Tautan-tautan Akses

Universitas Melatih Siswa untuk Berjuang bagi Orang Tuna Rungu di Seluruh Dunia


Rue Winiarzyk bekerja bersama seorang penerjemah bagi tuna rungu di Argentina. (Courtesy Rue Winiarczyk)

Rue Winiarzyk bekerja bersama seorang penerjemah bagi tuna rungu di Argentina. (Courtesy Rue Winiarczyk)

Gallaudet University di Washington, D.C., adalah satu-satunya universitas yang khusus fokus pada pendidikan tuna rungu, yang membantu mempersiapkan siswa untuk menyertakan orang-orang difabel di lingkungan pekerjaan dan sekolah.

Ada sekitar 360 juta orang tuna rungu di seluruh dunia.

Rue Winiarczyk adalah salah satu di antara mereka. Besar di Kanada, ia bersekolah di sekolah untuk siswa tuna rungu, menikmati keuntungan tinggal di masyarakat yang terbiasa untuk memenuhi kebutuhan warganegaranya yang difabel. Namun, ia kemudian menyadari bahwa orang tuna rungu di seluruh dunia tidak mengalami apa yang dialaminya.

Winiarczyk berusia 20 tahun ketika ia pergi ke Panama di mana ia mengharapkan akan mengalami gegar budaya, dan bukan kurangnya layanan bagi para tuna rungu yang biasanya ia anggap enteng.

"Saya bertemu dengan beberapa orang di Panama," kata Winiarczyk, yang kini tinggal di Amerika Serikat. "Di komunitas tuna rungu, layanan juru bahasa sangat langka...kesempatan yang kita miliki di AS, belum tentu dimiliki oleh negara lain.”

Rue Winiarzyk di Gallaudet di Washington, D.C., satu-satunya universitas yang khusus fokus pada pendidikan tuna rungu. (Courtesy Rue Winiarczyk)

Rue Winiarzyk di Gallaudet di Washington, D.C., satu-satunya universitas yang khusus fokus pada pendidikan tuna rungu. (Courtesy Rue Winiarczyk)

Ia juga menemukan banyak komunitas tuna rungu di Panama yang tidak bisa mendapatkan hak-hak dasar mereka. Mereka yakin bahwa difabel adalah semacam hukuman kosmik dan mereka menerima menjadi kaum marginal di masyarakat.

Perjalanan tersebut, yang dilakukan pada tahun 2000, membentuk masa depan Winiarczyk. Setelah itu, ia mendaftar ke Gallaudet University di Washington, D.C., satu-satunya universitas yang khusus fokus pada pendidikan tuna rungu, di mana ia mendaftar untuk program International Development.

“Ini untuk mempersiapkan orang-orang untuk pergi keluar negeri dan belajar untuk menyertakan orang-orang difabel di lingkungan pekerjaan dan sekolah," kata Amy Wilson, professor yang mengkoordinasi program tersebut. "Sama halnya dengan orang tuna rungu, bagaimana Anda bisa membantu mereka memahami bahasa mereka dengan lebih baik.”

Para siswa mengambil kelas selama dua tahun dan kemudian dua semester melakukan magang, "dengan lembaga bantuan pilihan mereka di D.C., lalu di luar negeri,” kata Wilson.

Winiarczyk pergi ke Kuala Lumpur untuk bekerja dengan Federasi Tuna Rungu Malaysia.

“Saya melakukan uji kebutuhan yang memprioritaskan kebutuhan komunitas tuna rungu," ujarnya. "Aksesibilitas adalah salah satu perhatian utama. Sebagai contohnya kebutuhan akan aksesibilitas untuk layanan penerjemahan. Ada sekitar 80 penerjemah di Malaysia pada saat itu, jadi, pelatihan formal (lebih disukai di tingkat akademi atau universitas) dibutuhkan untuk melatih penerjemah dan memastikan tingkat layanan yang pantas tersedia untuk orang tuna rungu.”

Sejak magang di sana pada tahun 2010, Winiarczyk mengatakan layanan tuna rungu telah meningkat.

“Saya masih berhubungan dengan beberapa orang di Malaysia melalui Facebook, yang bekerja untuk advokasi dan undang-undang," ujarnya. “Saya dulu menggunakan metode campuran inklusif untuk mengadakan uji kebutuhan di Malaysia. Hal ini memungkinkan saya untuk menyertakan komunitas tuna rungu dalam proses riset sehingga mereka bisa bergabung dalam diskusi melalui focus group dan memprioritaskan kebutuhan mereka. Seringkali, grup marginal tidak disertakan dalam proses riset yang artinya suara mereka tidak diikutkan dalam proses riset dan mereka mungkin tidak bisa menjadi agen perubahan sosial atau advokasi untuk mereka sendiri.”

Winiarczyk sekarang bekerja untuk kantor International Affairs di Gallaudet.

“Saya pernah ke Chile, Argentina dan Vietnam untuk melakukan berbagai proyek yang terkait dengan software pendidikan. Contohnya, kami mengevaluasi software pendidikan yang dikembangkan oleh Technology Development Center of Inclusion di Pontifical Catholic University of Chile. Setelah partisipasi kami di proyet ini, komunitas tuna rungu Chile kemudian disertakan dalam proses untuk memperbaiki software tersebut.”

Winiarczyk menjadi contoh perubahan positif yang bisa dibawa oleh lulusan program ini bagi komunitas tuna rungu di seluruh dunia, kata Wilson.

“Kami punya satu siswa yang lulus beberapa tahun lalu. Ia berasal dari Jamaica. Ia frustasi dengan kurangnya layanan dan hak-hak orang tuna rungu di Jamaica," ujarnya. "Ketika ia di sini, orang tuna rungu (di Jamaica) tidak bisa menyetir. Sekarang ia bekerja untuk sebuah proyek dengan Jamaican Deaf Federation dan mereka sekarang punya SIM."

Ia mengatakan satu siswa lain yang lulus dan kembali ke China, mengajar siswa China tentang bagaimana mereka bisa diberdayakan melalui bahasa mereka dan melalui seni.

Mantan siswa lainnya, sekarang presiden Asosiasi Tuna Rungu Kenya, berjuang untuk menjadikan bahasa sinyal Kenya sebagai bahasa resmi ketiga setelah Swahili dan English di konstitusi.

Sejak program International Development di Gallaudet mulai pada tahun 2008, lulusan sekolah tersebut, dan 30 lainnya, bekerja untuk meningkatkan kesadaran dan layanan bagi komunitas tuna rungu dan difabel di seluruh dunia.

XS
SM
MD
LG