengatakan walaupun ia kadang-kadang rindu berinteraksi dengan teman-teman di kelas, ia senang belajar dengan siswa lain dari berbagai negara.

“Berkat perspektif global ini, saya menyadari bahwa saya tidak harus tinggal di satu negara saja," ujarnya.

Lebih dari 2.500 siswa telah terdaftar. Universitas angka itu bertambah dua kali lipat tahun depan. [dw]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG